Rammang-Rammang yang Menolak Punah
Poin Penting
|
MAKASSAR, investortrust.id - Sungai Puteh yang tenang menjadi satu-satunya akses menuju Kampung Berua, Dusun Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sepanjang perjalanan dengan kapal bermesin 10 PK, pepohonan nipah mengapit sungai.
Rusli, pengemudi kapal, dengan tenang mengatur kemudi. Sesekali melaju, tak jarang melambat. Puncak pegunungan karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan tersingkap. Bentangnya menutupi cahaya matahari yang bersinar terik.
Rusli menyebut gunung tersebut menghadirkan atraksi kelelawar. Mereka berterbangan keluar dari sarangnya. “Ribuan jumlahnya,” kata Rusli.
Baca Juga
PLTS 100 GW Dinilai Ambisius, Akademisi UI Usul Fokus 10 GW Lebih Dulu
Di hilir Sungai Puteh, kapal bersandar. Bangunan dermaga kayu jadi pintu gerbang ke Kampung Berua dengan bentangan sawah dikelilingi pegunungan karst. Tak sampai 100 meter, sebuah bangunan musala berdiri. Bangunan itu menjadi jejak masuknya Bank Indonesia (BI) dalam pemberdayaan di kampung tersebut.
Karyawan BI Makassar, Makmur Jaya menceritakan awal mula “membuka” jalur tersebut. Survei kegiatan lintas alam membawanya ke titik itu. Tak ada listrik dan aspal. “Aksesnya hanya sungai dan perahu,” kata Kimung.
Melihat kondisi warga Kampung Berau yang sulit menjangkau musala, Kimung dan karyawan BI menginisiasi pembangunan Musala Baitul Ihsan. Dari pembangunan musala ini, Kimung menginisiasi pembentukan kelompok sadar wisata atau pokdarwis pada 2015. “BI tidak hanya ingin masyarakat hanya sebagai penonton dan pekerja,” ujar dia.
Aksi pemberdayaan segera dilakukan. Warga diberikan sejumlah pelatihan mulai peningkatan kemampuan berbahasa Inggris hingga kesadaran lingkungan. Jejaring dibuka. Mulai dikenallah Kampung Karst Rammang-Rammang ke penjuru dunia. Menyamakan tempat wisata ini dengan susur delta Sungai Mekong, di Ninh Binh, Vietnam.
Awalnya Perlawanan
Kawasan karst Maros-Pangkep bukan sekadar deretan perbukitan yang cadas dengan sungai, air terjun, atau pemandangan menarik lainnya. Kawasan ini juga menyimpan laboratorium alam. Rekam jejak prasejarah juga tersimpan di kawasan ini.
Balai Arkeologi Makassar menemukan lukisan tangan purba berusia 40.000 tahun di Leang-Leang. Lukisan tersebut menggunakan teknik sederhana, yakni manusia purba meniupkan pewarna alami ke tangan yang kemudian diletakkan ke dinding gua. Terdapat pula gambar babi rusa.
Penelitian yang dibuat Slamet Nuhung, penyelidik bumi madya Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (DESM), menyebut kawasan karst ini juga banyak ditemukan mata air permanen yang berhubungan erat dengan keberadaan sungai-sungai bawah tanah. Dengan kata lain, batu gamping penyusun karst Maros-Pangkep merupakan daerah resapan air dan reservoir air tanah yang baik. Lapisan akifer mampu menyimpan air selama tiga hingga empat bulan.
“Komponen-komponen bentukan-bentukan karst yang fenomenal ini merupakan sumber daya alam yang tidak terbarukan (non-renewable resource)... Dengan kata lain, setiap kerusakan yang terjadi pada permukaan atau tubuh karst bersifat permanen dan tidak dapat direhabilitasi lagi,” tulis Slamet dalam penelitian berjudul, Karst Maros Pangkep Menuju Geopark Dunia.
