Bea Masuk LPG 0% Jadi Angin Segar Industri Plastik, Tekan Biaya Produksi di Tengah Krisis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyambut baik kebijakan pembebasan bea masuk liquefied petroleum gas (LPG), yakni dari 5% menjadi 0% sebagai subsitusi bahan baku industri petrokimia dan plastik di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah.
Ketua Umum Inaplas Suhat Miyarso menilai, kebijakan tersebut sebagai salah satu solusi untuk menekan biaya produksi di tengah tekanan krisis global dan mahalnya bahan baku. Ia menjelaskan, usulan itu sudah telah disampaikan sejak beberapa tahun lalu.
"Dan alhamdulillah dalam posisi sekarang yang terdesak ini pemerintah memberikan keputusan untuk membebaskan bea masuk untuk LPG," ucap Suhat dalam diskusi Forwin bertajuk 'Krisis Energi dan Ancaman Dumping: Saatnya Perkuat Industri Kimia Nasional' di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Menurut Suhat, LPG dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif dalam produksi petrokimia, khususnya sebagai substitusi naphtha yang selama ini masih bergantung pada impor. Dengan bea masuk 0%, pelaku industri berharap LPG dapat lebih kompetitif dari sisi harga.
Baca Juga
BPS: Impor Plastik Indonesia Maret 2026 Turun 14,96 Persen Jadi US$ 338,1 Juta
Kendati demikian, menurut Suhat, penggunaan LPG tidak bisa sepenuhnya menggantikan bahan baku utama industri petrokimia, yakni nafta. Saat ini, utilisasi LPG sebagai bahan baku hanya berada di kisaran 20% hingga 40%.
"Jadi kalau dilihat dari tadi manfaatnya atau apa penurunan harga saya rasa belum bisa kita sampaikan sekarang, tapi kita masih lihat situasi, yang jelas bahwa hal tersebut positif bagi produksi petrokimia di Indonesia tinggal kita bagaimana manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya sehingga nantinya bisa menekan biaya produksi produk-produk petrokimia," bebernya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Inaplas Edi Rivai menilai kebijakan tersebut tidak hanya bersifat jangka pendek. Dengan dukungan teknologi yang sudah dimiliki industri, LPG dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi bahan baku dalam jangka panjang.
Meski begitu, pelaku industri menilai kebijakan ini belum cukup untuk mendorong kemandirian sektor petrokimia nasional. Pemerintah tetap didorong untuk memperkuat pasokan bahan baku domestik melalui pembangunan kilang minyak dan pengembangan alternatif feedstock lainnya.
"Dan tentu kita harapkan kita tidak bisa ketergantungan impor ke depan terlalu tinggi kita mesti berupaya bagaimana mengembangkan industri petrokimia ini dapat mencukupi kebutuhan kita sendiri," terang Edi Rivai.

