Hashim Sebut Prabowo Amankan Pasokan 150 Juta Barel Minyak dari Rusia
Poin Penting
|
TANGERANG, investortrust.id – Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto berhasil mengamankan komitmen pasokan minyak hingga 150 juta barel dari Rusia di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik akibat perang Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Menurut Hashim, konflik di Timur Tengah memberikan tekanan besar terhadap pasar energi global, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah dan produk olahan minyak.
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5% Usai Trump Sebut Negosiasi Iran Masuki ‘Tahap Akhir’
“Indonesia mengimpor 1 juta barel per hari minyak, baik minyak mentah maupun produk olahan minyak. Hal ini membuat Indonesia rentan terhadap guncangan eksternal, seperti perang di Iran,” ujar Hashim dalam acara IPA Convex 2026 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (21/5/2026).
Dia menjelaskan, kondisi geopolitik global saat ini memaksa pemerintah untuk lebih realistis dalam menyusun strategi ketahanan energi nasional. Karena itu, Indonesia memanfaatkan posisi politik luar negeri yang non-blok dan bersahabat dengan seluruh negara untuk menjaga keamanan pasokan energi domestik.
Hashim mengungkapkan, ketika perang Iran mulai memicu ketidakpastian pasokan minyak global, Presiden Prabowo langsung melakukan langkah diplomasi energi dengan menemui Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow.
“Kita beruntung berkat kebijakan luar negeri yang menjalin persahabatan dengan semua negara dan tidak memiliki musuh. Presiden Prabowo pergi ke Moskow dan bertemu dengan Presiden Putin selama 3 jam,” ungkap dia.
Baca Juga
Harga Melonjak Usai Xi Jinping Sepakat Membeli Minyak dari AS
Dari pertemuan tersebut, Indonesia memperoleh komitmen pasokan minyak hingga 150 juta barel untuk tahun ini guna memastikan keamanan impor energi nasional. “Sehingga pasokan impor minyak mentah dan produk minyak Indonesia tetap aman dan terjamin untuk tahun ini. Kita aman untuk tahun ini,” tegas Hashim.
Kendati demikian, dia mengingatkan situasi global masih sangat dinamis. Apabila konflik Iran berlangsung dalam jangka panjang, pemerintah akan kembali mengevaluasi strategi energi nasional, termasuk diversifikasi sumber energi alternatif.
“Jika perang di Iran terus berlangsung dalam waktu yang tidak menentu, maka semua kemungkinan tetap terbuka dan situasi harus dievaluasi kembali,” katanya.

