Guruh dan Inspirasi untuk Negeri
Oleh: Yosua Noak Douw - Alumnus Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua
INVESTORTRUST - Indonesia kembali kehilangan salah seorang putra bangsa yang mengabdikan perjalanan hidupnya pada kesenian, kebudayaan, politik, dan kehidupan kebangsaan. Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra atau Guruh Soekarnoputra berpulang pada Sabtu (26/9) pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) Siloam, Semanggi, Jakarta.
Guruh merupakan putra bungsu Presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno dan Fatmawati, sekaligus adik kandung Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri. Namun, melihat Guruh semata-mata dari garis keturunan keluarga Bung Karno tentu tidak cukup. Guruh membangun jejak pengabdiannya sendiri melalui musik, tari, seni pertunjukan, kebudayaan, dan politik.
Kepergian Guruh menghadap Tuhan, sang Khalik, karena itu bukan hanya duka keluarga besar Bung Karno. Pemerintah dan rakyat Indonesia kehilangan seorang seniman, budayawan, dan politisi yang selama puluhan tahun ikut mewarnai perjalanan bangsa.
Negeri yang membentang dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote tidak hanya dipersatukan oleh batas territorial, suku, agama, ras, dan antargolongan. Indonesia juga dipersatukan oleh bahasa, musik, tarian, adat, nilai, sejarah serta kesadaran kolektif bahwa di tengah kemajemukan kita adalah satu bangsa. Pada ruang inilah Guruh dan warisannya patut ditempatkan.
Memilih Jalan Kebudayaan
Terlahir sebagai putra Presiden dan Proklamator merupakan kehormatan sekaligus membawa beban sejarah. Nama besar keluarga dapat membuka pintu, tetapi tidak otomatis melahirkan karya. Seorang anak bangsa bernama Guruh memilih berkarya.
Sejak kecil ia mempelajari berbagai kesenian, termasuk tari Jawa, Sunda dan Bali serta piano. Perjalanannya kemudian berkembang dalam musik, tari, koreografi dan seni pertunjukan. Pada 27 Maret 1977, ia mendirikan Swara Maharddhika yang menjadi salah satu ruang kreativitas generasi muda Indonesia.
Guruh juga terlibat dalam Guruh Gipsy, proyek musik yang mempertemukan musik modern dengan unsur tradisi, terutama Bali. Dari perjalanan kariernya dalam memajukan kebudayaan terbaca dalam relung jiwa sebuah pesan penting: menerima modernitas tidak harus kehilangan akar kebudayaan.
Kemajuan tidak berarti meninggalkan tradisi. Modernisasi tidak berarti menghapus identitas. Keterbukaan terhadap dunia juga tidak harus membuat kita kehilangan jati diri sebagai bangsa. Guruh memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat berdialog dengan zaman.
Seni sebagai Bahasa Kebangsaan
Bagi Guruh, seni tidak berhenti sebagai hiburan. Seni dapat menjadi bahasa untuk berbicara tentang Indonesia. Melalui Swara Maharddhika dan Gencar Semarak Perkasa, berbagai unsur kesenian tradisional dibawa ke panggung dengan pendekatan modern.
Guruh juga meninggalkan karya musik yang menjadi bagian perjalanan musik populer Indonesia, antara lain Renjana, Galih dan Ratna, Gita Cinta, Anak Jalanan, Lenggang Puspita, Sendiri, Marlina, dan Kembalikan Baliku.
Namun, warisan seorang seniman tidak cukup dihitung dari jumlah lagu, pertunjukan atau penghargaan. Pertanyaan yang lebih penting juga ialah nilai apa yang ditinggalkan melalui karya-karyanya? Salah satu nilai yang dapat dibaca dari perjalanan Guruh ialah keberanian menempatkan identitas Indonesia di tengah perubahan zaman.
Indonesia mempunyai kekayaan budaya luar biasa. Dari Aceh sampai Papua hidup bahasa daerah, musik, tarian, pakaian tradisional, rumah adat, seni ukir, cerita rakyat hingga pengetahuan lokal.
Kekayaan itu jangan berhenti sebagai pajangan dalam acara-acara seremonial. Kebudayaan harus hidup, diwariskan, dikembangkan dan memperoleh ruang dalam pendidikan, ruang publik, media digital, bahkan pembangunan nasional.
Kebudayaan dan Politik
Guruh juga menempuh perjalanan panjang dalam politik. Ia pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia melalui PDI dan kemudian melanjutkan kiprahnya melalui PDI Perjuangan. Di sinilah perjalanan Guruh mempertemukan dua dunia: kebudayaan dan politik.
Politik berbicara tentang kekuasaan, representasi, kebijakan publik dan penyelenggaraan negara. Kebudayaan berbicara mengenai nilai, identitas, kreativitas dan ingatan kolektif suatu masyarakat. Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Politik tanpa kepekaan kebudayaan berisiko menjauh dari manusia yang dilayaninya. Sebaliknya, kebudayaan membutuhkan kebijakan publik agar pelaku, ruang hidup dan proses pewarisannya terus berkembang. Guruh hidup dalam keluarga yang sangat dekat dengan sejarah negeri ini.
