Jelang Mandatori B50 Mulai 1 Juli, Pemerintah Ungkap Sejumlah Dampak Positif Ini
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah terus memperkuat persiapan implementasi mandatori biodiesel 50% (B50) yang direncanakan berjalan mulai 1 Juli 2026. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan pemanfaatan energi domestik, serta mendukung transisi energi berkelanjutan.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengatakan bahwa program biodiesel merupakan kebijakan strategis nasional yang telah memberikan kontribusi nyata dalam mengurangi impor solar sekaligus memperkuat pemanfaatan energi berbasis sumber daya dalam negeri.
“Program biodiesel menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan pemanfaatan energi dalam negeri sekaligus mendukung transisi energi Indonesia secara bertahap dan berkelanjutan,” ujar Eniya, dikutip Kamis (28/5/2026).
Baca Juga
Menurut Eniya, implementasi mandatori biodiesel juga menunjukkan capaian positif dalam mendukung penguatan ekonomi dan energi nasional. Sejak dijalankan pada 2015, program biodiesel dinilai berhasil memperkuat pasar domestik, menjaga stabilitas industri sawit nasional, serta menopang perekonomian di tengah dinamika pasar global.
Pada implementasi B40 sepanjang 2025, realisasi penyaluran biodiesel tercatat 14,94 juta kiloliter atau sekitar 95,67% dari total alokasi sebesar 15,61 juta kiloliter.
Implementasi tersebut memberikan manfaat berupa penghematan devisa sekitar Rp 133,3 triliun, peningkatan nilai tambah Rp 20,92 triliun, penyerapan tenaga kerja sekitar 1,88 juta orang, serta kontribusi penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 39,66 juta ton CO2.
“Capaian tersebut mencerminkan kontribusi biodiesel dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” kata Eniya.
Pengujian Berlanjut
Sejalan dengan rencana implementasi B50, pemerintah memastikan seluruh tahapan dilakukan secara hati-hati melalui evaluasi dan pengujian teknis yang komprehensif sesuai standar yang berlaku.
Pengujian dilakukan di berbagai sektor, mulai dari otomotif, alat mesin pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, pembangkit listrik, hingga perkeretaapian.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan implementasi B50 berjalan aman, andal, dan sesuai kebutuhan operasional di lapangan.
Baca Juga
B50 Berlaku Juli 2026, Aprobi Perketat Standar Kualitas Biodiesel Lampaui Eropa
Dalam pelaksanaannya, program biodiesel juga mempertimbangkan aspek keekonomian dan keberlanjutan. Dukungan implementasi dilakukan melalui mekanisme insentif yang bersumber dari pengelolaan dana sawit sehingga tidak membebani anggaran negara.
Di sisi lain, implementasi biodiesel turut meningkatkan pemanfaatan bahan baku domestik untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Pemerintah memastikan pengembangan biodiesel tetap memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan energi dalam negeri, keberlanjutan industri sawit nasional, serta stabilitas ekonomi nasional.
Baca Juga
Sawit Perkuat Ketahanan Energi, BPDP Sebut Biodiesel B50 Bikin Harga Solar Lebih Murah
Pemerintah juga terus melakukan evaluasi dan koordinasi lintas sektor guna memastikan implementasi program biodiesel berjalan optimal dengan memperhatikan aspek energi, industri, keekonomian, dan keberlanjutan.
“Melalui pemanfaatan energi domestik dan penguatan kolaborasi lintas sektor, Indonesia ingin membangun sistem energi yang semakin mandiri, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutur Eniya.

