Citra, dari Penjual Kacang dan Korban Bullying hingga Juara Karate
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Di tengah pidato Presiden Prabowo Subianto yang sarat angka triliunan rupiah, target pertumbuhan ekonomi, pembangunan rumah sakit, sekolah, pembangkit listrik hingga bursa komoditas, muncul sebuah percakapan pendek yang membawa ruang Sidang Paripurna, Jumat (14/08/2026), kembali kepada tujuan paling dasar pembangunan: mengubah kehidupan manusia.
Namanya Citra Nur Rahmadani. Usianya baru 10 tahun. Siswi asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, itu berdiri sebagai salah satu wajah nyata anak Indonesia yang lahir dalam keterbatasan, tetapi memperoleh kesempatan untuk mengubah jalan hidupnya.
Citra kehilangan ayah ketika masih duduk di kelas II sekolah dasar. Sejak itu, ia tumbuh bersama ibunya, Hajrah, yang memiliki keterbatasan fisik dan harus bekerja keras untuk menopang keluarga. Sang ibu mengerjakan pekerjaan apa saja yang bisa dilakukan, termasuk menyapu masjid dan mencuci pakaian.
Keadaan ekonomi keluarga yang sulit membuat Citra ikut membantu. Bocah yang seharusnya menghabiskan waktunya untuk belajar dan bermain itu pernah berjualan kacang dalam bungkusan kecil. Hidupnya semakin berat karena di sekolah lamanya ia juga pernah menjadi korban perundungan atau bullying.
Baca Juga
Risky, Bocah Penjual Ikan yang Mengayuh Mimpi Menjadi Tentara
Namun, jalan kehidupan Citra berubah ketika ia memperoleh kesempatan masuk Sekolah Rakyat Terintegrasi 67 Pangkep, program pendidikan berasrama yang ditujukan terutama bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Menurut keterangan ibunya yang dikutip ANTARA, perubahan mulai terlihat setelah Citra masuk Sekolah Rakyat. Ia semakin rajin belajar dan beribadah. Sang ibu menggantungkan harapan agar pendidikan tersebut membuat putrinya kelak memiliki kehidupan yang jauh lebih baik daripada dirinya. (Antara News)
Lingkungan baru perlahan mengubah Citra. Anak yang sebelumnya pemalu dan kurang percaya diri tumbuh menjadi lebih ceria dan mandiri. Kemampuan belajarnya juga mulai terlihat. Citra disebut termasuk anak yang cepat menghafal pelajaran.
Potensinya ternyata tidak berhenti di ruang kelas. Citra juga menekuni karate dan berhasil menorehkan prestasi dalam kompetisi di Makassar. Perjalanan itu memperlihatkan betapa kemampuan seorang anak bisa muncul ketika kemiskinan tidak lagi menjadi penghalang utama untuk memperoleh pendidikan.
Kisah Citra kemudian dibawa ke salah satu panggung politik tertinggi Indonesia. Dalam Sidang Paripurna DPR RI, Jumat (14/8/2026), Presiden Prabowo berdialog dengannya dan menjadikan perjalanan hidup bocah asal Pangkep tersebut sebagai gambaran mengenai alasan negara membangun Sekolah Rakyat.
Pesan Presiden kepada Citra menjadi salah satu bagian paling kuat dalam pidatonya.
“Citra, dan seluruh siswa-siswi Sekolah Rakyat di mana pun kalian berada. Kami ada di sini untuk kamu, untuk kalian. Untuk pastikan kalian punya kesempatan hidup layak. Ketidakmampuan tidak boleh menjadi warisan. Kesempatanlah yang harus kita wariskan,” ujar Prabowo.
Kalimat itu merangkum gagasan yang hendak dibawa pemerintah melalui Sekolah Rakyat: kemiskinan orang tua tidak boleh menentukan masa depan anak.
Sekolah Rakyat dirancang bukan semata menyediakan ruang kelas. Anak-anak dari keluarga tidak mampu memperoleh tempat tinggal di asrama, makanan bergizi, pendidikan, pendampingan serta lingkungan yang diharapkan memungkinkan mereka berkonsentrasi mengejar ketertinggalan dan mengembangkan bakat.
Kisah Citra sekaligus memperlihatkan bahwa kemiskinan mempunyai dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar rendahnya pendapatan. Anak dari keluarga miskin berisiko kehilangan kesempatan pendidikan, mengalami kekurangan gizi, mempunyai ruang pengembangan diri yang terbatas, bahkan kehilangan kepercayaan diri karena lingkungan sosialnya.
Ketika hambatan-hambatan tersebut dihilangkan, potensi yang sebelumnya tersembunyi bisa muncul. Dalam kasus Citra, perubahan itu terlihat dari seorang anak yang pernah membantu ibunya berjualan kacang dan menghadapi perundungan menjadi siswi yang percaya diri dan berprestasi.
