‘Booming’! Ekspor Burung Hias Melonjak 237%, Mendag Bidik Pasar Amerika dan Asia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso mengungkapkan, ekspor burung hias asal Indonesia mengalami booming alias mencatatkan pertumbuhan sangat tajam di tengah dinamika pasar global. Ekspor komoditas ini melonjak 237% secara tahunan(year on year/yoy) pada 2025.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Mendag menjelaskan, nilai ekspor burung hias Indonesia pada 2025 menembus Rp 12,5 miliar, naik 237% (yoy). Angka ini menunjukkan bahwa potensi burung hias hasil penangkaran lokal semakin diminati oleh pasar internasional.
“Kalau kita lihat nilai ekonomi di balik kicau mania itu sekitar Rp 1,7 triliun sampai Rp2 triliun. Tahun lalu ekspor burung hias mencapai Rp 12,5 miliar,” kata Budi Santoso saat ditemui di sela-sela acara Festival Burung Berkicau di kantor Kemendag, Jakarta, Minggu (5/3/2026).
Baca Juga
Meskipun saat ini pasar utama ekspor masih didominasi Singapura dan beberapa negara di Timur Tengah, Mendag mulai memberikan atensi khusus pada stabilitas pasar. Hal ini menyusul memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi menghambat jalur distribusi dan permintaan.
"Timur Tengah ini memang sedang ada gangguan (perang), mungkin akan berdampak sedikit pada volume ekspor kita ke sana," ujar pria yang akrab disapa Busan itu.
Sebagai langkah antisipasi, menurut Mendag, Kementerian Perdagangan (Kemendag) tengah menyiapkan strategi diversifikasi pasar. Pemerintah berencana mengalihkan fokus dan menjajaki peluang baru di wilayah Amerika serta memperkuat penetrasi di kawasan Asia lainnya.
Busan mengakui, mencari pasar baru bukan perkara mudah, namun Indonesia memiliki pengalaman saat menghadapi krisis pandemi Covid-19. Krisis seringkali membuka celah pasar baru karena adanya kekosongan pasokan dari negara pesaing.
Baca Juga
Mendag: UMKM Indonesia Makin Kompetitif, Transaksi Ekspor Tembus US$ 23 Juta
"Kita mencoba menjajaki pasar Amerika, kemudian di Asia untuk menggantikan pasar di Timur Tengah. Kita ambil kesempatan saat ada negara yang pasokannya terhenti," tambah dia.
Selain aspek ekonomi, Busan menekankan bahwa burung yang diekspor merupakan hasil ternak atau penangkaran (breeding). Hal ini penting untuk memastikan bahwa aktivitas perdagangan internasional tidak merusak habitat asli burung di alam liar.
“Burungnya itu burung hias dan hasil ternak. Jadi, sama sekali tidak merusak habitat aslinya,” tutur dia.

