Bagikan

Makin Ekspansif, UMKM Jadi Penopang Optimisme Ekonomi Nasional

Poin Penting

Indeks Bisnis UMKM naik menjadi 104,7 poin berkat HBKN dan panen raya nasional. ​
Pendorong utama adalah lonjakan volume produksi serta tingginya indeks harga jual. ​
Sebanyak 62,6% pelaku UMKM masih membutuhkan bantuan modal usaha untuk terus tumbuh.

JAKARTA, Investortrust– Aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat semakin ekspansif dan tetap prospektif meski ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian. Hal itu tercermin dari kenaikan Indeks Bisnis UMKM menjadi 104,7 pada Q1-2026, naik 2,1 poin dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 102,5.

Hasil tersebut terungkap dalam laporan “Indeks Bisnis UMKM Q1-2026 dan Ekspektasi Q2-2026” yang dirilis BRI Research Institute di Jakarta pada 11 Mei 2026. Survei dilakukan pada 4–18 April 2026 terhadap 7.039 responden UMKM di 34 provinsi, terdiri atas 6.039 debitur UMKM BRI dan 1.000 debitur non-BRI, dengan margin of error sekitar ±1,17%.

BRI Research Institute menyebut ekspansi UMKM pada awal 2026 terutama didorong oleh masih tumbuhnya perekonomian nasional, momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Imlek, Nyepi, Ramadan, dan Idulfitri, meningkatnya daya beli masyarakat melalui THR, bonus, dan bantuan sosial senilai Rp39,8 triliun, serta mulai berlangsungnya panen raya dengan harga hasil pertanian yang relatif baik.

“Bisnis UMKM makin ekspansif dan kemungkinan prospeknya tetap baik,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.

Sektor perdagangan menjadi kontributor terbesar responden survei dengan porsi 50,8%, disusul sektor pertanian sebesar 23,6% dan jasa-jasa 10,4%. Secara wilayah, mayoritas responden berasal dari Pulau Jawa sebesar 48%, diikuti Sumatera 21,6% dan Sulawesi 11,2%.

Laporan itu menunjukkan hampir seluruh komponen penyusun Indeks Bisnis UMKM mengalami penguatan. Kenaikan paling signifikan terjadi pada volume produksi yang meningkat 7,3 poin, terutama didorong panen raya dan lonjakan permintaan selama HBKN.

Indeks harga jual tercatat menjadi yang tertinggi, mencapai 121,7, terutama pada produk pertanian, kebutuhan harian, dan jasa transportasi. Kombinasi kenaikan volume produksi dan harga jual turut mendorong peningkatan nilai penjualan UMKM secara signifikan.

Selain itu, aktivitas usaha yang semakin meningkat juga berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja, pemesanan barang input, serta kegiatan investasi UMKM yang masih tumbuh meski lebih moderat.

Baca Juga

Menteri UMKM 'Sentil' Marketplace: Jangan Bikin Seller Pusing karena Biaya Naik Tiba-tiba!

Dari sisi sektoral, mayoritas sektor usaha masih berada dalam fase ekspansi dengan indeks di atas 100, kecuali sektor konstruksi yang melemah akibat curah hujan tinggi dan belum bergulirnya sejumlah proyek pemerintah maupun swasta.

Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling kuat, ditopang panen raya, harga jual yang menarik, serta barang input yang lebih mudah diperoleh dan relatif terjangkau. Sementara sektor perdagangan, hotel-restoran, transportasi, dan jasa juga tetap ekspansif berkat meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode mudik dan wisata Lebaran.

Lima provinsi penyumbang terbesar terhadap perekonomian nasional yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara juga mencatatkan Indeks Bisnis UMKM di atas level 100 atau masih ekspansif.

Meski demikian, pelaku UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti kenaikan harga barang input, persaingan usaha yang makin ketat, serta gangguan hama dan penyakit di sektor pertanian dan peternakan.

Di sisi lain, kondisi likuiditas dan rentabilitas usaha mulai membaik seiring pertumbuhan bisnis yang semakin ekspansif. Namun posisi UMKM masih tertinggal dibanding usaha menengah dan besar, terutama dalam kemampuan menjaga likuiditas dan profitabilitas.

Sentimen pelaku UMKM juga masih positif. Indeks Sentimen Bisnis tercatat sebesar 110,8 atau tetap berada di atas level optimistis 100, meski sedikit melemah dibanding kuartal sebelumnya akibat normalisasi permintaan pasca-HBKN.

Kepercayaan pelaku UMKM terhadap pemerintah juga masih tinggi, tercermin dari Indeks Kepercayaan Pelaku UMKM kepada Pemerintah (IKP) sebesar 118,5. Penilaian tertinggi diberikan terhadap aspek keamanan dan ketertiban, serta pembangunan infrastruktur.

Untuk kuartal II-2026, prospek bisnis UMKM diperkirakan tetap ekspansif meski lebih moderat. Faktor pendorong utama berasal dari puncak panen raya April–Mei, cuaca yang lebih kondusif memasuki musim kemarau, serta mulai bergeraknya proyek-proyek pemerintah dan swasta.

Namun BRI Research Institute mencatat bantuan yang paling dibutuhkan pelaku UMKM saat ini masih terkait modal usaha dan ketersediaan barang input dengan harga terjangkau. Dalam survei tersebut, sebanyak 62,6% responden menyebut modal usaha menjadi kebutuhan utama untuk menjaga keberlanjutan bisnis mereka.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024