Namun, upaya mendapatkan keuntungan dari menambang karst menawarkan godaan. Karst dikenal menjadi material untuk semen hingga marmer. Aktivitas yang Muhammad Ikhwan tolak mentah-mentah.
Ikhwan berambut gondrong. Murah senyum. Warga kampung biasa memanggilnya Iwan Dento. Namanya akan banyak muncul di mesin pencari. Pria asli Rammang-Rammang ini menjadi nominator Kalpataru 2020 dan peraih Kick Andy Award.
Iwan mengatakan meroketnya nama Kampung Remang-Remmang sejatinya bukan karena alamnya semata. Jauh sebelum dikenal karena alamnya, pada 2009, penolakan warga Rammang-Rammang terhadap penambangan karst menasional. Selama 6 tahun, warga kampung tersebut menolak rencana penambangan oleh tiga perusahaan karst asing.
“Untuk marmer,” ujar dia.
Meski menolak perusahaan tambang, sikap Iwan berbeda kala menghadapi penambang rakyat. Iwan mengaku tak pernah sekalipun menegur para penambang rakyat. Dia tahu alasan warga menambang hanya untuk memenuhi kebutuhan dapur mereka.
Berbekal pemahaman itu, Iwan memberikan alternatif ekonomi bagi para penambang rakyat. Salah satunya dengan pariwisata. Warga yang menambang karst diajak menjadi pengemudi kapal bagi wisatawan.
Gambarannya, penghasilan per orang sebagai juru kemudi kapal mencapai Rp 200.000 per satu perjalanan. Sementara itu, penghasilan untuk kuli tambang karst hanya sekitar Rp 40.000an per orang.
“Yang saya berikan adalah alternatif ekonomi yang lebih ringan dan lebih banyak. Mereka pindah sendiri kok,” kata dia dengan senyum.
200 kepala keluarga (KK) merasakan dampak perekonomian alternatif yang digagasnya. Tak berhenti di situ, perekonomian di Rammang-Rammang juga memberi efek bagi warga di luar dusun. Wisata alam dusun tersebut mencapai sekitar 51.000 orang dalam setahun pada 2025. Iwan memproyeksikan terjadi perputaran uang sekitar Rp 11 miliar.
Baca Juga
Danantara Seleksi Ketat SDM PT DSI, Donny Oksaria: Nama-Nama Baru Segera Diumumkan
Angka ini dihasilkan dari proses kegiatan pariwisata warga. Iwan menyontohkan, tarif penggunaan kapal oleh wisatawan mencapai Rp 300.000 per perjalanan. Pemilik kapal hanya mengeluarkan retribusi untuk dermaga sebesar Rp 20.000. Retribusi ini masuk sebagai penghasilan asli desa atau PAD. Sisanya, Rp 280.000 dapat digunakan juru kemudi untuk memenuhi kebutuhan dapurnya.
“Mau jadi popok, mau jadi mi, mau jadi ikan, mau jadi sayur, itu terserah mereka. Itu yang kami sebut perputaran uang,” ujar dia.
Dengan menjaga alam, tantangan terhadap penurunan wisatawan tak jadi soal. Iwan mengatakan ketika pandemi Covid-19 tiba, warga tak terdampak sama sekali. Meski terjadi penurunan jumlah wisatawan, warga Rammang-Rammang tetap dapat makan.
“Karena kami tetap punya ikan dari sungai, kami tetap punya beras, dan sebagainya. Terus di mana pengaruhnya? Gaya hidup barunya,” ujar dia.
Menggunakan Dolar AS?
Iwan mengatakan wisata Kampung Rammang-Rammang telah mendunia. Bahkan, 75% dari total wisatawan yang berlibur ke kampung itu adalah wisatawan mancanegara. Bagi wisatawan asing, Rammang-Rammang menyimpan keindahannya tersendiri.
Salah satu wisatawan mancanegara asal Belgia, Murielle mengatakan tak dapat mengungkapkan keindahan kampung yang dia kunjungi. “Saya nggak bisa mengungkap apa yang kita lihat dengan kata-kata,” kata Murielle.
