Targetkan Lonjakan Produksi, Pertamina Buka Kerja Sama Sumur 'Idle'
Perkuat Ketahanan Energi Nasional, PHE Dorong KSOT Struktur dan Area Migas dengan standar HSSE Ketat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina (Persero) menggelar sosialisasi konsep kerja sama operasi dan/atau teknologi (KSOT) di Jakarta untuk mendorong peningkatan produksi migas nasional, termasuk potensi struktur idle melalui kolaborasi mitra, sekaligus memastikan standar keselamatan tetap terjaga di tengah tantangan energi global.
Inisiatif ini selaras dengan regulasi terbaru, yakni Permen ESDM No. 14 Tahun 2025 tentang Kerja Sama Pengelolaan Bagian Wilayah Kerja Untuk Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi serta Pedoman Tata Kerja (PTK) SKK Migas No. 23 Tahun 2025 tentang Pelaksanaan Kerjasama Pengelolaan Bagian Wilayah Kerja untuk Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi. Kedua aturan ini sebagai dasar pelaksanaan kerja sama operasi dan teknologi di sektor hulu.
Direktur Utama PHE Awang Lazuardi menyatakan dukungan regulasi dari pemerintah membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi industri hulu migas. “KSOT merupakan bagian dari strategi kita untuk mendukung kemandirian energi dan meningkatkan produksi migas nasional. Kami mengundang para mitra dan penyedia teknologi untuk berpartisipasi aktif dalam peluang kerja sama ini,” ujar Awang dikutip Selasa (28/4/2026).
Konsep KSOT dirancang untuk mengoptimalkan potensi struktur idle dan temuan migas yang belum dikembangkan melalui kemitraan dengan penyedia teknologi. Skema ini diharapkan dapat mempercepat monetisasi cadangan sekaligus meningkatkan produksi nasional yang selama ini tertahan di sejumlah wilayah kerja.
Baca Juga
Garap Blok Sulawesi, PHE Teken Kontrak WK Lavender dengan SKK Migas
Sebagai implementasi awal, PHE telah membuka kerja sama pengelolaan sumur idle dan melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama idle wells batch 1 serta confidentiality agreement untuk batch 1 dan batch 2 bersama calon mitra.
Awang menegaskan bahwa seluruh proses bisnis harus mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) serta menjadikan aspek health, safety, security, and environment (HSSE) sebagai prioritas utama. “Tidak ada kepentingan bisnis perusahaan yang begitu penting sehingga kita harus mengorbankan aspek HSSE,” tegasnya.
Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) Emma Sri Martini mengatakan kerja sama pengelolaan struktur dan area migas sejalan dengan inisiatif strategis perusahaan untuk memperkuat ketahanan energi nasional. “Setiap barel itu sangat berarti sekali buat Pertamina sekarang, every single barrel is very meaningful untuk memperkuat ketahanan energi nasional, apalagi jika melihat situasi geopolitik saat ini,” kata Emma.
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochammad Iriawan menilai pendekatan kemitraan melalui KSOT menjadi langkah penting dalam mengoptimalkan potensi migas yang belum tergarap. Tantangan utama bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan bagaimana mengonversi potensi tersebut menjadi produksi nyata yang mendukung ketahanan energi, dengan tetap mengutamakan keselamatan dan tanggung jawab lingkungan.
Sementara itu, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan aspek HSSE harus menjadi fondasi dalam setiap upaya peningkatan produksi. Dirjen Migas Laode Sulaeman mengapresiasi sosialisasi tersebut sebagai langkah penting dalam memperkuat implementasi kebijakan baru di sektor hulu.
Baca Juga
Obligasi Global US$ 1 Miliar Bawa PHE Sabet Penghargaan Internasional
Komisaris PHE Nanang Untung mengingatkan bahwa risiko keselamatan di industri hulu migas tetap tinggi meski skala proyek lebih kecil. Ia menekankan bahwa peningkatan produksi harus berjalan seiring dengan kemampuan pengelolaan risiko.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto juga menegaskan keselamatan sebagai prioritas utama dalam setiap kegiatan hulu migas, termasuk perlindungan terhadap lingkungan sekitar wilayah kerja.
Ke depan, PHE akan menawarkan sebanyak 31 struktur yang tersebar di Regional 1 hingga Regional 4 dalam dua tahap penawaran. Program ini mencakup pengelolaan struktur idle dan undeveloped discovery yang diharapkan dapat menarik minat investor dan mitra teknologi.

