Harga Kosmetik Naik Mulai Kuartal III 2026, Efek Pelemahan Rupiah dan Bahan Baku
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Industri kosmetik nasional menghadapi tekanan berlapis akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga bahan baku, terutama plastik. Kondisi ini mendorong pelaku usaha untuk melakukan penyesuaian harga jual, mulai kuartal III-IV tahun ini.
CEO Martha Tilaar Group, Kilala Tilaar memperkirakan, tekanan biaya produksi akan berdampak pada harga jual dalam waktu dekat. Sementara kinerja penjualan kosmetik sepanjang kuartal I hingga kuartal II tahun ini diakui masih menunjukkan tren positif.
“Kemungkinan harga akan naik di kuartal ketiga atau empat, sekitar 3-11%,” ujar Kilala dalam pameran dan seminar B2B ‘Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI)’ di Jiexpo Kemayoran, Rabu (6/5/2026).
Dia menjelaskan, kenaikan harga tidak hanya dipicu oleh lonjakan harga plastik, tetapi juga oleh pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS. Pelemahan Rupiah sangat berpengaruh pada kenaikan biaya produksi karena sekitar 85% bahan baku kosmetik masih bergantung pada impor.
“Kurs Rupiah melemah dari Rp 16.500 ke Rp 17.400, itu sudah sekitar 4%. Ditambah faktor plastik, total kenaikan biaya produksi bisa 8-11%,” jelasnya.
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa ketergantungan pada bahan baku impor masih menjadi isu utama. Dalam satu produk kosmetik, jumlah bahan baku bisa mencapai 30 hingga 40 jenis, yang tidak semuanya tersedia di dalam negeri.
“Secara ekonomis, sebagian bahan memang belum feasible diproduksi di Indonesia,” ujarnya.
Adapun bahan baku yang paling banyak diimpor antara lain emolien untuk produk perawatan kulit, pigmen warna untuk kosmetik dekoratif, serta bahan parfum yang digunakan hampir di semua produk.
Tekanan semakin berat dengan naiknya harga energi, termasuk solar industri yang digunakan dalam proses produksi seperti pemanasan. Harga solar industri disebut melonjak dari Rp 13.500 menjadi Rp 24.000.
Selain itu, lonjakan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir dinilai sangat mengganggu rantai pasok. Kilala menyebut, kenaikan harga plastik bahkan sempat mencapai 200% dalam sebulan terakhir.
Baca Juga
Pasar Industri Kosmetik RI Ekspansif, Total Pendapatan Capai Rp 31,77 Triliun
Technical Director ICI Innovation Zone itu juga merinci, struktur biaya produksi kosmetik masih didominasi pengemasan, sebesar 60% dengan 40% sisanya merupakan bahan baku kosmetik.
“Kalau packaging naik sampai 150–200%, otomatis harga jual tidak mungkin tidak naik. Tidak mungkin kita jual rugi,” tandasnya.
Kilala menilai, kondisi ini menjadi tantangan besar bagi industri, tidak hanya kosmetik tetapi juga sektor lain yang bergantung pada plastik sebagai bahan kemasan.
Sebagai respons kenaikan harga bahan baku, Kilala meyakini bahwa setiap pelaku usaha akan mengambil langkah berbeda. Sebagian memilih mempertahankan harga demi menjaga pangsa pasar meski harus mengorbankan margin, sementara yang lain tidak punya pilihan selain menaikkan harga.
“Ada yang tetap tahan harga demi market share, tetapi margin tergerus. Ada juga yang sudah tidak kuat, margin habis, akhirnya harus menaikkan harga jual,” imbuhnya.
Dengan berbagai tekanan tersebut, industri kosmetik diperkirakan akan memasuki periode penuh tantangan pada paruh kedua tahun ini, seiring upaya pelaku usaha menyeimbangkan antara daya beli konsumen dan keberlanjutan bisnis.

