UMKM Kolombia Dinilai Melek Digital, Bagaimana UMKM Indonesia?
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Pelaksana KIT Royal Tropical Institute, Belanda, Mayada el Zoghbi mengungkap hasil penelitian yang dilakukan lembaganya terhadap pemanfaatan layanan digital dari UMKM di Indonesia, India, Nigeria, dan Kolombia.
Dari data yang dikumpulkan dalam enam gelombang, setiap 2-3 bulan selama pandemi Covid-19, menunjukkan peningkatan aktivitas digital dari UMKM.
“Covid-19 memaksa usaha UMKM untuk berjualan online. Karena para pelaku UMKM tak bisa berjualan secara langsung,” kata Mayada, saat menghadiri forum diskusi BRI Microfinance Outlook 2024, di Jakarta, Kamis (07/03/2024).
Baca Juga
29,2 Juta UMKM Belum Bisa Akses Pembiayaan, Bisa Terjerat Rentenir
Dari data yang dihasilkan, Mayada menyebut, Kolombia terlihat konsisten dalam penggunaan platform digital, nilainya juga cukup besar. Sementara itu, UMKM di Indonesia disebut tidak cukup konsisten menggunakan platform digital.
“Karena nasabah yang kami tangani bukan dari Lembaga Keuangan Mikro (LKM), bukan BRI, mereka mencoba menjual, mencoba menerima pembayaran digital, atau melakukan pembayaran digital. Tapi kemudian, UMKM itu kembali ke uang tunai setelah Covid-19 mereda,” kata dia.
Meski begitu Mayada mengatakan, berdasarkan data penelitian yang digelar Bank Dunia, menunjukkan kesadaran dari kalangan pelaku UMKM di Indonesia. Sebanyak 74% UMKM mengetahui semua platform digital.
“Namun, hanya 20% yang menggunakan platform tersebut secara konsisten. Jadi, ada kesenjangan, ada kesenjangan antara kesadaran dan penggunaan,” kata dia.
Mayada mengatakan ada kemudahan penggunaan media sosial bagi UMKM. Pada dasarnya, UMKM menggunakan social commerce, Facebook, WhatsApp, TikTok untuk memasarkan barangnya. “Namun transaksinya menggunakan uang tunai,” ucap dia.
Baca Juga
Menurut data Bank Dunia, dalam Trend Report for 2023, dalam beberapa tahun terakhir Covid-19 memaksa 1,5 miliar orang menggunakan internet. Secara global, kini ada 5,3 miliar orang yang mengakses internet, atau dua pertiga dari populasi dunia.
“Indonesia memiliki lebih dari 200 juta pengguna internet. Sebagian besar penduduk yaitu 64% penduduk sudah memiliki telepon seluler dan hampir semua rumah tangga, kurang dari 90% memiliki telepon di rumah,” kata dia.
Sementara itu, UMKM yang menggunakan e-commerce lebih dari 2 juta. Adapun pedagang yang telah mengadopsi pembayaran QR yaitu 90%. “Jadi dalam banyak hal, Indonesia telah menjadi ekonomi digital dengan sangat cepat,” ucap dia.

