SAPA UMKM Resmi Meluncur, ICT Institute Tegaskan Jangan Sekadar Jadi Layanan Administratif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah resmi meluncurkan SAPA UMKM (Satu Portal Amanah UMKM) sebagai platform digital terintegrasi untuk mempermudah akses pembiayaan pelaku UMKM. Platform ini menghubungkan UMKM dengan bank, fintech, hingga lembaga pembiayaan nonbank.
SAPA UMKM sendiri mengusung konsep “satu UMKM, satu identitas, satu basis data” berbasis NIK atau NIB. Sistem ini dirancang untuk mengintegrasikan data UMKM dalam satu ekosistem layanan pembiayaan.
Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi menilai, SAPA UMKM harus memberi manfaat nyata bagi pelaku usaha. Menurutnya, platform ini tidak boleh hanya menjadi layanan administratif.
Baca Juga
Pemerintah Luncurkan Platform SAPA UMKM untuk Integrasi Satu Data dan Layanan Terpadu
“SAPA UMKM perlu dilihat dari sisi manfaat nyata bagi pelaku usaha, seperti kemudahan akses pasar, pembiayaan, pelatihan, dan integrasi logistik. Jangan hanya menjadi platform administratif,” kata Heru kepada investortrust.id, Senin (25/5/2026).
Pengamat teknologi itu mengatakan, keberlanjutan platform bergantung pada kolaborasi dengan marketplace, perbankan, dan pemerintah daerah. Pendampingan digital juga dinilai penting agar UMKM aktif menggunakan platform.
“Agar sustain, perlu model bisnis jelas, kolaborasi dengan marketplace, perbankan, dan pemerintah daerah, serta dukungan pendampingan digital berkelanjutan,” ujarnya.
Ia mengingatkan SAPA UMKM harus memiliki nilai tambah agar tidak menjadi proyek jangka pendek. Menurut dia, penggunaan aktif oleh UMKM menjadi faktor utama keberhasilan platform.
“Yang paling penting, platform harus aktif digunakan UMKM karena memberi nilai tambah nyata, bukan sekadar proyek jangka pendek seperti yang sering terjadi,” tegasnya.
Lebih lanjut, pemerintah sendiri belum mengungkap detail teknis implementasi SAPA UMKM, termasuk soal keamanan data dan integrasi dengan sistem bank maupun fintech. Padahal, digitalisasi UMKM dinilai penting karena sektor ini menyumbang sekitar 61% terhadap PDB nasional dan menyerap 97% tenaga kerja nasional.