Dari Risky hingga Petani Ngawi
Citra bukan satu-satunya rakyat biasa yang dibawa Prabowo ke tengah pidato kenegaraan. Presiden sengaja menghadirkan sejumlah warga dari berbagai pelosok Indonesia—anak sekolah, petani, pekerja harian, pedagang hingga keluarga penerima bantuan perumahan—untuk menunjukkan wajah manusia di balik program-program pemerintah.
Ada Muhammad Risky Pratama, bocah 12 tahun asal Medan yang pernah putus sekolah karena harus membantu keluarganya mencari nafkah dengan berjualan ikan.
Risky pernah mengayuh sepeda menempuh jarak puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan untuk dijual. Hasil yang diperolehnya bukan untuk membeli mainan atau kebutuhan pribadi, melainkan ikut menopang kehidupan keluarganya.
Ketika memperoleh kesempatan masuk Sekolah Rakyat, kehidupan Risky mulai berubah. Ia kembali memperoleh hak untuk belajar dan kembali mempunyai ruang untuk mengejar cita-cita.
Kisah Risky dan Citra memiliki benang merah yang sama. Keduanya bukan anak yang kekurangan kemampuan. Mereka kekurangan kesempatan.
Selain mereka, Prabowo juga menampilkan petani dari Ngawi, Jawa Timur, sebagai contoh perubahan yang terjadi ketika petani memperoleh dukungan pupuk, irigasi dan teknologi. Presiden mengangkat cerita petani yang mampu melakukan tiga kali panen dalam setahun dengan produktivitas padi hingga sekitar sembilan ton per hektare.
Ada pula anak dari Merauke, Papua Selatan, yang menjadi penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis. Kehadirannya digunakan Presiden untuk menggambarkan tujuan program tersebut: memastikan anak memperoleh asupan gizi yang memadai sehingga lebih sehat dan mampu mengikuti pelajaran dengan baik.
Warga lainnya datang membawa cerita tentang bantuan sosial, perbaikan rumah, pekerjaan informal, hingga kesempatan mempunyai rumah sendiri melalui program perumahan bersubsidi.
Mereka mungkin hanya beberapa orang di antara ratusan juta penduduk Indonesia. Namun, kehadiran mereka memberi dimensi berbeda pada pidato RAPBN 2027.
APBN pada Akhirnya tentang Manusia
Dalam pidatonya, Prabowo berulang kali menekankan bahwa APBN bukan sekadar dokumen keuangan negara. APBN, menurut Presiden, merupakan instrumen untuk memastikan negara hadir dalam kehidupan rakyat.
Negara harus hadir ketika petani membutuhkan pupuk dan teknologi, ketika nelayan membutuhkan kapal dan fasilitas penyimpanan ikan, ketika keluarga membutuhkan rumah dan layanan kesehatan, serta ketika anak-anak membutuhkan makanan bergizi dan sekolah yang baik.
Karena itu, keberhasilan APBN pada akhirnya tidak cukup dinilai dari berapa besar pendapatan negara, seberapa rendah defisit, atau berapa persen ekonomi tumbuh.
Ukuran akhirnya adalah manusia. Apakah seorang petani bisa meningkatkan hasil panennya. Apakah ibu hamil di daerah terpencil dapat mencapai fasilitas kesehatan sebelum terlambat. Apakah keluarga berpenghasilan rendah bisa mempunyai rumah layak. Dan, yang paling mendasar, apakah seorang anak tetap mempunyai masa depan meskipun dilahirkan dalam keluarga miskin.
Baca Juga
Prabowo Buka Jalan Dwikewarganegaraan untuk Talenta Diaspora
Di sinilah cerita Citra memperoleh maknanya. Pada usia 10 tahun, ia sudah mengenal kehilangan, kemiskinan, kerja keras ibunya, berjualan untuk membantu keluarga, dan pahitnya perundungan. Tidak satu pun keadaan itu dipilihnya.
Tetapi, pendidikan memberinya sesuatu yang sebelumnya nyaris hilang: kesempatan.Dari anak yang pemalu, Citra mulai percaya diri. Dari anak yang pernah membantu berjualan kacang, ia kembali mempunyai waktu untuk belajar. Dari korban bullying, ia tumbuh menjadi anak yang berani bertanding dan membawa pulang prestasi.
Cerita Citra karena itu bukan semata cerita tentang keberhasilan sebuah program pemerintah. Ia juga menjadi ujian bagi program tersebut dalam jangka panjang. Sekolah Rakyat baru benar-benar berhasil apabila anak-anak seperti Citra dan Risky kelak mampu menyelesaikan pendidikan, memperoleh keterampilan, mendapatkan pekerjaan yang layak, dan akhirnya keluar secara permanen dari kemiskinan.
Sebab kemiskinan memang dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya apabila tidak ada intervensi. Tetapi kesempatan juga dapat diwariskan. Dan di ruang Sidang Paripurna itu, seorang bocah 10 tahun dari Pangkep mengingatkan seluruh negeri bahwa di balik ribuan triliun rupiah APBN, pembangunan pada akhirnya mempunyai ukuran yang sangat sederhana: berapa banyak anak seperti Citra yang berhasil diberi kesempatan untuk mengubah nasibnya.

