Jangan Malu Menjadi Orang Indonesia
Oleh: Bambang Intojo - pengamat transformasi sosial politik era digital, alumni Universitas Indonesia
INVESTORTRUST - Setiap Agustus, ketika Merah Putih mulai menghiasi jalan, rumah, kantor, dan media sosial, selalu muncul suara yang berbeda: ada saja orang-orang yang mengatakan malu menjadi orang Indonesia, dan ada saja orang-orang yang mengajak orang lain untuk tidak usah memasang bendera Merah Putih.
Bisa dimaklumi bahwa perilaku tersebut bisa lahir dari sebentuk kekecewaan. Korupsi, ketidakadilan, politik transaksional, perilaku elite yang memalukan, atau kebijakan pemerintah yang buruk memang bisa membuat siapa pun kecewa. Tetapi ada perbedaan antara mengatakan, "Saya malu melihat keadaan Indonesia," dan "Saya malu menjadi orang Indonesia."
Yang pertama adalah kritik terhadap keadaan. Yang kedua mulai menyentuh identitas.
Gejalanya bahkan lebih jauh. Ada orang yang mulai memandang rendah sebagian ekspresi dan budaya sendiri karena dianggap tidak sesuai dengan ukuran kesopanan atau agama tertentu. Pakaian tradisional tertentu dituduh mengumbar aurat. Adat-istiadat yang telah berlangsung turun-temurun mulai dicap bidah hanya karena tidak sesuai dengan tafsir kelompok tertentu.
Di sini, persoalannya bukan lagi sekadar soal selera berpakaian atau perbedaan pandangan keagamaan. Kita perlu bertanya: apakah kita sedang mengoreksi kebudayaan, atau perlahan-lahan sedang merasa asing terhadap kebudayaan sendiri?
Budaya memang boleh berubah. Tradisi juga boleh dikritik. Tidak semua adat harus dipertahankan hanya karena sudah lama. Tetapi menganggap seluruh warisan budaya sebagai sesuatu yang harus dicurigai, dibidahkan, atau disembunyikan adalah persoalan lain.
Kebudayaan tidak lahir dari ruang kosong. Ia merupakan hasil perjumpaan panjang antara masyarakat, sejarah, lingkungan, agama, dan pengalaman hidup. Mengoreksinya boleh. Memahaminya perlu. Tetapi merendahkannya karena tidak sesuai dengan ukuran kita hari ini adalah bentuk lain dari keterasingan dan kesombongan.
Di media sosial, Indonesia juga sering disebut "Konoha" atau "Wakanda". Sebagai satire terhadap kebodohan atau keanehan politik, istilah itu mungkin lucu. Kritik memang membutuhkan humor. Tetapi ketika nama-nama fiktif itu digunakan karena kita merasa malu menyebut Indonesia, satire bisa berubah menjadi sinisme terhadap negeri sendiri.
Lebih buruk lagi ketika rasa malu terhadap Indonesia berubah menjadi penghinaan terhadap sesama orang Indonesia.
Di tengah pertengkaran politik, orang dengan pilihan berbeda sering digoblok-goblokkan. Seolah-olah pilihan politik dapat menjadi ukuran kecerdasan: mereka yang sewarna dengan pilihan kita dianggap waras, mereka yang memilih pihak lain dianggap bodoh.
Bahkan ada yang gemar mengulang klaim bahwa IQ orang Indonesia hanya setingkat dengan gorila. Terlepas dari perdebatan mengenai validitas berbagai pemeringkatan IQ antarnegara, menggunakan angka semacam itu untuk merendahkan bangsa sendiri jelas bukan suatu bentuk kecerdasan.
Kita tidak menjadi lebih pintar dengan menyebut orang lain bodoh.
Ironisnya, orang yang merasa dirinya paling rasional sering kehilangan hal yang paling dasar dari rasionalitas: kemampuan membedakan kritik terhadap gagasan dengan penghinaan terhadap manusia.
Berbeda pilihan politik tidak membuat seseorang berhenti menjadi orang Indonesia. Ia tetap tetangga kita, saudara kita, sesama warga negara, pembayar pajak, dan sesama pemilik republik ini.
