Chairman Yayasan Pendidikan Pelita Harapan James Riady: Tidak Lengkap Jika Cahaya Natal Tak Sampai ke Pegunungan Papua
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Natal tidak boleh berhenti sebagai perayaan simbolik, apalagi hanya dirasakan di wilayah yang mudah dijangkau. Makna Natal Nasional baru utuh ketika cahaya kasihnya benar-benar sampai ke wilayah Indonesia yang paling jauh dan paling sulit, yakni Papua Pegunungan. Paling tidak, generasi Papua Pegunungan merasakan bahwa lewat tangan sesama saudara sebangsa dan setanah air, Tuhan hadir dan ada bersama mereka.
“Natal itu peristiwa kehadiran. Kalau cahaya Natal tidak sampai ke Pegunungan Papua, maka Natal itu belum lengkap,” ujar James Riady, Founder & Chairman Yayasan Pendidikan Pelita Harapan, dalam pemaparan program Natal Nasional 2025 di Gedung Oikumene, Jakarta, Jumat (12/12/2025). Hadir pada acara itu, Ketua Umum Natal Nasional Maruarar Sirait, Ketua Pelaksana Natal Nasional Jason Balomppapueng, Sekretaris Umum Natal Nasional Raymond Simamora, Gubernur NTT Melki Lakalena, pengacara Juniver Girsang, ahli hukum Lambock V. Nahattand, Martin politisi Gerindra Hutabarat, dan Master Parulian Tumanggor.
Penegasan James menjadi dasar rangkaian aksi Natal Nasional yang secara khusus difokuskan ke Papua Pegunungan, wilayah tanpa listrik, tanpa sinyal, dengan akses logistik yang sangat terbatas, dan nyaris tanpa kehadiran pemerintah. Aksi ini dirancang bukan untuk sensasi, melainkan sebagai kesaksian nasional bahwa negara dan bangsa hadir bersama mereka yang selama ini berada di pinggiran. “Ini bukan laporan teknis, ini cerita tentang apa yang sedang kita kerjakan bersama. Natal tahun ini bukan hanya perayaan, tapi kehadiran,” kata James.
Paket Natal
Fokus utama aksi Natal ini adalah 1.000 paket Natal untuk anak-anak Papua Pegunungan. Paket tersebut berisi sepatu sekolah, alat tulis, Alkitab, dan snack Natal sederhana. Bagi anak-anak di Daboto, Mokndoma, Talca, Karubaga, Danowage, Korupun, Mamit, Tumdungbon, hingga Saman, paket ini menjadi wujud Natal yang nyata, sesuatu yang bisa mereka pegang dengan tangan mereka sendiri.
“Bagi kita ini mungkin sederhana. Tapi bagi mereka, inilah Natal yang sungguh-sungguh mereka alami,” ujar James.
Anggaran untuk 1.000 Paket Natal Anak ke Wilayah Papua Pegunungan mencapai Rp 698 juta. Selain anak-anak, perhatian juga diberikan kepada para pendidik melalui 100 paket Natal untuk guru-guru Papua Pegunungan sebesar Rp 154 juta. Lampu tenaga surya untuk komunitas Rp 295 juta, 300 paket gizi Natal untuk keluarga sekitar sekolah Rp 263 juta, dan satu unit radio pendidikan untuk pendidikan jarak jauh Rp 124 juta.
Baca Juga
Panitia Natal Nasional 2025 Gelar Seminar Bertema Keluarga di Sembilan Kota di Indonesia
Paket Natal Anak Papua Pegunungan terdiri atas sepatu, vitamin, dan suplemen. Ada buku bacaan sebagai penguatan moral bagi guru-guru yang mengajar tanpa listrik, tanpa fasilitas, dan tanpa kepastian, namun tetap memilih bertahan. “Pesannya sederhana: kita melihat saudara-saudara kami di Papua dan menghargai pengabdian mereka,” jelas James.
Aksi Natal ini juga membagikan 10 unit lampu tenaga surya komunitas. Lampu-lampu ini bukan sekadar teknologi, melainkan simbol terang, terang untuk belajar, terang untuk bisa berkumpul bersama, dan terang untuk merasa aman di malam hari. “Kalau boleh dikatakan, ini Natal dalam bentuk cahaya,” ujar James.
