Harga Emas Turun Pasca-The Fed Tahan Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas melemah pada perdagangan Rabu (29/4/2026) setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) mempertahankan suku bunga acuannya, sesuai ekspektasi pasar. Keputusan tersebut memicu tekanan baru bagi logam mulia di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Pelemahan ini terjadi setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan menahan suku bunga tanpa perubahan. Sikap bank sentral AS itu dinilai memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dalam waktu lebih panjang, terutama ketika tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama pasar.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Terkoreksi Rp 9.000 di Tengah Gejolak Global
Harga emas tercatat turun 1,2% menjadi US$ 4.541,30 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas untuk pengiriman Juni melemah 1,3% ke level US$ 4.546,20 per ons.
Tekanan terhadap emas juga datang dari perkembangan geopolitik setelah laporan terbaru menyebut negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menemui jalan buntu. Situasi ini memperbesar ketidakpastian pasar global dan menambah kehati-hatian investor dalam mengambil posisi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tidak puas dengan proposal terbaru dari Teheran. Ia menilai Iran sedang berada dalam situasi yang sulit dan tengah mencari solusi atas persoalan kepemimpinannya.
Analis MarketPulse by OANDA Zain Vawda mengatakan sentimen pasar kini bergerak ke arah yang lebih skeptis terhadap peluang tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran.
Menurut dia, kondisi tersebut memperkuat narasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. “Sentimen pasar telah bergeser ke arah skeptisisme terkait potensi kesepakatan AS-Iran, memperkuat narasi suku bunga ‘tinggi untuk jangka waktu lama,” kata Vawda.
Lingkungan suku bunga tinggi biasanya menekan harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya. Ketika tingkat bunga meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang menawarkan return tetap.
Baca Juga
Vawda menilai sensitivitas emas terhadap arah kebijakan suku bunga kini semakin besar, terutama dengan tambahan tekanan dari kenaikan harga minyak yang berpotensi memicu inflasi lebih tinggi. “Emas tetap sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan suku bunga ini, yang saat ini diperparah oleh tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak,” ujarnya.
Meski demikian, ia melihat ruang penguatan harga emas masih terbuka apabila AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan dalam waktu dekat. Dalam skenario tersebut, tren kenaikan harga dinilai berpotensi kembali menguat.
Vawda memperkirakan harga emas dapat menutup tahun di kisaran US$ 5.300 hingga US$ 5.500 per ons apabila ketidakpastian geopolitik mereda dan sentimen pasar kembali mendukung aset safe haven.

