Harga Emas 'Rebound', Konflik Timur Tengah Mereda Tekan Dolar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia naik lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (4/6/2026) setelah harga minyak melemah menyusul meningkatnya optimisme terhadap potensi meredanya konflik di Timur Tengah. Sentimen tersebut menekan dolar AS dan mendorong penurunan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS), sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai.
Harga emas spot naik 0,8% menjadi US$ 4.466,89 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus menguat 0,9% menjadi US$ 4.508,00 per ons.
Baca Juga
Harga Emas Melemah 1% Saat Ketegangan Iran-AS Memanas, Investor Waspadai Suku Bunga
Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan laporan mengenai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon telah memberikan tekanan terhadap dolar AS dan imbal hasil obligasi. Kondisi tersebut membantu harga emas bertahan di atas rata-rata pergerakan 200 hari yang selama ini menjadi level teknikal penting bagi pasar.
Israel dan Lebanon pada Rabu (3/6/2026) malam menyatakan telah menyepakati penerapan gencatan senjata. Perkembangan ini meningkatkan harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan yang lebih luas antara Washington dan Teheran.
Optimisme tersebut langsung memengaruhi pasar energi. Harga minyak turun lebih 3% setelah muncul harapan bahwa Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi global, dapat kembali beroperasi secara normal apabila ketegangan kawasan terus mereda.
Sementara dolar AS melemah 0,3%. Pelemahan mata uang AS membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Kondisi itu meningkatkan permintaan terhadap logam mulia.
Selain itu, turunnya imbal hasil obligasi Pemerintah AS, termasuk obligasi tenor 10 tahun, turut memperkuat daya tarik emas. Berbeda dengan obligasi, emas tidak memberikan imbal hasil sehingga biasanya lebih diminati ketika tingkat pengembalian instrumen pendapatan tetap menurun.
“Harga emas yang mencapai rekor tertinggi tahun ini tampaknya semakin tidak mungkin terjadi kecuali kita mendapatkan gencatan senjata bersih dan langgeng dengan Iran yang membuka Selat Hormuz, sehingga memungkinkan harga energi turun dan pasar berhenti mengkhawatirkan potensi kenaikan harga,” kata Wong.
Harga emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 5.594,82 per ons pada 29 Januari. Namun sejak konflik Iran memanas pada akhir Februari, harga emas telah terkoreksi sekitar 16%.
Pelaku pasar juga mempertimbangkan prospek kebijakan moneter AS. Suku bunga yang tetap tinggi cenderung menjadi beban bagi emas karena logam mulia tersebut tidak menawarkan pendapatan bunga seperti obligasi atau instrumen keuangan lainnya.
Fokus investor kini beralih ke laporan ketenagakerjaan AS untuk Mei yang akan dirilis pada Jumat (5/6/2026). Data tersebut penting untuk mengukur kesehatan pasar tenaga kerja sekaligus memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada beberapa bulan mendatang.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Bertahan di Rp 2,774 Juta, Investor Menunggu Data AS
Jika pasar tenaga kerja menunjukkan perlambatan, peluang pelonggaran kebijakan moneter dapat meningkat dan berpotensi menjadi sentimen positif bagi harga emas.
Sementara itu, logam mulia lainnya juga mencatat penguatan. Harga perak spot naik 1,1% menjadi US$ 73,52 per ons. Platinum menguat 1% menjadi US$ 1.877,66 per ons, sedangkan paladium bertambah 0,9% menjadi US$ 1.313,50 per ons.