Kalau setiap perbedaan membuat kita menggoblokkan sesama, mungkin masalah kita bukan rendahnya IQ bangsa. Mungkin yang rendah adalah kemampuan kita hidup bersama dalam perbedaan.
Hal yang sama terlihat dalam pernyataan bahwa Indonesia belum merdeka karena masih dijajah Amerika atau China - secara ekonomi, politik, atau bahkan melalui pengaruh terhadap pemerintah.
Pengaruh asing tentu nyata. Tidak ada negara modern yang hidup dalam ruang hampa. Amerika, China, Jepang, Eropa, dan kekuatan ekonomi lainnya memiliki kepentingan dan daya tawar terhadap Indonesia. Modal, perdagangan, teknologi, investasi, pertahanan, dan diplomasi semuanya menciptakan hubungan saling bergantung.
Tetapi ketergantungan, pengaruh, dan dominasi bukan otomatis berarti penjajahan.
Jika setiap hubungan ekonomi dengan China disebut penjajahan China, sementara hubungan dengan Amerika disebut penjajahan Amerika, lalu bagaimana kita membedakan antara kerja sama, ketergantungan, pengaruh, dan kolonialisme?
Sebuah negara merdeka bukan negara yang sama sekali tidak dipengaruhi negara lain. Negara merdeka adalah negara yang memiliki kapasitas untuk menentukan kepentingannya sendiri, menegosiasikan kepentingannya, dan menolak ketika kepentingannya dirugikan.
Karena itu, pemerintah boleh dan harus dikritik ketika terlalu tunduk kepada kekuatan asing. Tetapi kritik terhadap kebijakan pemerintah jangan serta-merta berubah menjadi kesimpulan bahwa Indonesia bukan negara merdeka.
Begitu pula dengan Merah Putih. Bendera itu bukan milik pemerintah. Bukan milik presiden, partai politik, DPR, tentara, polisi, atau kelompok ideologi tertentu. Ia adalah simbol Republik yang menjadi milik seluruh warga negara.
Kita boleh mengkritik pemerintah dengan keras sambil mengibarkan Merah Putih. Kita boleh menolak kebijakan yang dianggap terlalu tunduk kepada Amerika, China, atau kekuatan asing lainnya tanpa harus menolak Indonesia.
Mungkin persoalan sebenarnya bukan apakah kita boleh kecewa terhadap Indonesia. Tentu saja boleh. Pertanyaannya adalah: mengapa kekecewaan terhadap pemerintah harus berubah menjadi rasa malu terhadap bangsa, budaya, dan identitas sendiri?
Kita boleh malu melihat korupsi. Malu melihat ketidakadilan. Malu melihat politikus mempermainkan rakyat. Malu melihat kebencian dan hoaks memenuhi ruang publik. Malu ketika negara gagal melindungi warganya. Malu ketika Indonesia diperlakukan tidak adil oleh kekuatan asing.
Tetapi jangan sampai kita malu menyebut nama Indonesia, malu dengan budaya sendiri, mencurigai adat yang diwariskan leluhur, menggoblokkan sesama warga karena berbeda pilihan politik, atau merasa perlu mengganti nama negeri sendiri dengan "Konoha" dan "Wakanda" agar terdengar lebih keren.
Jangan malu menjadi orang Indonesia. Malulah kalau kita ikut membuat Indonesia menjadi lebih buruk.
Dan Merah Putih tetap harus kita kibarkan bukan sebagai tanda bahwa kemerdekaan Indonesia sudah sempurna, melainkan sebagai pengingat bahwa republik ini adalah milik kita.
Pemerintah bisa salah. Kekuasaan bisa menyimpang. Kebudayaan bisa berubah. Hubungan dengan negara asing bisa tidak seimbang. Semua itu bisa dan harus dikritik.
Tetapi Indonesia tetap Indonesia.
Dan kalau ada yang harus kita perjuangkan, bukanlah agar kita berhenti menjadi orang Indonesia, melainkan agar fakta bahwa menjadi orang Indonesia tidak lagi menjadi sesuatu yang membuat kita malu.
Bagaimanapun juga, marilah kita saling mengucapkan: SELAMAT MERDEKA!

