Ketahanan Makro Solid, Pemerintah Akselerasi Ekosistem Bullion Bank Guna Redam Guncangan Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan bahwa pengembangan ekosistem Bullion Bank Nasional bukan sekadar penambahan lini produk perbankan baru, melainkan bagian strategi nasional untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dari guncangan likuiditas global. Di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan Eropa, fundamental ekonomi Indonesia terbukti tetap resilien.
Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian, Elen Setiadi, memaparkan setelah tumbuh 5,11% pada 2025, produk domestik bruto (PDB) Indonesia kembali berakselerasi sebesar 5,61% year-on-year (yoy) pada triwulan I-2026.
"Nominal PDB atas dasar harga berlaku kita telah mencapai Rp 6.187,2 triliun, dan Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan sepanjang tahun 2026 ini tetap kuat di kisaran 5,4% yoy," ungkap Elen dalam seminar Investortrust Power Talk Financial Series bertajuk 'Penguatan Ekosistem Bullion Bank di Indonesia' di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Baca Juga
Setahun 'Bullion Bank', Emas Kelolaan BSI (BRIS) Tembus 22,5 Ton
Indikator makroekonomi lainnya juga menunjukkan performa yang kokoh. Inflasi tahunan melandai signifikan dari 3,48% (yoy) pada Maret 2026 menjadi 2,42% (yoy) pada April 2026, berada tepat di dalam sasaran target pemerintah. Selain itu, neraca perdagangan mencatatkan surplus selama 71 bulan berturut-turut dengan capaian US$ 3,32 miliar pada Maret 2026, didukung cadangan devisa April 2026 yang kuat sebesar US$ 146,2 miliar.
Elen menyebutkan, probabilitas risiko resesi Indonesia saat ini berada di bawah level 5%, jauh lebih aman dibandingkan negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada. Rendahnya risiko ini memberikan ruang bagi pemerintah dan regulator untuk fokus pada agenda pendalaman pasar keuangan jangka menengah, termasuk ekosistem bank emas.
"Kehadiran bullion bank sangat relevan dan strategis sebagai instrumen keuangan yang mengakselerasi hilirisasi logam mulia. Emas yang selama ini disimpan secara fisik oleh masyarakat harus ditarik masuk ke dalam sistem keuangan agar dapat dimanfaatkan secara produktif," jelas Elen.
Meski fundamental ekonomi solid, pemerintah tetap mengedepankan asas kehati-hatian (prudent). Mengingat pasar keuangan domestik tetap terimbas sentimen global—kurs rupiah berdasarkan Jisdor BI berada di level Rp17.743 per dolar AS dan IHSG di kisaran 6.200 pasca-kenaikan BI rate menjadi 5,25%—maka diversifikasi instrumen investasi mutlak diperlukan.
Baca Juga
Perkuat 'Bullion' Bank, RI Bidik Produksi Emas Naik Dua Kali Lipat dan Berantas Tambang Ilegal
Pemerintah bersama Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), OJK, dan Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) berkomitmen mempercepat koordinasi lintas sektor dalam mengimplementasikan Roadmap Kegiatan Usaha Bullion 2026-2031. Namun, Elen menekankan bahwa akselerasi ini wajib dilakukan secara bertahap demi memitigasi risiko sistemik.
"Kesiapan infrastruktur teknologi pelaku usaha, parameter stabilitas sistem keuangan nasional, serta perlindungan hak-hak konsumen menjadi persyaratan mutlak yang tidak boleh dinegosiasikan," tegas Elen.

