Emas Turun 1% Saat Harga Minyak Naik dan Tekan Prospek Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas global berada di bawah tekanan pada Selasa (12/5/2026) seiring memudarnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang mendorong lonjakan harga minyak, memperbesar kekhawatiran inflasi, serta memicu spekulasi kenaikan suku bunga global. Kondisi ini penting bagi investor karena memperlihatkan tensi geopolitik kembali memengaruhi arah aset safe haven dan kebijakan moneter dunia.
Harga emas spot turun 1% menjadi US$ 4.685,99 per ons atau sekitar Rp 77,3 juta per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Juni melemah 0,7% ke level US$ 4.693,90.
Tekanan terhadap logam mulia muncul setelah harga minyak melonjak lebih dari 3% menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut proses gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi kritis. Pernyataan itu datang setelah Teheran dilaporkan menolak proposal Washington untuk mengakhiri konflik yang berlangsung.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek mengatakan lonjakan harga energi berpotensi memperumit arah kebijakan bank sentral dunia. “Kenaikan harga minyak meningkatkan risiko bahwa bank sentral AS dan bank sentral lainnya mungkin harus menaikkan suku bunga untuk melawan apa yang pasti akan muncul sebagai stagflasi. Jadi emas merespons hal itu,” ujar Melek dikutip CNBC.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Rp 20.000, Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Cemas
Kondisi ini diperburuk oleh data terbaru yang menunjukkan harga konsumen Amerika Serikat naik untuk bulan kedua berturut-turut pada April. Kenaikan tersebut mendorong inflasi tahunan mencapai level tertinggi dalam hampir 3 tahun dan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Meski emas selama ini dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi logam mulia karena meningkatkan daya tarik aset berbunga seperti obligasi.
Prospek Bullish
Di tengah tekanan jangka pendek, pandangan optimistis terhadap emas belum sepenuhnya memudar. Ahli strategi logam mulia di UBS Investment Bank Joni Teves menilai fundamental pasar emas masih cukup kuat untuk menopang reli lanjutan. “Kami masih yakin harga dapat pulih dari level saat ini dan terus mencetak rekor tertinggi baru tahun ini,” katanya.
Menurutnya, ketidakpastian geopolitik, permintaan bank sentral, dan prospek perlambatan ekonomi global masih menjadi faktor utama yang menopang harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Pelaku pasar kini menunggu rilis data Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat pada Rabu (13/5/2026). Data tersebut krusial untuk membaca arah inflasi produsen yang dapat memengaruhi langkah kebijakan moneter The Fed.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada agenda pertemuan Presiden Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing yang dijadwalkan berlangsung Kamis (14/5/2026) hingga Jumat (15/5/2026). Pertemuan ini dipandang berpotensi memengaruhi sentimen pasar global di tengah ketegangan geopolitik dan perdagangan internasional.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 2,4% menjadi US$ 84,06 per ons setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam 2 bulan terakhir.
Analis SP Angel menyebut tren kenaikan perak sebelumnya didorong ekspektasi defisit pasokan yang semakin lebar akibat tingginya permintaan fisik. Mereka juga menilai kenaikan harga minyak dapat memicu peningkatan penjualan kendaraan listrik yang pada akhirnya mendorong kebutuhan perak, terutama untuk panel surya dan teknologi energi terbarukan lainnya.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Naik Rp 40.000, Arah The Fed dan Timur Tengah Jadi Sorotan
Di India, sejumlah bank kembali melanjutkan impor emas dan perak setelah jeda lebih dari sebulan. Aktivitas impor kembali berjalan setelah perbankan menyetujui pembayaran bea cukai sebesar 3% yang sebelumnya membuat pengiriman tertunda.
Sementara itu, harga platinum turun 1,7% menjadi US$ 2.096,19 per ons, sedangkan paladium melemah 2,4% ke level US$ 1.473 per ons. Koreksi ini menunjukkan tekanan yang lebih luas di pasar logam mulia akibat kombinasi penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, dan ekspektasi suku bunga tinggi yang belum mereda.