Ayahnya, Bung Karno, adalah Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia. Sang kakak, Prof Dr (HC) Hj. Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri atau akrab dengan sapaan Megawati Soekarnoputri.
Kelak, sejarah bangsa mencatat Megawati Soekarnoputri melejit dalam kancah politik nasional memimpin PDI Perjuangan, partai besar tempat kekuasaan politik bekerja mengabdi rakyat, bangsa dan negara. Megawati lalu terpilih menjadi Presiden kelima RI. Namun, pada akhirnya setiap manusia harus meninggalkan jejaknya sendiri. Guruh memilih kebudayaan sebagai salah satu jalan pengabdiannya.
Pelajaran dari Papua
Dari tanah Papua, hemat penulis ada pelajaran penting dari perjalanan Guruh: menjadi modern tidak berarti kehilangan akar kebudayaan sendiri. Pesan ini relevan bagi generasi muda bumi Cenderawasih.
Papua mempunyai kekayaan budaya yang sangat besar: noken, honai, ukiran, bahasa daerah, musik, tarian, cerita rakyat, nilai kekeluargaan, kepemimpinan adat, serta pengetahuan mengenai alam. Tradisi yang hidup di wilayah pesisir, lembah, pegunungan dan kepulauan merupakan kekayaan yang tidak ternilai.
Kebudayaan bukan penghalang kemajuan. Sebaliknya, kebudayaan merupakan identitas sekaligus modal sosial untuk memasuki masa depan. Anak-anak Papua harus memperoleh pendidikan setinggi mungkin dan menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi.
Mereka perlu hadir dalam pemerintahan, ekonomi, kesehatan, teknik, hukum, pendidikan, seni dan berbagai bidang kehidupan modern. Tetapi pada saat yang sama, mereka harus mengetahui dari mana mereka berasal.
Jangan sampai kita berhasil membangun gedung, tetapi kehilangan identitas. Jangan sampai teknologi semakin maju, tetapi bahasa ibu menghilang. Jangan sampai pendidikan semakin tinggi, tetapi generasi muda tidak lagi mengenal sejarah dan kebudayaannya.
Kemajuan dan kebudayaan bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama.
Inspirasi untuk Negeri
Indonesia adalah rumah bagi beragam suku, bahasa, agama, adat-istiadat dan ekspresi budaya. Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya menghadirkan jalan, jembatan, bandara, sekolah dan fasilitas kesehatan. Kita juga harus membangun manusia—karakter, pengetahuan, identitas, penghargaan terhadap sesama dan kesadaran kebangsaan.
Di sinilah kebudayaan mempunyai posisi strategis. Musik dapat mempertemukan orang yang berbeda bahasa. Tarian memperkenalkan identitas suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya. Seni menyampaikan pesan tanpa pidato panjang. Kebudayaan menjadi jembatan yang menghubungkan generasi.
Setiap manusia pada akhirnya akan menyelesaikan perjalanan hidupnya. Jabatan mempunyai batas. Popularitas mempunyai masa. Panggung suatu saat menjadi sunyi dan tepuk tangan akan berhenti. Namun, karya dapat terus berbicara setelah penciptanya tiada.
Seorang Guruh, sosok inspiratif di bidang kebudayaan dan sosial-politik, telah meninggalkan panggung kehidupannya menghadap Tuhan, sang Sabda. Tetapi musik, tarian, pertunjukan, gagasan kebudayaan dan perjalanan pengabdiannya menjadi legasi indah sekaligus bagian dari ziarah perjalanan bangsa Indonesia di masa depan.
Kepergian Guruh sekaligus mengajak kita bertanya: apa yang kelak kita wariskan kepada negeri ini? Kekuasaan, kekayaan dan jabatan semuanya mempunyai batas waktu. Karya, nilai dan keteladanan dapat melampaui usia manusia.
Guruh menitip pesan indah sekaligus pelajaran: seseorang boleh lahir membawa nama besar, tetapi sejarah tetap menuntutnya untuk berkarya. Indonesia membutuhkan generasi yang mencintai kemajuan tanpa meninggalkan tradisi; menerima perkembangan dunia tanpa kehilangan identitas; serta menggunakan pengetahuan dan kreativitas untuk mengabdi kepada masyarakat.
Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Tanah Papua, kita dipertemukan dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Rumah besar itu harus terus dirawat. Dan salah satu fondasinya adalah kebudayaan.
Guruh telah menyelesaikan bagiannya. Kini tanggung jawab itu diteruskan oleh generasi berikutnya. Panggung kehidupan boleh menjadi sunyi setelah kepergian seorang seniman. Namun karya yang ditanamkan kepada bangsanya akan terus berbicara.
Guruh telah pergi, tetapi inspirasi untuk mencintai Indonesia melalui kebudayaan tetap tinggal untuk negeri. Selamat jalan, Bapak Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra. Terima kasih atas pengabdian dan dedikasimu semasa hidup. Damailah di sisi-Nya.
