Neraca Perdagangan Surplus 71 Bulan Beruntun, Industri Pengolahan Jadi Penopang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Neraca perdagangan Indonesia periode Maret 2026 kembali mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar US$ 3,32 miliar. Capaian ini memperpanjang tren surplus neraca perdagangan Indonesia menjadi 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, menunjukkan ketahanan industri di tengah dinamika global.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebutkan, kinerja surplus Maret 2026 terutama ditopang sektor nonmigas yang mencatatkan surplus sebesar US$ 5,21 miliar, meskipun sektor migas masih defisit sebesar US$ 1,89 miliar.
“Surplus yang terus berlanjut pada periode Maret 2026 ini menunjukkan fundamental perdagangan Indonesia tetap kuat. Indonesia tetap menjaga surplus bulanannya. Kemudian, ekspor nonmigas menopang kinerja perdagangan Januari-Maret 2026, khususnya dari sektor industri pengolahan yang semakin berdaya saing di pasar global,” ujar Mendag dalam keterangan tertulisnya, Kamis (7/5/2026).
Secara kumulatif Januari-Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$ 5,55 miliar. Surplus tersebut terdiri atas surplus nonmigas sebesar US$ 10,63 miliar dan defisit migas sebesar US$ 5,08 miliar, dan surplus nonmigas terutama ditopang tiga komoditas utama.
Di antaranya adalah lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) mencatat surplus senilai US$ 8,68 miliar, diikuti bahan bakar mineral (HS 27) US$ 6,22 miliar, serta besi dan baja (HS 72) US$ 4,29 miliar.
Baca Juga
Dari sisi mitra dagang, surplus nonmigas Indonesia terbesar di periode tersebut berasal dari Amerika Serikat (AS) dengan nilai US$ 5,06 miliar, disusul India sebesar US$ 3,36 miliar, dan Filipina sebesar US$ 2,05 miliar. Sementara itu, defisit nonmigas terdalam tercatat dengan Tiongkok sebesar US$ 5,52 miliar, diikuti Australia sebesar US$ 2,38 miliar, dan Prancis sebesar US$ 0,63 miliar.
Adapun pada Maret 2026, kinerja ekspor Indonesia tercatat sebesar US$ 22,53 miliar atau tumbuh 1,62% dibandingkan Februari 2026 (MtM), meskipun secara tahunan masih terkontraksi 3,10% (YoY). Peningkatan ekspor secara bulanan didorong lonjakan ekspor migas sebesar 18,60%, sementara ekspor nonmigas tumbuh terbatas sebesar 0,75%.
Kenaikan ekspor nonmigas ditopang peningkatan signifikan pada sejumlah komoditas utama, di antaranya bijih logam, terak dan abu (HS 26) yang melonjak 8.055,36%, aluminium (HS 76) 112,99%, serta logam mulia dan perhiasan (HS 71) 98,89%.

