Pemulihan Kelas Menengah Dekati Level Normal, Tekanan terhadap Daya Beli Masih Membayangi
Poin Penting
|
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai menguat pada awal 2026. Konsumsi rumah tangga membaik, belanja pemerintah melonjak, dan investasi kembali bergerak. Namun di balik pemulihan itu, kelas menengah dan bawah masih menghadapi tekanan daya beli, pasar kerja informal yang besar, serta ancaman baru dari gejolak geopolitik global."
JAKARTA, Investortrust.id — Pemulihan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 menunjukkan sinyal semakin solid. Pertumbuhan ekonomi meningkat menjadi 5,61% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya, ditopang oleh konsumsi domestik, lonjakan belanja pemerintah, dan investasi yang kembali tumbuh kuat.
Namun, di balik angka pertumbuhan tersebut, pemulihan daya beli masyarakat ternyata masih berlangsung tidak merata. Kelompok kelas atas mulai kembali mendekati level normal, sedangkan kelas menengah dan bawah masih menghadapi tekanan konsumsi, terbatasnya peluang kerja, serta pendapatan riil yang belum pulih penuh.
Hal itu tergambar dalam Regular Economic Update: Laporan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Q1-2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, Jakarta, Jumat (08/05/2026).
Baca Juga
PDB Indonesia Tumbuh 5,61% di Kuartal I-2026, IHSG Menguat Mendekati 7.040
Laporan tersebut juga menyoroti meningkatnya risiko global akibat eskalasi konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat yang dinilai berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global maupun domestik melalui transmisi harga energi, inflasi, nilai tukar, pasar keuangan, hingga perdagangan internasional.
Menurut OCE BRI, eskalasi konflik di Timur Tengah dapat mengganggu jalur vital Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% konsumsi minyak dunia. Risiko gangguan pasokan minyak dan gas akan mendorong kenaikan harga energi global, memperbesar tekanan inflasi, mempersempit ruang pelonggaran moneter bank sentral, serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
“Jika konflik Iran-Israel terjadi secara langsung dan berkepanjangan, maka konflik ini akan berdampak sangat negatif terhadap perekonomian global karena dapat mendorong kenaikan harga minyak, inflasi, membatasi ruang pelonggaran moneter bank sentral, dan menekan pertumbuhan ekonomi global,” tulis laporan tersebut.
Secara historis, perang langsung (direct war) selalu memicu lonjakan risiko geopolitik dan harga minyak dunia. Dalam 50 tahun terakhir, tercatat sedikitnya 16 konflik geopolitik besar dunia, delapan di antaranya merupakan perang langsung. Berdasarkan data Bloomberg yang dikompilasi OCE BRI, perang langsung rata-rata menyebabkan kenaikan Geopolitical Risk Index sebesar 89,3 poin, kenaikan harga minyak Brent sekitar 44,7%, dan penurunan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,33%.
Tekanan geopolitik global mulai terlihat pada sejumlah indikator ekonomi dunia pada Maret 2026. PMI manufaktur global turun dari 51,8 pada Februari menjadi 51,3 pada Maret, sedangkan indeks keyakinan konsumen global turun dari 50 menjadi 49,4 atau kembali ke bawah level netral.
Mayoritas negara mengalami pelemahan permintaan domestik pasca eskalasi konflik. Indonesia bahkan masuk Kuadran III dalam pemetaan OCE BRI, yakni kategori negara dengan pelemahan simultan pada sisi permintaan dan penawaran. Indonesia tercatat mengalami penurunan PMI manufaktur dan keyakinan konsumen yang relatif paling tajam dibanding sejumlah negara lain.
Meski demikian, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang relatif baik pada awal tahun. Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61%, meningkat dibandingkan 5,04% pada kuartal IV-2025.
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional dengan kontribusi sekitar 54,4% terhadap PDB dan menyumbang 2,94 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52%, sedangkan investasi tumbuh 5,96%.
Lonjakan terbesar datang dari pengeluaran pemerintah yang meningkat 21,81% secara tahunan, terutama dipicu percepatan belanja negara pada awal tahun.
Ekspor masih tumbuh positif sebesar 0,90%, meskipun melambat dibandingkan tahun sebelumnya akibat tekanan perdagangan global dan moderasi pertumbuhan sejumlah negara mitra dagang.
Baca Juga
Purbaya Beberkan Kunci Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal II-2026
Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 terutama ditopang sektor berbasis konsumsi domestik seperti perdagangan, reparasi, transportasi, serta akomodasi makan-minum. Momentum Ramadan, Idul Fitri, dan pencairan THR menjadi penggerak utama.
