Bagikan

Kembangkan 'Dryport' Batang Berbasis Rel, KAI Tekan Biaya Logistik

Poin Penting

KAI kembangkan dryport Batang untuk integrasi logistik dari kawasan industri hingga pelabuhan.
Biaya logistik Indonesia masih 15% hingga 20% dari PDB, di atas standar global.
Efisiensi logistik hingga 30% berpotensi hemat sekitar Rp 1.000 triliun per tahun.

JAKARTA, investortrust.id — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menandatangani nota kesepahaman (memoranduum of understanding/MoU) pengembangan logistik berbasis rel di Dryport Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah bersama para mitra untuk menekan biaya logistik nasional.

Adapun mitra yang turut menandatangani MoU adalah PT Kawasan Industri Terpadu Batang, PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (Perseroda), dan Perumda Aneka Usaha Kabupaten Batang.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin menyatakan, pengembangan dryport di Batang menjadi bagian pembangunan ekosistem logistik terintegrasi dari kawasan industri hingga pelabuhan.

“Di Batang ini akan tumbuh kawasan industri yang terhubung dengan kota mandiri. KAI hadir sebagai pengangkut dari dryport menuju pelabuhan, dan di ujungnya Pelindo memastikan konektivitas ke pasar global. Dengan integrasi ini, kita dorong biaya logistik turun dan lebih kompetitif,” kata Bobby dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).

Baca Juga

KAI, Surge, dan Huawei Teken MoU Dorong Implementasi 5G+AI di Perkeretaapian

Dia menyebut biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 15% hingga di atas 20% terhadap produk domestik bruto (PDB), sedangkan standar global berada di kisaran 7–8%.

“Kalau kita bisa menurunkan biaya logistik secara signifikan, maka biaya produksi industri juga akan ikut turun. Dampaknya langsung terasa pada daya saing produk Indonesia di pasar global,” ujar Bobby.

KAI juga meningkatkan kapasitas angkutan barang dengan mengoperasikan gerbong berkapasitas rata-rata 50 ton yang ditingkatkan menjadi 70 ton. Dalam satu rangkaian hingga 60 gerbong, kapasitas angkut dapat mencapai 4.200 ton per perjalanan.

Kereta barang. (Dok KAI)
Source: Dok KAI

Selain itu, KAI menyiapkan pengembangan jalur langsung menuju pelabuhan untuk meningkatkan fleksibilitas distribusi. Saat ini distribusi menuju Pelabuhan Tanjung Priok masih menggunakan jalur eksisting dengan keterbatasan waktu operasional sekitar lima jam per hari. “Dengan jalur langsung, distribusi barang akan menjadi lebih fleksibel dan efisien,” tutur Bobby.

KAI mencatat sekitar 60% aktivitas logistik nasional berada di Pulau Jawa dengan nilai biaya logistik diperkirakan mencapai Rp 2.400–2.500 triliun per tahun. Perusahaan menyebut efisiensi 30% dapat menghasilkan penghematan sekitar Rp 1.000 triliun.

Pengembangan dryport di KEK Industropolis Batang juga diarahkan sebagai pusat konsolidasi logistik di Jawa Tengah. “Dryport ini kami dorong menjadi agregator logistik, selain melayani kawasan Batang juga melayani wilayah Jawa Tengah secara luas. Dengan jaringan lebih dari 600 stasiun yang dimiliki KAI di Pulau Jawa, potensi distribusi berbasis rel sangat besar,” jelas Bobby.

Baca Juga

Seusai Bertemu Menteri Nusron, Menteri Ara Pastikan Tanah KAI di Tanah Abang Milik Negara

Sepanjang kuartal I-2026, KAI mencatat angkutan barang sebesar 14.948.442 ton. Pada periode yang sama, angkutan peti kemas mencapai 1.371.036 ton, meningkat dari 1.196.600 ton pada kuartal I-2025.

Dari sisi operasional, ketepatan waktu (ontimeperformance/OTP) keberangkatan angkutan barang tercatat 95,97% dan kedatangan 91,77%. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar 95,89% dan 87,04%.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024