Menteri Empat Era Itu Telah Tiada (Obituarium Juwono Sudarsono)
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID – “Menikmati hari baru. Usia baru. Kebahagian kecil yang berarti. Selamat pagi.” Kalimat singkat namun penuh makna itu diposting Juwono Sudarsono di akun Facebook-nya pada 5 Maret 2026, persis pada hari ulang tahunnya yang ke-84.
Sebuah foto terpampang di bawah kalimat itu. Mengenakan kaos lengan panjang bergaris hitam-putih, Juwono tengah membaca koran sambil tiduran. Kepalanya tertumpu pada sebuah bantal putih. Wajahnya masih kelihatan segar.
Hari ini, kabar duka itu datang: “Innalillahi wa innailaihi rojiun. Telah meninggal dunia Prof Dr Juwono Sudarsono, Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Bersatu pada Sabtu, 28 Maret 2026 jam 13:45 di RSPI Pondok Indah, Jakarta”. Demikian bunyi pesan berantai di media sosial (medsos) yang telah dikonfirmasi Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemenhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait.
Tokoh yang dikenal sebagai begawan ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) itu tutup usia setelah menjalani perawatan medis. Rencananya, jenazah almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, pada Minggu (29/3/2026) besok. Kepergian almarhum meninggalkan warisan pemikiran yang besar dalam tata kelola pertahanan dan pendidikan di Indonesia.
Baca Juga
Prabowo Beri Arahan ke Pimpinan TNI soal Strategi Pertahanan dan Rencana Geostrategi
Menteri Empat Era Kepemimpinan
Juwono Sudarsono --lahir di Ciamis, Jawa Barat pada 5 Maret 1942-- memiliki rekam jejak pengabdian yang luar biasa di pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup di era Presiden ke-2 RI (Soeharto), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Presiden ke-3 RI (BJ Habibie), Menteri Pertahanan pertama dari kalangan sipil di era Presiden ke-4 RI (Abdurrahman Wahid/Gus Dur), Dubes RI untuk Britania Raya pada era Presiden ke-5 RI (Megawati Soekarnoputri), serta Menteri Pertahanan pada masa Presiden ke-6 RI (Susilo Bambang Yudhoyono/SBY).
Kepergian Juwono Sudarsono pada Sabtu siang, 28 Maret 2026, pukul 13.45 WIB di RSPI Pondok Indah, menandai berakhirnya satu bab penting dalam sejarah pemikiran dan kebijakan pertahanan Indonesia. Ia bukan sekadar pejabat negara, melainkan seorang intelektual, diplomat, sekaligus guru bangsa yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri pada penguatan peran sipil dalam sektor keamanan.
Jejak Panjang Cendekiawan Negara
Juwono adalah putra Sudarsono, mantan Menteri Dalam Negeri Indonesia pada Kabinet Sjahrir. Ia menikah dengan Rr Priharumastinah pada 1973. Pasangan tersebut dikaruniai dua anak (Yudhistira Juwono dan Vishnu Juwono).
Juwono meraih gelar Sarjana dari Universitas Indonesia (UI) pada 1965, gelar MA dari Universitas California, Berkeley pada 1970, dan gelar PhD dari London School of Economics and Political Science pada 1975.
Selama berkecimpung di dunia pendidikan, Profesor Juwono pernah menjadi Guru Besar Tamu Columbia University, New York (AS) pada 1986-1987, Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional UI pada 1988-2020, Dekan FISIP UI pada 1988-1994, dan Wakil Gubernur (Wagub) Lemhanas.
Berdasarkan catatan investortrust.id, di setiap posisi yang diembannya, Juwono dikenal sebagai sosok yang tenang, rasional, dan menjunjung tinggi pendekatan berbasis ilmu pengetahuan. Ia menjadi jembatan antara dunia akademik dan praktik kebijakan publik, sesuatu yang jarang dimiliki oleh banyak pejabat negara.
Karya dan Sumbangsih Pemikiran
Sebagai akademisi, Juwono meninggalkan jejak intelektual yang kuat. Ia aktif menulis, berbicara di berbagai forum internasional, dan menjadi rujukan dalam kajian hubungan sipil-militer serta kebijakan pertahanan.
Pemikirannya banyak berkontribusi dalam mendorong reformasi sektor keamanan di Indonesia, terutama setelah era Reformasi. Ia menekankan pentingnya supremasi sipil atas militer, transparansi dalam kebijakan pertahanan, serta profesionalisme TNI dalam kerangka negara demokratis.
Baca Juga
Dorong Kemandirian Pertahanan Nasional, Hilirisasi Jadi Bentuk Kepahlawanan Modern
Di tingkat internasional, ia juga dikenal sebagai diplomat yang mampu menjelaskan posisi Indonesia secara elegan dan berwibawa, menjadikannya salah satu wajah intelektual Indonesia di mata dunia.
Legasi: Supremasi Sipil dalam Pertahanan
Catatan investortrust.id menunjukkan, dari sekian banyak kontribusinya, warisan paling monumental Juwono Sudarsono adalah upayanya memperkuat konsep supremasi sipil dalam sektor pertahanan Indonesia. Di masa ketika hubungan sipil-militer masih mencari bentuk pasca-Reformasi, ia tampil sebagai arsitek pemikiran yang menegaskan bahwa militer harus berada dalam kendali otoritas sipil yang demokratis.
Juwono juga berperan dalam mendorong modernisasi kebijakan pertahanan yang lebih transparan dan akuntabel, tanpa meninggalkan prinsip kedaulatan nasional. Pendekatan ini menjadi fondasi penting bagi arah pembangunan pertahanan Indonesia hingga hari ini.
Lebih dari sekadar kebijakan, Juwono meninggalkan teladan tentang bagaimana seorang intelektual dapat hadir di ruang kekuasaan tanpa kehilangan integritas akademiknya. Ia menunjukkan bahwa pemikiran yang jernih dan sikap yang tenang bisa menjadi kekuatan dalam menghadapi kompleksitas dunia politik dan keamanan.
Kepergian Juwono Sudarsono bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Ia meninggalkan jejak yang tidak hanya tercatat dalam dokumen kebijakan, tetapi juga dalam cara berpikir generasi penerus tentang pertahanan, demokrasi, dan peran negara.
Dalam diamnya, ia telah membangun fondasi yang kokoh. Dan dalam kepergiannya, warisan itu tetap hidup: menjadi penuntun bagi Indonesia yang terus bergerak maju.