Murielle mengatakan menjalani liburan selama sepekan di Pulau Sulawesi. Rammang-Rammang menjadi salah satu destinasi yang disarankan oleh kawannya. Sebab, sebagian besar wisatawan asal Eropa hanya mengunjungi Pulau Jawa dan Bali.
“Menjadi penting untuk melihat pulau lain selain Bali dan Jawa,” ujar dia.
Iwan mengakui, pasar wisatawan domestik bukan target pasar yang mereka incar. Alasannya, Kampung Karst Rammang-Rammang didesain untuk wisata alam dan edukasi. Kondisi alam inilah yang terus dipertahankannya. Untuk itulah ide-ide healing forestry dibuat.
Baca Juga
Menkeu Janjikan Eksportir yang Simpan DHE SDA di Bank Himbara Dapat Insentif Pajak hingga 0%
“Mereka bisa lihat burung, lalu menikmati itu dengan konsep berkemah,” kata dia.
Baru-baru ini, Iwan juga mendapatkan ide untuk wisata kunang-kunang. Serangga bernama latin, Photuris lucicrescens tersebut terdapat di salah satu gua. Selain itu, ada paket wisata berperahu saat bulan purnama.
Dengan banyaknya paket dan wisatawan mancanegara yang hadir, Iwan menyebut warga kampung banyak yang menyimpan dolar AS. Tetapi, banyak juga wisatawan yang membayar dengan rupiah.
“Rata-rata tidak kembali karena biasanya dikonversi kan? Terus biasanya kalau bule memang kalau pelayanan kita bagus, biasanya mereka tidak terlalu rewel soal itu,” ujar dia.
Menolak Punah
Kampung Karst Rammang-Rammang punya tagline Land of Tomorrow. Iwan menjelaskan bahwa slogan itu dibuat sebagai bahasa perlawanan. “Kami pernah menolak punah. Ya, itu mungkin bahasa perlawanan yang paling halus,” kata Iwan tersenyum.
Perlawanan ini berjalan seperti daun nipah, halus tapi tajam. Setiap godaan investor untuk masuk dan mengubah kepemilikan atas lahan, Iwan dan anggotanya bergerak. Iwan menyebut masalah lahan persoalan yang harus dicarikan solusi.
“Yang setengah mati di kami itu misalnya ada warga yang tiba-tiba butuh uang, terus membeli lahan. Biasanya itu akan menjadi diskusi yang hangat di internal kami,” ujar dia
Kelompok wisata yang dibangun akan mengeksekusi lahan tersebut. Bahkan, baru-baru ini, kelompok Iwan patungan untuk mengeksekusi lahan yang ada.
Ke depan, Iwan berharap pemerintah Presiden Prabowo Subianto melahirkan regulasi yang dapat menjaga ekosistem karst. Sebab, Indonesia belum memiliki undang-undang yang spesifik bicara soal karst.
“Selama ini kan kita pakai permen (peraturan menteri), yang saya pikir kekuatannya sangat lemah,” kata dia.
Mengetahui fungsi peraturan menteri yang tidak kuat, Iwan dan kelompoknya mendorong peraturan daerah kawasan esensial karst. Selain itu, dia juga mendorong Kampung Rammang-Rammang masuk dalam kawasan geopark dan perhutanan sosial.
“Skema-skema itu yang kami lakukan. Agar berlapis karena kami tahu betul bahwa ini komoditas besar,” ujar dia.
Dengan ancaman kegiatan ekstraktif yang kian besar, Iwan dan kelompoknya terus berjuang. Upaya menjaga alam terus dilakukan, demi hidup yang kayak dan menjaga eksistensi. Tidak hanya kaya raya.
“Kalau kesempatan jadi kaya raya itu mau diambil, maka saya sudah ambil. Tapi, kan bukan soal itu. Kita menghindari kutukan generasi. Kutukan generasi itu harus menjadi pemahaman bersama banyak komunikasi masyarakat,” jelas dia.

