Elektrifikasi Tambang Digenjot, PLN Perkuat Kolaborasi dengan Industri Batu Bara
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT PLN (Persero), badan usaha milik negara (BUMN) di sektor kelistrikan, memperkuat transformasi sektor pertambangan dengan menjalin kerja sama strategis bersama sejumlah produsen batu bara melalui perjanjian jual beli tenaga listrik (PJBL) dan solusi bisnis terintegrasi guna mendorong elektrifikasi operasional tambang.
Kolaborasi ini menjadi langkah konkret PLN mendorong konsep green mining atau pertambangan ramah lingkungan melalui pemanfaatan energi listrik yang lebih bersih, efisien, dan andal, khususnya untuk mendukung penggunaan alat berat berbasis listrik.
Hal tersebut diwujudkan melalui penandatanganan PJBL dan memorandum of understanding integrated business solution mencakup penyediaan listrik bagi PT Trubaindo Coal Mining sebesar 30 mega-volt ampere (MVA), PT Sembada Makmur Sejahtera 55 MVA, PT Marga Bara Jaya 35 MVA, PT Maruwai Coal 71 MVA, PT Makmur Sejahtera Wisesa 106 MVA, dan PT Berau Coal 29 MVA.
Selain itu, melalui solusi bisnis terintegrasi, PLN bersama anak usahanya juga menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan, termasuk PT Masmindo Dwi Area untuk pembangunan instalasi dan gardu pelanggan, PT Maruwai Coal untuk pembangunan instalasi milik pelanggan, serta PT Sembada Makmur Sejahtera untuk pekerjaan engineering design dan pembangunan instalasi tegangan tinggi.
Baca Juga
Penggunaan SPKLU Naik 4,14 Kali Saat Lebaran 2026, PLN Ungkap Tren Kendaraan Listrik
Koordinator Konservasi dan Mineral Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ari Hendrawanto menjelaskan bahwa elektrifikasi alat berat menjadi kunci utama dalam menurunkan emisi di area operasional tambang. Ia menilai langkah ini penting untuk mencapai target net zero emissions pada 2060 atau lebih cepat.
“Strategi pengurangan emisi dilakukan melalui berbagai pendekatan, seperti pengurangan produksi, substitusi energi ke sumber lain, seperti biomassa, serta peningkatan efisiensi dan elektrifikasi. Elektrifikasi alat berat menjadi salah satu solusi utama, mengingat konsumsi energi terbesar berada pada kegiatan pengangkutan dan pemindahan material,” ujar Ari dalam Focus Group Discussion (FGD) Powering The Future of Green Mining di Jakarta, dikutip Selasa (21/4/2026).
Ari menambahkan transisi ini juga memberikan manfaat finansial bagi pelaku industri. Dengan perbandingan harga diesel dan tarif listrik saat ini, potensi penghematan biaya operasional dapat mencapai Rp 2 miliar per tahun untuk setiap unit alat berat jika diterapkan secara luas.
Direktur Retail dan Niaga PT PLN Persero Adi Priyanto menegaskan bahwa transisi energi tidak hanya terkait isu lingkungan, tetapi juga strategi memperkuat kemandirian energi nasional. “Pengembangan green mining di sektor pertambangan menjadi salah satu solusi strategis untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus memastikan keberlanjutan industri batu bara ke depan,” ujar Adi.
Menurut Adi, PLN telah menyiapkan berbagai layanan inovatif yang disesuaikan dengan kebutuhan industri tambang, termasuk penyediaan listrik berbasis lokasi dan skema layanan fleksibel untuk mendukung operasional. Ia menambahkan forum ini dimanfaatkan untuk mengidentifikasi potensi pertumbuhan permintaan listrik di sektor tambang serta merumuskan strategi pengelolaan aset kelistrikan setelah masa operasi tambang berakhir.
Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN Dini Sulistyawati menilai titik konsumsi energi terbesar berada pada proses pengangkutan hasil tambang. Oleh karena itu, penggunaan energi listrik pada proses hauling dinilai menjadi langkah efektif untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menekan emisi.
Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Priyadi menyambut positif kolaborasi ini. Ia menilai sinergi antara produsen batu bara dan PLN dapat menciptakan hubungan yang saling menguntungkan sekaligus mendukung efisiensi rantai pasok energi. “Nah ini adalah kesempatan yang baik, baik bagi kita produsen batu bara maupun PLN sebagai penyedia strumnya. Supaya ini terjadi simbiosis mutualisme yang paling menguntungkan,” ujar Priyadi.
Baca Juga
PGE dan PLN Sepakati Tarif Listrik Proyek Panas Bumi Lahendong 15 MW
Dukungan terhadap elektrifikasi juga disampaikan oleh pelaku industri, salah satunya PT Borneo Indobara. Division Head Project Expansion PT Borneo Indobara Adi Supriyatna menyatakan bahwa elektrifikasi menjadi langkah strategis perusahaan dalam merespons perubahan iklim dan fluktuasi harga bahan bakar.
“Elektrifikasi PT Borneo Indobara merupakan langkah strategis menuju pertambangan hijau untuk merespons ancaman perubahan iklim dan tren kenaikan harga bahan bakar. Transisi ini didukung oleh pembangunan infrastruktur kelistrikan secara masif bersama PLN guna mengoperasikan berbagai alat berat listrik serta stasiun pengisian daya bagi 700 unit truk listrik,” ujarnya.

