Perkuat 'Bullion' Bank, RI Bidik Produksi Emas Naik Dua Kali Lipat dan Berantas Tambang Ilegal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pemerintah berkomitmen penuh memperkuat ekosistem Bullion Bank Nasional atau Bank Emas Indonesia dengan melakukan penataan masif di sektor hulu. Salah satu langkah strategis yang tengah dipersiapkan adalah memberantas aktivitas pertambangan emas ilegal guna melipatgandakan pasokan emas resmi di dalam negeri.
Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Elen Setiadi, saat membacakan pidato kunci dalam acara Investortrust Power Talk Financial Series di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Baca Juga
Harga Emas Dunia Berpotensi Sentuh US$ 4.943 per Troy Ons Pekan Depan
"Saat ini pemerintah sedang ingin melakukan penataan terhadap produksi-produksi emas yang tidak tercatat secara resmi atau tambang ilegal. Mudah-mudahan kalau ini bisa kita bereskan, suplai produksi emas kita yang saat ini tercatat sekitar 100 ton bisa meningkat dua kali lipat dari catatan statistik yang ada," ujar Elen.
Menurut Elen, optimalisasi pasokan dari sektor hulu ini sangat krusial untuk mengimbangi tingginya antusiasme masyarakat dan akselerasi penetrasi pasar bullion bank di hilir. Langkah ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto sejak peluncuran Bank Emas Indonesia pada Februari 2025 lalu untuk mengelola emas secara terintegrasi dari hulu ke hilir.
Hingga Maret 2026, dua pilar utama ekosistem bullion bank domestik mencatatkan pertumbuhan portofolio yang sangat agresif. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) melaporkan total emas yang dikelola tumbuh 10,03% year-to-date (ytd) menjadi 23,03 ton, dibandingkan posisi Desember 2025 yang sebesar 20,93 ton.
Sementara itu, PT Pegadaian mencatatkan kinerja jauh lebih fantastis dengan total pengelolaan emas mencapai 120,9 ton. Dari jumlah tersebut, kelolaan bullion tercatat sebesar 32,15 ton, sedangkan lini gadai emas tradisional mendominasi sebesar 94 ton. Sebagai perbandingan, jumlah kelolaan emas di Pegadaian ini bahkan telah melampaui cadangan emas yang dikelola Bank Indonesia (BI) yang berkisar di angka 85 hingga 87 ton.
Elen menilai, lompatan angka ini dipicu oleh meningkatnya literasi serta fenomena fear of missing out (FOMO) di masyarakat yang enggan kehilangan momentum investasi di tengah meroketnya harga emas dunia. Saat ini, harga emas bertengger di kisaran US$ 4.570 per troy ounce, setelah sebelumnya sempat mendekati level US$ 5.000 per troy ounce.
Baca Juga
Perkuat Ekosistem Emas Nasional, Pegadaian dan Antam Jalin Sinergi Strategis Perdagangan Logam Mulia
"Masyarakat tidak mau ketinggalan memiliki emas. Melalui digitalisasi, bahkan dengan nominal Rp10.000 pun kini masyarakat sudah bisa memiliki emas secara digital di Pegadaian maupun BSI," tambahnya.
Ke depan, pemerintah akan mengintensifkan implementasi Roadmap Kegiatan Usaha Bullion 2026-2031. Langkah penataan tidak hanya berhenti pada pemberantasan tambang ilegal, tetapi juga menyelaraskan aspek perpajakan (keadilan fiskal), infrastruktur pasar fisik, serta sinkronisasi regulasi pengawasan demi menghilangkan friksi insentif di pasar keuangan nasional.

