Kembali Jadi Rais Aam PBNU 2026–2031, Ini Profil KH Miftachul Akhyar
JAKARTA, investortrust.id — KH Miftachul Akhyar kembali mendapat amanah memegang tampuk tertinggi jajaran Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ulama senior asal Surabaya tersebut resmi ditetapkan sebagai rais aam PBNU masa khidmah 2026–2031 dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.
Keputusan penetapan Kiai Miftachul Akhyar diambil melalui persidangan sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang berlangsung di Gedung Serba Guna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/8/2026) malam.
Baca Juga
AHWA Tetapkan Kiai Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026-2031
Terpilihnya kembali Kiai Miftach menegaskan kesinambungan kepemimpinan spiritual dan arah keagamaan di jajaran tertinggi PBNU. Pada Muktamar ke-34 sebelumnya, ia juga terpilih sebagai anggota AHWA sebelum akhirnya dipercaya mengemban posisi rais aam. Penunjukan kali ini sekaligus membawa nilai sentimental tersendiri, mengingat Tambakberas merupakan salah satu situs historis dan tempat Mifathul Akhyar menimba ilmu di masa muda.
Putra Kiai Surabaya dan Sanad Keilmuan Nusantara
Lahir di Surabaya pada 1953, Kiai Miftach merupakan putra dari KH Abdul Ghoni, pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah. Anak kesembilan dari 13 bersaudara ini tumbuh dan dibesarkan dalam tradisi keagamaan yang kental di lingkungan pesantren Jatim.
Sanad dan perjalanan keilmuan Kiai Miftach membentang luas di berbagai pesantren terkemuka di Pulau Jawa, di antaranya Pondok Pesantren Tambakberas (Jombang), Pesantren Sidogiri (Pasuruan), hingga Pesantren Lasem (Jawa Tengah).
Selain pendidikan pesantren domestik, ia tercatat pernah menimba ilmu pada Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki di Malang sewaktu ulama ternama asal Makkah tersebut mengajar di Indonesia. Bekal keilmuan mendalam ini menjadi fondasi utamanya dalam merespons dinamika sosial-keagamaan masyarakat.
Baca Juga
Muktamar Ke-35 NU, AHWA Tetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU 2026-2031
Komitmen pengabdian Kiai Miftach terwujud melalui pendirian Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan, Surabaya. Berawal dari niat menempati kediaman peninggalan sang kakek, ia tergerak membina lingkungan sekitar melalui pengajian berkala yang kemudian berkembang pesat menjadi lembaga pendidikan pesantren modern. Hingga kini, ia konsisten mengasuh pengajian kitab klasik al-Hikam karya Ibnu 'Athaillah al-Sakandari setiap usai salat Jumat.
Di struktur keorganisasian Nahdlatul Ulama, Kiai Miftachul Akhyar merintis karier kepemimpinan secara berjenjang dari tingkat cabang hingga pengurus pusat:
* Rais Syuriyah PCNU Kota Surabaya (2000–2005)
* Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur (2007–2013 dan 2013–2018)
* Wakil Rais Aam PBNU (2015–2020)
* Penjabat (Pj) Rais Aam PBNU (2018–2020)
* Rais Aam PBNU (2021–2026 & 2026–2031)
