James Riady: SDM Penentu Nasib Bangsa di Era AI
Poin Penting
|
Oleh: Primus Dorimulu
PARIS, Investortrust.id — Pengembangan sumber daya manusia (SDM) kini bukan lagi sekadar agenda sosial, melainkan telah menjadi strategi ekonomi yang menentukan masa depan sebuah negara. Pesan itu disampaikan Wakil Ketua Umum Koordinator Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, sekaligus Chairman Lippo Group, Dr. James Riady, dalam sesi Human Capital Development pada Indonesia–France CEO Forum 2026 dan peluncuran France–Indonesia High-Level Business Council (FI-HLBC) di Hotel de Marigny, Kompleks Palais de l’Élysée, Paris, Prancis, Kamis (28/05/2026).
Dalam forum bisnis tingkat tinggi yang mempertemukan para pemimpin industri Indonesia dan Prancis tersebut, James menegaskan bahwa dunia sedang memasuki periode disrupsi luar biasa yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), otomatisasi, penuaan populasi, ancaman ketahanan pangan, tekanan sektor kesehatan, fragmentasi geopolitik, serta percepatan teknologi global.
“Dua puluh tahun lalu, pengembangan SDM sering dipandang terutama sebagai agenda sosial. Hari ini, ia telah menjadi strategi ekonomi. Dan esok, ia bisa menentukan negara mana yang bangkit dan mana yang tertinggal,” ujar James Riady dalam pidatonya.
Menurut James, dalam lanskap global yang berubah cepat, kekayaan sumber daya alam saja tidak lagi cukup menjadi fondasi kemakmuran. Faktor pengganda utama kekayaan nasional kini terletak pada kualitas manusianya, mulai dari kesehatan, pendidikan, kemampuan beradaptasi, produktivitas, kapabilitas teknologi, hingga kemampuan belajar secara berkelanjutan.
Indonesia, kata dia, memiliki modal penting berupa populasi muda, skala ekonomi besar, posisi geografis strategis, dan sumber daya alam melimpah. Namun bonus demografi tidak otomatis menciptakan kesejahteraan.
“Populasi muda tanpa gizi, pendidikan, keterampilan, disiplin, dan kesempatan bisa menjadi beban. Tetapi, jika dibekali kemampuan, kesehatan, dan kesiapan teknologi, mereka menjadi kekuatan ekonomi luar biasa,” katanya. Karena itu, pengembangan SDM tidak dapat dipisahkan dari ketahanan pangan, sistem kesehatan, transformasi pendidikan, serta penguatan kemampuan digital masyarakat.
James juga mengaitkan agenda pembangunan manusia dengan arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, terdapat pengakuan yang semakin kuat bahwa investasi pada SDM bukan sekadar belanja sosial, melainkan strategi pembangunan bangsa (nation-building).
Program terkait gizi, ketahanan pangan, akses kesehatan, penguatan pendidikan, kesiapan vokasi, hingga hilirisasi industri dinilai saling terkait dalam membangun fondasi Indonesia yang lebih kuat.
Pada saat yang sama, James menilai Prancis dan Eropa menawarkan keunggulan institusional yang mendalam di bidang sains, manufaktur maju, riset, sistem kesehatan, ilmu pangan, rekayasa teknologi, dan pendidikan berkualitas tinggi. Indonesia di sisi lain menawarkan skala pasar, pertumbuhan ekonomi, energi, sumber daya, serta dinamika demografi.
Karena itu, hubungan Indonesia–Prancis, menurut dia, tidak boleh berhenti pada hubungan dagang yang bersifat transaksional, tetapi perlu berkembang menjadi kemitraan strategis jangka panjang untuk menyiapkan generasi yang produktif, adaptif, dan kompetitif secara global.
“Masa depan daya saing bangsa tidak hanya ditentukan di pabrik, ruang rapat, atau pasar keuangan. Masa depan juga ditentukan di sekolah, universitas, laboratorium, sistem nutrisi, institusi kesehatan, dan kemampuan masyarakat menyiapkan manusia untuk masa depan yang digerakkan AI,” ujarnya.
