Emas Antam (ANTM) Naik Rp 40.000, Arah The Fed dan Timur Tengah Jadi Sorotan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam hari ini Selasa (12/5/2026) dipantau laman Logam Mulia mencapai Rp 2,859 juta atau naik Rp 40.000 dari Senin (11/5/2026) Rp 2,819 juta per gram setelah pelaku pasar menimbang perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sambil menanti rilis data inflasi AS yang krusial untuk menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Adapun rekor tertinggi sepanjang sejarah (all time high/ATH) sebelumnya di level Rp 3,168 juta per gram yang dicetak pada Kamis 29 Januari 2026. Sedangkan harga jual kembali (buyback) emas Antam sebesar Rp 2,676 juta atau naik Rp 50.000 dari sebelumnya Rp 2,626 juta.
Harga emas Antam bergerak di tengah harga emas dunia yang berbalik menguat pada perdagangan Senin (11/5/2026) setelah sempat tertekan di awal sesi.
Harga emas spot naik 0,1% menjadi US$ 4.717,38 per ons, setelah sebelumnya sempat merosot lebih dari 1%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS relatif stagnan di level US$ 4.727,80 per ons. Pergerakan yang cenderung fluktuatif menunjukkan investor masih berhati-hati menghadapi kombinasi tekanan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter global.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Rp 20.000, Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Cemas
Fokus pasar kini tertuju pada data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan rilis Selasa (12/5/2026), disusul Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) pada Rabu (13/5/2026).
Dua data tersebut menjadi perhatian utama karena dapat memberikan gambaran baru mengenai tekanan inflasi di ekonomi terbesar dunia itu. Jika inflasi masih tinggi, peluang pemangkasan suku bunga The Fed diperkirakan semakin kecil.
Tekanan geopolitik juga tetap menjadi faktor utama yang menopang harga emas. Penolakan cepat Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap respons Iran atas proposal perdamaian Washington memicu kekhawatiran bahwa konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu berpotensi berlarut-larut.
Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur perdagangan energi vital dunia, yang berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi. Trump kemudian menyebut kondisi gencatan senjata antara kedua negara berada dalam situasi “kritis”, mempertegas ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan pialang global mulai memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Jika sebelumnya pasar memperkirakan dua kali pemotongan suku bunga, kini proyeksi mulai terbelah antara skenario pelonggaran terbatas dan tidak ada pemangkasan sama sekali hingga 2026. Perubahan ekspektasi tersebut terjadi di tengah risiko inflasi yang masih tinggi serta sikap hati-hati para pembuat kebijakan moneter.
Bagi pasar emas, prospek suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga meningkat karena investor dapat memperoleh return lebih besar dari instrumen berbunga seperti obligasi pemerintah.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Terkoreksi ke Rp 2,839 Juta di Tengah Optimisme Geopolitik Global
Selain memantau inflasi dan konflik Timur Tengah, investor juga mencermati kunjungan dua hari Trump ke China pekan ini. Dalam agenda tersebut, Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping untuk membahas sejumlah isu strategis, mulai dari Iran, Taiwan, kecerdasan buatan hingga pengendalian senjata nuklir.
Datar harga emas Antam hari ini:
- Emas 0,5 gram: Rp 1,479 juta
- Emas 1 gram: Rp 2,859 juta
- Emas 2 gram: Rp 5,658 juta
- Emas 3 gram: Rp 8,462 juta
- Emas 5 gram: Rp 14,070 juta
- Emas 10 gram: Rp 28,085 juta
- Emas 25 gram: Rp 70,087 juta
- Emas 50 gram: Rp 140,095 juta
- Emas 100 gram: Rp 280,112 juta
- Emas 250 gram: Rp 700,015 juta
- Emas 500 gram: Rp 1,399,015 miliar
- Emas 1.000 gram: Rp 2,799,600 miliar.

