Waspada Cuaca Ekstrem, Kemenhub: Antisipasi Potensi Penjadwalan Ulang Keberangkatan Transportasi
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah meminta masyarakat yang ingin bepergian untuk memaklumi, jika harus diadakan penjadwalan ulang keberangkatan selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Pasalnya, kerap terjadi cuaca ekstrem di akhir tahun.
Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati menyampaikan, pihaknya bersama dengan pihak kepolisian terus melakukan peningkatkan pengawasan, utamanya dalam mengantisipasi cuaca ekstrem.
“Info dari BMKG, cuaca ekstrem tahun ini mungkin tidak seekstrem tahun lalu, tetapi tetap kita siagakan berbagai hal, termasuk prosedur untuk mengantisipasi cuaca ekstrem tersebut,” ujar Adita Irawati saat ditemui di Jakarta, Rabu (13/12/2023).
Adita Irawati menjelaskan, yang menjadi prioritas utama adalah keselamatan masyarakat. Maka dari itu ia berharap masyarakat bisa memaklumi jika terjadi penjadwalan ukang keberangkatan.
Baca Juga
Sanksi Menanti Maskapai yang Naikkan Harga Tiket Melebihi TBA saat Nataru
“Kami memohon kepada masyarakat untuk memaklumi dan memahami jika memang harus diadakan penjadwalan ulang karena situasi cuaca yang tidak memungkinkan. Nah kami minta kepada operator untuk terus melakukan komunikasi,” sebutnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra menjelaskan, bahwa pihaknya juga sudah memiliki skema keselamatan jika terjadi cuaca buruk atau faktor-faktor lain yang membahayakan seperti erupsi gunung berapi.
Baca Juga
Inflasi Tahunan AS November 3,1%, Mengurangi Tekanan untuk The Fed
Irfan menyampaikan, setiap kali ada bencana seperti erupsi gunung, ia memiliki tim yang berjaga di dua sisi, yakni pada titik keberangkatan dan destinasi. Tim inilah yang akan memantau apakah jalur penerbangan aman atau tidak untuk dilintasi.
“Misalnya jalurnya biasanya lewat gunung api tersebut, tapi bandaranya aman, jarak pandangnya oke, itu biasanya flight plan-nya kita ubah untuk menjauhi daerah erupsi. Jadi tetap bisa mendarat. Kalau di lokasi mendarat tidak memungkinkan, pesawat itu kita delay atau batalkan,” sebutnya. (CR-8)

