120% dari Target, Produksi Minyak PHI Capai 60,44 Ribu Bph pada Triwulan I 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), anak usaha Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai subholding hulu migas PT Pertamina (Persero), melampaui target produksi minyak dan gas bumi (migas) pada triwulan I 2026 melalui optimalisasi lapangan migas di Kalimantan. Capaian ini memperkuat pasokan energi nasional di tengah tantangan produksi dari lapangan tua dan kebutuhan energi domestik yang terus meningkat.
Hingga akhir Maret 2026, PHI bersama anak perusahaan dan afiliasinya di Kalimantan mencatatkan produksi minyak sebesar 60,44 ribu barel minyak per hari (bph) dan produksi gas mencapai 619 juta standar kaki kubik per hari. Realisasi tersebut setara 120% dari target minyak dan 105% dari target gas tahun ini.
Baca Juga
Naik Kelas Jadi SPBU Signature, 13 SPBU Pertamina Ini Tak Lagi Jual Pertalite
Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia Sunaryanto mengatakan capaian tersebut mencerminkan komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan produksi migas dari wilayah Kalimantan guna mendukung ketahanan energi nasional.
“Di PHI, kami terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi demi keberlanjutan produksi migas perusahaan yang penting dalam mendukung pencapaian target produksi nasional dan ketahanan energi Indonesia,” ujar Sunaryanto, Rabu (13/5/2026).
Selain mencetak kinerja produksi di atas target, perusahaan juga menjaga aspek keselamatan operasional dengan nihil fatalitas, mencatatkan 57,36 juta jam kerja selamat, serta nihil Lost Time Incident atau insiden yang menyebabkan kehilangan jam kerja.
Sunaryanto menjelaskan penerapan inovasi dan teknologi menjadi langkah strategis perusahaan untuk menahan laju penurunan produksi pada lapangan migas yang telah matang. Perusahaan juga menjalankan berbagai program pemeliharaan, perbaikan, dan reaktivasi sumur guna meningkatkan produktivitas sekaligus memperpanjang usia lapangan.
Menurutnya, sinergi lintas fungsi di internal perusahaan berhasil memastikan proyek utama dalam rencana kerja 2026 berjalan sesuai harapan. Salah satu inovasi yang diterapkan adalah metode high pour point oil (HPPO) di Lapangan Handil yang dikelola PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), serta Lapangan Mutiara dan Lapangan Pamaguan milik PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).
Teknologi ini dirancang untuk mengatasi tantangan minyak berkandungan lilin tinggi yang berpotensi membeku dalam pipa produksi. Dengan penggunaan pelarut khusus, minyak tetap cair sehingga aliran produksi dapat berlangsung optimal. Di PHM, inovasi lain juga diterapkan untuk mengoptimalkan produksi dari sumur emulsi di Lapangan Tunu.
Optimalisasi Sumur Dongkrak Produksi
Di sisi lain, PHSS menerapkan inovasi permanent coiled tubing gas lift pada sumur kerja ulang di Lapangan Louise, Samboja, dan Mutiara. Teknologi ini bekerja dengan menyuntikkan gas bertekanan ke dalam pipa sumur untuk membantu minyak terangkat ke permukaan secara lebih efisien. Penerapan metode tersebut berhasil meningkatkan produktivitas sumur dan berkontribusi pada pencapaian target produksi triwulan pertama.
Kontribusi tambahan produksi minyak juga berasal dari PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) melalui Lapangan Kerindingan, Lapangan Sapi, serta sumur sisipan baru di lepas pantai Kalimantan Timur. Program Handil Rejuvenation yang dijalankan PHM juga berhasil meningkatkan produksi sekitar 5% dibandingkan sebelum program dijalankan.
Baca Juga
Pertamina Gandeng EOG Kembangkan Migas Non-Konvensional di Indonesia
Sementara itu, target produksi gas diperkuat oleh keberhasilan onstream platform kedua dan ketiga Proyek Sisi Nubi AOI yang mulai beroperasi pada akhir Februari dan Maret 2026. Produksi gas juga ditopang oleh kelancaran kegiatan perawatan sumur di Lapangan Tunu, sumur workover Lapangan Santan, serta Lapangan Nilam dan Mutiara.
PHI merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina yang mengelola bisnis hulu migas di Regional 3 Kalimantan, meliputi Zona 8, Zona 9, dan Zona 10. Wilayah ini menjadi salah satu tulang punggung pasokan energi nasional dari sektor hulu migas.

