BNPB Ungkap Update Korban Gempa NTT: 100 Meninggal, 1.603 Luka
JAKARTA, investortrust.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 100 jiwa hingga Senin (24/8/2026).
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, selain korban meninggal dunia, sebanyak 1.603 orang mengalami luka-luka, sementara 180.327 jiwa masih mengungsi.
“Per hari ini yang meninggal dunia, ada 100. Kemudian luka-luka 1.603 jiwa. Mengungsi 180.327 jiwa,” kata Suharyanto dalam konferensi pers Update Penanganan Pasca Gempabumi M7,7 NTT dan Karhutla di Indonesia secara daring, Senin (24/8/2026).
Baca Juga
Rapat di Hambalang, Prabowo Evaluasi Penanganan Karhutla Kalimantan dan Pemulihan Pascagempa NTT
BNPB juga mencatat sebanyak 73.818 unit rumah mengalami kerusakan akibat gempa tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 23.276 unit rumah rusak berat, 17.563 unit rusak sedang, dan 32.979 unit rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada sejumlah fasilitas umum, termasuk sekolah, tempat ibadah, kantor pemerintahan, hingga infrastruktur lainnya. Total terdapat 1.915 fasilitas umum yang dilaporkan mengalami kerusakan.
Aktivitas gempa susulan masih terjadi hingga hari kedelapan pascagempa Flores. Berdasarkan laporan BMKG per Senin (24/8/2026) pukul 05.00 WIB, tercatat sebanyak 6.409 kali gempa susulan.
Baca Juga
Korban Gempa NTT Bertambah Jadi 91 Orang, 161.084 Warga Masih Mengungsi
Dari ribuan gempa tersebut, gempa susulan terbesar tercatat mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil berkekuatan magnitudo 1,1. Sebanyak 33 gempa memiliki kekuatan magnitudo 5 atau lebih, sementara 139 gempa dirasakan oleh masyarakat.
Suharyanto mengatakan, kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat masih memilih mengungsi di luar rumah, meskipun rumah mereka tidak mengalami kerusakan atau hanya rusak ringan. “Ini masyarakat masih banyak yang takut, sehingga tetap mengungsi di luar rumah. Meskipun rumah-rumahnya tidak terdampak atau rusak ringan,” ujarnya.
Menurut Suharyanto, aktivitas gempa dalam dua hari terakhir mulai menunjukkan penurunan. Dalam 24 jam terakhir, hanya terdapat satu gempa yang dirasakan oleh masyarakat.

