'Deepfake' hingga 'Hoax' Mengintai, Perhumas Siapkan 6 Jurus Hadapi Disinformasi Berbasis AI
Poin Penting
|
SOLO, investortrust.id – Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) menyiapkan enam rekomendasi strategis untuk memperkuat kompetensi praktisi humas pada 2027. Langkah ini dilakukan di tengah ancaman penyebaran disinformasi, deepfake, manipulasi persepsi, hingga berita palsu atau hoax akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Ketua Umum Perhumas, Boy Kelana Soebroto menyoroti perkembangan AI yang meningkatkan kemampuan menciptakan disinformasi dalam skala dan kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan.
"Artificial Intelligence telah menghadirkan peluang luar biasa bagi peradaban manusia. Namun, pada saat yang sama, Al juga meningkatkan kemampuan menciptakan disinformasi, deepfake, manipulasi persepsi, dan berita palsu dalam skala serta kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan," kata Boy Kelana dalam sambutannya di Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026 di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (17/10/2026).
Boy Kelana menilai, kemajuan teknologi komunikasi tidak selalu diikuti peningkatan pemahaman antarmanusia. Akses informasi yang semakin luas justru menghadirkan tantangan bagi masyarakat untuk membedakan fakta, opini, manipulasi, dan kebohongan.
Menurut dia, algoritma digital mampu membuat sebuah narasi menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan detik.
"Algoritma dapat membuat sebuah narasi menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan detik. Namun, algoritma tidak selalu dapat membedakan mana yang benar, mana yang adil, dan mana yang bertanggung jawab," jelas Chief of Corporate Affairs PT Astra International Tbk itu.
Boy Kelana juga mengatakan, praktisi humas perlu menyeimbangkan penguasaan teknologi dengan kemampuan personal dalam menghadapi perkembangan AI.
"Kita membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional. Kita membutuhkan data dan teknologi, tetapi juga empati dan wisdom. Kita harus memahami persoalan lokal, tetapi tidak boleh kehilangan perspektif global," ujar dia.
6 Jurus Perhumas Hadapi Ancaman Disinformasi berbasis AI
Wakil Ketua Umum Perhumas, Glory Oyong menyatakan, agenda KHI 2026 terfokus pada kompetensi profesional humas dalam menghadapi perubahan teknologi, dinamika sosial, serta tantangan komunikasi di tingkat nasional maupun global.
"Agenda KHI 2026 menegaskan pentingnya kompetensi profesional humas dalam menghadapi perubahan teknologi, dinamika sosial, serta tantangan komunikasi di tingkat nasional maupun global," kata Glory.
Perumusan enam rekomendasi strategis tersebut dilakukan dalam kerangka KHI 2026 yang mengangkat tema "Humas sebagai Daya Bangsa: Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Indonesia".
Enam rekomendasi strategis yang dirumuskan Perhumas meliputi:
1. Penguatan kompetensi Strategic Communication Leadership. Praktisi humas didorong mengambil peran strategis sebagai penasihat pimpinan dalam pengambilan keputusan, pengelolaan reputasi, dan pembangunan kepercayaan publik melalui kepemimpinan komunikasi serta pengambilan keputusan berbasis data.
2. Penguatan kompetensi digital, AI, dan etika komunikasi. Praktisi humas dituntut memiliki literasi AI dan analitik data serta memanfaatkan Generative AI secara etis dan bertanggung jawab melalui penyusunan standar kompetensi dan pedoman penggunaan AI yang menekankan verifikasi informasi, perlindungan data, dan pengawasan manusia.
3. Peningkatan kompetensi Crisis, Risk, and Trust Management. Praktisi humas perlu memiliki kapasitas untuk mengidentifikasi risiko, mengantisipasi krisis, berkomunikasi dalam ketidakpastian, memulihkan kepercayaan publik, serta menangani misinformasi dan disinformasi.
4. Penguatan kompetensi komunikasi lintas budaya dan reputasi global. Praktisi humas didorong menguasai komunikasi antarbudaya, diplomasi komunikasi, dan strategic storytelling untuk memperkuat reputasi Indonesia serta mengomunikasikan agenda keberlanjutan bagi pemangku kepentingan nasional maupun internasional.
5. Standardisasi, sertifikasi, dan pengembangan kompetensi berkelanjutan. Standar kompetensi profesi kehumasan perlu diselaraskan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri melalui kolaborasi antara Perhumas, perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan lembaga sertifikasi.
6. Penguatan kompetensi pengukuran dampak komunikasi. Keberhasilan fungsi humas didorong untuk dinilai melalui pendekatan berbasis bukti, seperti perubahan pemahaman dan perilaku, kualitas hubungan, serta tingkat kepercayaan, bukan sekadar jumlah publikasi atau eksposur media.
Baca Juga
AI Makin Canggih, Perhumas Soroti Ancaman 'Deepfake' hingga 'Hoax'
Memasuki 2027, lanjut Glory, Perhumas mendorong terbentuknya ekosistem kompetensi kehumasan nasional yang profesional, kolaboratif, inklusif, dan beretika guna memperkuat infrastruktur kepercayaan.
Sementara itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyampaikan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi mengenai kebijakan, kinerja, dan reputasi organisasi.
Dikatakan Nezar, masyarakat kini tidak hanya mengakses informasi secara langsung dari korporasi, lembaga, atau institusi melalui humas, tetapi juga melalui teknologi pencarian berbasis AI.
"Sekarang ini kalau kita lihat kekuatan humas sebetulnya bagaimana kita memproduksi data-data itu menjadi data-data yang trusted. Namun hari ini publik tidak lagi mengakses data-data dari korporasi, dari lembaga, dari institusi yang langsung berhubungan dengan humas, tapi lewat Artificial Intelligence," kata dia dalam konvensi yang sama.
Nezar juga menekankan, tantangan terbesar dalam pemanfaatan AI saat ini bukan lagi akses terhadap teknologi, melainkan kedalaman pemahaman serta kemampuan menggunakannya secara bijaksana.
"Tantangan terbesar kita saat ini bukan lagi akses, tetapi soal kedalaman. Memakai Al saja tidak cukup, yang menentukan adalah kapabilitas dan kebijaksanaan dalam menggunakannya," tutur Nezar.
