Karhutla Landa 64.341 Hektare, Polri Siagakan 71.676 Personel
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mencatat luas lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara nasional mencapai 64.341 hektare (ha) berdasarkan data yang dihimpun hingga 22 Agustus 2026. Dari total luasan tersebut, sebanyak 39.999 hektare atau sekitar 62% telah berhasil dipadamkan dan dikendalikan oleh tim gabungan.
Kepala Biro Pembinaan dan Operasional (Karobinops) Stamaops Polri, Brigjen Pol Auliansyah Lubis menyatakan, data tersebut bersifat dinamis dan dapat berubah seiring dengan penanganan di lapangan.
"Dari 22 yang lalu, ada 48.656 hotspot yang terdeteksi secara nasional, dan hasil verifikasi darat mengonfirmasi adanya 7.872 titik api yang aktif," kata Auliansyah dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Minggu (23/8/2026).
Dari 48.656 hotspot tersebut, lanjutnya, sekitar 16,17 persen atau 7.872 titik terverifikasi sebagai titik api aktif.
Adapun lima provinsi dengan jumlah titik api terbanyak yakni Kalimantan Barat sebanyak 2.848 titik, Riau 1.201 titik, Sumatra Selatan 1.105 titik, Kalimantan Selatan 738 titik, dan Kalimantan Tengah 674 titik.
Baca Juga
Untuk menangani karhutla, kata Auliansyah, Polri menerapkan mekanisme respons cepat dengan target penanganan dalam waktu 1-2 jam sejak satelit mendeteksi hotspot. Mekanisme tersebut dimulai dari deteksi dini melalui satelit atau laporan masyarakat. Setelah itu, personel melakukan verifikasi lapangan menggunakan personel darat maupun drone. Jika ditemukan kebakaran, petugas bersama TNI, BPBD, dan pemangku kepentingan terkait melakukan pemadaman serta pendinginan.
Siapkan Puluhan Ribu Personel
Auliansyah menambahkan, Polri telah menyiagakan 48.308 personel Korps Sabhara dan 23.368 personel Korps Brimob untuk mendukung penanganan karhutla secara nasional.
Selain personel, sejumlah peralatan disiapkan, seperti ratusan pompa air portabel, breathing apparatus, baju tahan panas, serta kendaraan taktis SAR Karhutla berkapasitas 2.500 liter dan foam 250 liter.
Polri juga memodifikasi drone untuk membantu pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau. "Kita juga ada modifikasi dronefiresuspension, jadi drone itu bisa terbang membawa ada delapan bola (air) untuk bisa ditembakkan ke titik api," ujar Auliansyah.
Dikatakan Auliansyah, kendaraan roda dua yang digunakan Bhabinkamtibmas juga dimodifikasi untuk menjangkau lokasi kebakaran yang tidak dapat diakses kendaraan roda empat.
Bangun Infrastruktur Pembasahan
Selain pemadaman, Polri memperkuat mitigasi karhutla melalui pembangunan infrastruktur pembasahan, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang memiliki lahan gambut.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, hingga saat ini telah dibangun 1.296 embung dan 843 sekat kanal, serta ratusan sumur bor di wilayah yang dinilai rawan karhutla.
"Jadi hampir sudah ada 1.296 embung dan 843 sekat kanal dan ratusan sumur bor di wilayah vital tentu melihat dari episentrum kerawanan potensi Karhutla dibangun di situ," jelas Trunoyudo.
Baca Juga
Polri juga melakukan pemetaan wilayah rawan, verifikasi hotspot, memperkuat sistem peringatan dini, serta mengoptimalkan patroli terpadu bersama TNI, Manggala Agni, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Auliansyah menyampaikan, patroli dilakukan melalui jalur darat dan udara, termasuk menggunakan helikopter dan drone. Tak hanya itu, Polri juga melakukan sosialisasi larangan membakar lahan kepada masyarakat serta meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama saat kondisi cuaca ekstrem dan fenomena El Nino.
Di sisi lain, pihak kepolisian juga melakukan penegakan hukum terhadap dugaan pembakaran yang dilakukan secara sengaja. Hingga saat ini, sebanyak 89 laporan polisi telah diterbitkan di sembilan Polda dengan 72 tersangka perorangan yang telah ditetapkan.