Namun, penguatan tersebut belum sepenuhnya merata. Sektor manufaktur masih mengalami perlambatan, sementara pertambangan menghadapi tekanan akibat lemahnya permintaan global.
Di sektor agrikultur, mayoritas subsektor juga mengalami moderasi pertumbuhan. Peternakan menjadi satu-satunya subsektor yang mencatat akselerasi kuat, ditopang tingginya permintaan daging ayam dan telur selama Ramadan serta pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di balik pertumbuhan ekonomi yang membaik, laporan OCE BRI menyoroti persoalan utama pada daya beli masyarakat kelas menengah dan bawah.
Indeks daya beli seluruh kelas ekonomi memang membaik pada kuartal I-2026 dibandingkan rata-rata 2025. Namun, indeks daya beli kelas bawah dan menengah masih berada di bawah level normal historis atau indeks di bawah nol.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap konsumsi kelompok menengah-bawah belum sepenuhnya pulih. Ruang belanja masyarakat masih terbatas, terutama untuk konsumsi nonesensial.
Sebaliknya, daya beli kelas atas mulai kembali mendekati level normal dan menjadi penopang utama pemulihan konsumsi domestik.
Pola konsumsi rumah tangga pasca-pandemi juga mengalami pergeseran. Pertumbuhan konsumsi kini lebih ditopang barang dan jasa diskresioner seperti transportasi, komunikasi, restoran, dan hotel yang umumnya lebih banyak dikonsumsi kelompok menengah-atas.
Sebaliknya, pertumbuhan konsumsi barang non-diskresioner seperti makanan pokok, perlengkapan rumah tangga, kesehatan, dan pendidikan justru melambat dibandingkan periode pra-pandemi.
Kondisi tersebut mencerminkan bahwa pemulihan ekonomi lebih cepat dirasakan kelompok atas dibandingkan masyarakat menengah-bawah.
Fenomena itu juga terlihat dari perkembangan simpanan perbankan. Likuiditas rumah tangga masih terkonsentrasi pada kelompok berpendapatan tinggi.
Saldo simpanan kelas atas meningkat signifikan, sedangkan simpanan kelas bawah dan menengah-bawah masih stagnan dan belum menunjukkan pemulihan berarti.
“Pemulihan likuiditas rumah tangga masih terkonsentrasi di kelompok masyarakat dengan saldo tinggi,” tulis OCE BRI.
Dari sisi ketenagakerjaan, tekanan terhadap kelas menengah-bawah juga masih besar. Jumlah pekerja informal terus meningkat dan mencapai 87,7 juta orang pada Februari 2026 atau sekitar 59,4% dari total pekerja nasional.
Rata-rata upah pekerja informal juga masih jauh di bawah upah minimum regional (UMR). Pada 2025, rasio rata-rata upah pekerja informal terhadap UMR hanya sekitar 0,59.
Selain itu, tren lowongan kerja di sektor-sektor berupah rendah terus melemah hingga awal 2026. Kondisi tersebut menunjukkan kapasitas pasar kerja untuk menyerap tenaga kerja berpendapatan rendah semakin terbatas.
Tekanan terhadap pasar tenaga kerja dan daya beli masyarakat menengah-bawah inilah yang dinilai menjadi tantangan besar keberlanjutan pemulihan ekonomi Indonesia.
Baca Juga
Bertumbuh 5,61%, Indonesia Pimpin Pertumbuhan Ekonomi di G20
Bagi sektor perbankan, kombinasi ketidakpastian global dan pemulihan domestik yang belum merata mendorong perbankan mengambil sikap lebih prudent.
OCE BRI menilai peluang pertumbuhan kredit masih terbuka di sektor-sektor berbasis konsumsi seperti perdagangan, ritel, transportasi, akomodasi makan-minum, serta sektor konstruksi yang didukung proyek pemerintah.
Namun, tekanan pada daya beli kelas menengah-bawah, lemahnya sektor informal, serta risiko perlambatan global perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kualitas aset kredit dan kemampuan pembayaran debitur ke depan.
Karena itu, meskipun pemulihan ekonomi Indonesia mulai mendekati level normal, kualitas pemulihan masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Ekonomi memang tumbuh lebih tinggi, tetapi keberlanjutannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan memperkuat daya beli kelas menengah dan bawah, memperluas lapangan kerja formal, menjaga stabilitas harga energi, serta mengantisipasi dampak geopolitik global yang semakin tidak pasti.
Sebab pada akhirnya, kekuatan ekonomi domestik bukan hanya diukur dari tingginya pertumbuhan PDB, tetapi dari seberapa luas masyarakat dapat merasakan pemulihan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