Di bidang pendidikan, disiapkan Radio Pendidikan Papua yang dilengkapi komputer, panel surya kecil, antena, dan pemancar. Radio ini menjadi jembatan komunikasi dan pembelajaran di wilayah tanpa sinyal. “Ini bukan proyek media. Ini jembatan agar guru bisa mengajar, anak-anak bisa mendengar, dan komunitas bisa terhubung,” kata James.
Untuk menghadirkan kesaksian Papua Pegunungan kepada seluruh bangsa, panitia juga menyiapkan produksi video berdurasi sekitar empat menit serta opsi siaran langsung, tergantung kondisi sinyal. Narasinya sederhana: anak menerima paket, guru menyalakan lampu surya, malam menjadi terang, keluarga menerima paket gizi, radio pendidikan mengudara, dan Presiden dari Jakarta bisa berinteraksi langsung dengan guru serta anak-anak Papua Pegunungan. “Ini bukan untuk sensasi, tapi untuk kesaksian nasional. Pesannya satu: mereka tidak sendiri,” ujar James.
Total biaya produksi dan logistik media mencapai sekitar Rp 413,5 juta, dengan porsi terbesar untuk logistik lapangan. Anggaran ini termasuk biaya liputan lapangan dan konektivitas cadangan.
Pada puncak acara Natal Nasional, Senin, 5 Januari 2026, ditampilkan 4 menit video sederhana, humanis, dan berkesan tentang anak-anak Pegunungan Papua. Pada video diceritakan tentang anak-anak Papua Pegunungan menerima paket Natal, para guru menerima lampu tenaga surya, keluarga menerima paket gizi, dan radio pendidikan mengudara. Ada interaksi langsung satu-dua guru dan satu-dua siswa dengan Presiden.
Pada interaksi dengan Presiden, siswa dan guru dari Pegunungan Papua menyampaikan tantangan belajar dan mengajar, para guru menyampaikan alasan mereka untuk tetap mengabdi, dan ucapan Natal. “Interaksi menegaskan pesan: cahaya Natal sampai ke wilayah Pegunungan Papua,” ujar James.
Baca Juga
James Riady: Dalam Dunia yang Terfragmentasi, Indonesia Justru Semakin Menarik
Ada juga video tentang pembangunan Jembatan Segetam di Kali Desul, Moo, Desa Korupun, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Jembatan ini membuka akses pendidikan, logistik, dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Total biaya jembatan ini Rp 1,010 miliar.
Selama ini, anak SD harus berjalan sekitar tiga jam untuk sampai ke sekolah. Mereka harus mulai jalan pukul 04.00 dini hari. Jarak sangat jauh karena mereka harus menuruni lembah dan mendaki untuk bisa melewati kali. Dengan jembatan, perjalanan bisa kurang dari satu jam. “Pernah ada guru yang mencoba menempuh jalan sulit itu bersama siswa. Sesampai di sekolah sang guru hanya bisa duduk di kursi, tak punya tenaga untuk mengajar,” papar James.
Jembatan, kata James, juga adalah juga sebuah metafor. Tidak saja dipahami sebagai jembatan fisik. “Bagi anak Papua, jembatan adalah wahana bagi mereka untuk mencapai pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan yang lebih baik. Jembatan untuk mengubah hidup mereka,” katanya.
Total anggaran Rp 2,530 miliar. Meski demikian, James menegaskan bahwa inti dari program ini bukanlah besaran anggaran. “Angkanya mungkin terlihat besar. Tapi, yang sedang kita bangun bukan angka. Yang sedang kita bangun adalah kesaksian Natal Nasional. Natal yang sederhana, berfokus, berani, dan benar-benar menyentuh sesama sebangsa yang paling jauh,” katanya.
James pun menutup pemaparannya dengan satu pesan yang menjadi ruh seluruh gerakan. “Jika Natal tidak sampai ke Papua Pegunungan, maka Natal ini tidak lengkap,” pungkasnya. *

