Kadin: Kerja Sama RI–China Melebar dari Hilirisasi ke Energi Hijau hingga Ketahanan Pangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai kerja sama ekonomi Indonesia–China kini tidak lagi terbatas pada hilirisasi sumber daya alam (SDA), tetapi mulai bergeser ke industrialisasi, energi baru terbarukan, hingga penguatan ketahanan pangan.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, pada tahap awal kolaborasi kedua negara memang didominasi oleh proyek hilirisasi, terutama pada komoditas strategis, seperti nikel.
“Pada awal kerja samanya luar biasa, tentunya untuk hilirisasi sumber daya alam, seperti nikel. Namun, ujungnya bisa juga ke tembaga dan mineral lainnya,” kata Anindya Bakrie ditemui di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga
Anindya Bakrie: RI Siapkan Mitigasi Investigasi USTR Section 301 untuk Jaga Industri Nasional
Seiring waktu, lanjutnya, kerja sama tersebut mulai berkembang ke tahap yang lebih tinggi, yakni industrialisasi yang menghasilkan nilai tambah lebih besar di dalam negeri. Salah satu contohnya pengembangan industri panel surya yang memanfaatkan potensi silika Indonesia sebagai bahan baku. “Dari hilirisasi jadi industrialisasi, misalnya pembuatan solar panel. Indonesia punya silika, jadi nilai tambahnya meningkat,” sebut Anindya.
Anindya menyoroti keunggulan China dalam pengembangan energi baru terbarukan, yang dinilai dapat menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi. “China sangat maju, bahkan paling maju di dunia untuk energi baru terbarukan, baik geotermal maupun angin,” katanya.
Tak hanya sektor energi, kerja sama kedua negara juga mulai merambah sektor ketahanan pangan yang dinilai semakin strategis di tengah ketidakpastian global.
Menurut Anindya, dinamika geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global justru menjadi momentum bagi Indonesia untuk membangun model pertumbuhan baru.
“Dengan kondisi geopolitik saat ini, kita tidak tinggal diam. Justru bisa menciptakan model bisnis baru dan pertumbuhan baru, termasuk di sektor ketahanan pangan,” ucap Anindya.
Dia menambahkan, kebutuhan inovasi dan terobosan ekonomi semakin mendesak, terutama bagi pelaku usaha di berbagai daerah yang berada di bawah jaringan Kadin di 38 provinsi dan seluruh kabupaten/kota.
Baca Juga
RI–China Makin Mesra, Kadin Dorong Kerja Sama Ayam Petelur untuk Dukung MBG
Lebih lanjut, Anindya menegaskan bahwa kekuatan hubungan Indonesia–China tidak hanya terletak pada kerja sama antar pemerintah (government to government/G2G), tetapi juga hubungan bisnis (business to business/B2B) hingga antar masyarakat (people to people/P2P).
Hal ini tercermin dari tingginya mobilitas kedua negara, termasuk sekitar 1,3 juta wisatawan China ke Indonesia serta jutaan warga Indonesia yang tinggal, belajar, dan bekerja di China. “Hubungan ini bukan hanya G2G, tapi juga B2B hingga P2P yang sangat besar. Ini sangat membantu pertumbuhan ekonomi dan pertukaran budaya,” kata Anindya.
Menurutnya, penguatan kerja sama lintas sektor tersebut menjadi fondasi penting untuk meningkatkan resiliensi ekonomi nasional sekaligus membuka peluang pertumbuhan jangka panjang di tengah tantangan global.