James menegaskan bahwa pengembangan SDM kini bukan lagi isu pinggiran, melainkan berada di pusat nasib sebuah bangsa. “Human capital development is no longer a side issue. It is now at the very center of national destiny,” tutupnya.
Pernyataan James Riady disampaikan dalam konteks peluncuran France–Indonesia High-Level Business Council (FI-HLBC), forum bisnis tingkat tinggi yang menjadi salah satu agenda utama kunjungan kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto ke Prancis.
Prabowo dan Marcon Hadir
Presiden Prabowo dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menghadiri peluncuran FI-HLBC di kawasan Istana Élysée, Paris, Kamis (28/05/2026), setelah kedua pemimpin terlebih dahulu melakukan pertemuan bilateral dan pertemuan empat mata.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, melalui unggahan akun Instagram @sekretariat.kabinet yang dikutip Jumat (29/05/2026), menyebut forum bisnis yang diinisiasi Kadin Indonesia bersama Mouvement des Entreprises de France (MEDEF International) itu mempertemukan sekitar 30 pimpinan industri dan perusahaan terkemuka dari kedua negara dengan total kapitalisasi pasar gabungan mencapai US$ 1,3 triliun.
“Setelah melakukan pertemuan bilateral serta pertemuan empat mata, Presiden Prabowo dan Presiden Macron juga menghadiri peluncuran forum bisnis France–Indonesia High Level Business Council, yang diinisiasi oleh Kadin Indonesia dan MEDEF International,” kata Teddy.
FI-HLBC dipimpin bersama oleh Antoine de Saint-Affrique, Chairman France–Indonesia Business Council MEDEF International sekaligus CEO Danone, dan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya N. Bakrie, yang juga menjabat CEO Bakrie & Brothers.
Dalam sesi pembukaan, Antoine de Saint-Affrique dan Anindya Bakrie menyampaikan visi penguatan koridor ekonomi Indonesia–Prancis. Forum kemudian dilanjutkan dengan pidato khusus Menteri Transisi Ekologi Prancis Monique Barbut dan Menteri Investasi dan Hilirisasi Indonesia Rosan Roeslani mengenai peluang kerja sama ekonomi berkelanjutan dan transformasi industri.
Salah satu agenda penting forum adalah penandatanganan sejumlah commercial deliverables sebagai bentuk konkret kemitraan bisnis kedua negara. Dalam kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Prancis itu, tercatat empat kesepakatan komersial baru senilai total US$ 3,5 miliar yang berfokus pada penguatan ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama sektor pertahanan.
Forum tersebut juga berkomitmen mengawal implementasi berbagai nota kesepahaman (MoU) dan komitmen investasi yang telah disepakati sebelumnya. Teddy mengingatkan bahwa dalam kunjungan kenegaraan Presiden Macron ke Indonesia pada Mei 2025, kedua negara telah menandatangani 27 MoU dengan nilai lebih dari US$ 11 miliar.
Rangkaian kunjungan Presiden Prabowo sendiri diawali dengan upacara kenegaraan di Les Invalides, Paris, salah satu simbol kehormatan negara Prancis, dengan penyambutan langsung oleh Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu. Dari lokasi tersebut, Presiden Prabowo melanjutkan perjalanan menuju Istana Élysée dengan pengawalan kehormatan 146 pasukan berkuda dan 27 personel motoris, sebelum diterima Presiden Macron dan Ibu Negara Brigitte Macron di tangga utama istana.
Menurut Teddy, prosesi tersebut mencerminkan penghargaan tinggi Prancis terhadap kunjungan Presiden Prabowo sekaligus mempertegas momentum baru hubungan strategis Indonesia–Prancis, yang kini tidak hanya bertumpu pada perdagangan dan investasi, tetapi juga pada pembangunan manusia sebagai fondasi daya saing masa depan.

