Harga Emas Terbang, tapi Masih Merah secara Bulanan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas global melonjak lebih 2% pada perdagangan Kamis (30/4/2026), terdorong pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak dunia. Meski demikian, logam mulia ini masih mencatatkan penurunan bulanan kedua berturut-turut karena kekhawatiran inflasi di tengah konflik Iran terus membayangi peluang penurunan suku bunga global.
Harga emas spot naik 2,2% menjadi US$ 4.639,26 per ons setelah sempat menyentuh level terendah dalam satu bulan pada sesi sebelumnya. Sementara kontrak berjangka emas pengiriman Juni menguat 2% menjadi US$ 4.652,30 per ons.
Baca Juga
Ada Bea Keluar, Setoran Penerimaan dari Ekspor Emas Diperkirakan Menciut pada 2026
Penguatan emas juga menyusul sinyal pejabat Jepang terkait kemungkinan intervensi pasar valuta asing untuk menopang yen. Pelemahan greenback membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan kombinasi pelemahan dolar dan meredanya lonjakan harga energi memberikan dorongan jangka pendek bagi pasar emas. "Perlambatan tekanan harga energi menciptakan ruang bagi investor untuk kembali masuk ke aset safe haven tersebut," kata dia dikutip CNBC.
Namun secara bulanan, harga emas spot masih turun 0,7%. Penurunan itu menandai bulan kedua berturut-turut pelemahan harga di tengah kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Secara historis, emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik. Meski begitu, ketika suku bunga tinggi bertahan, daya tarik emas cenderung berkurang karena investor beralih ke aset berbunga yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Sentimen pasar juga dipengaruhi keputusan bank sentral utama dunia. Federal Reserve (The Fed) pada Rabu (30/4/2026) mempertahankan suku bunga acuannya, tetapi menyoroti risiko inflasi yang masih tinggi. Sikap serupa ditunjukkan Bank of England yang tetap menahan suku bunga sambil memetakan skenario ekonomi akibat perang Iran.
Bank sentral Inggris bahkan menyebut salah satu skenario dapat memaksa kenaikan biaya pinjaman secara tidak terduga jika tekanan inflasi memburuk. Data ekonomi terbaru semakin memperkuat kekhawatiran tersebut. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi favorit The Fed, naik 0,7% bulan lalu.
Kenaikan itu menjadi yang terbesar sejak Juni 2022 dan sejalan dengan ekspektasi ekonom, menandakan tekanan harga belum sepenuhnya mereda.
Analis Citigroup menilai tekanan jual pada emas masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek karena tingginya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Meski demikian, bank investasi itu memperkirakan logam mulia tersebut tetap akan kembali menjadi aset perlindungan utama ketika volatilitas pasar meningkat.
Citigroup mempertahankan target harga emas di level US$ 4.300 untuk horizon tiga bulan dan US$ 5.000 untuk periode enam hingga 12 bulan mendatang.
Baca Juga
Di pasar fisik Asia, permintaan emas di India terpantau lesu sepanjang pekan ini. Fluktuasi harga global yang tinggi dan pelemahan rupee membuat pembeli cenderung menahan transaksi. Sebaliknya, permintaan di China meningkat menjelang libur Hari Buruh. Aktivitas penimbunan mendorong premi emas domestik naik seiring meningkatnya minat beli.
Logam mulia lainnya juga mencatat penguatan. Harga perak spot naik 3% menjadi US$ 73,63 per ons. Platinum melonjak 4,6% ke level US$ 1.965,23 per ons, sementara paladium bertambah 1,5% menjadi US$ 1.480,75 per ons.

