Festival Etnik Religi: Merawat Iman, Budaya, dan Identitas Papua di Tengah Pluralisme
Oleh: Yosua Noak Douw - Doktor Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua
INVESTORTRUST – Festival Etnik Religi Tolikara Tahun 2026 yang berlangsung pada Rabu-Kamis (12-13/8) bukan sekadar kegiatan seremonial warga masyarakat dan semua elemen yang menyuguhkan aneka tarian, nyanyian, busana adat, pameran budaya atau keramaian rakyat. Namun, lebih dari itu festival etnik-religi ini adalah panggung budaya yang melahirkan kesadaran kolektif warga untuk melihat kembali siapa kita, dari mana kita berasal, nilai apa yang membentuk kehidupan, dan ke arah mana Tolikara harus dibangun meraih kesejahteraan warga.
Di tengah perubahan zaman yang cepat berubah di setiap sisi, masyarakat daerah tidak boleh kehilangan akar budayanya. Pembangunan memang penting, jalan dan jembatan harus dibangun, sekolah dan fasilitas kesehatan harus diperkuat, ekonomi rakyat harus bergerak, dan pelayanan pemerintahan harus semakin baik. Namun pembangunan yang tidak berpijak pada iman, budaya, dan identitas lokal akan melahirkan kemajuan fisik tanpa jiwa.
Karena itu, festival tersebut hadir sebagai ruang ekspresi untuk merawat iman, budaya, dan identitas masyarakat pegunungan Papua. Festival ini mengingatkan warga tanah Papua, terutama di Papua Pegunungan dan Kabupaten Tolikara khususnya bahwa kabupaten yang dikenal sebagai tanah Injil bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah rumah kehidupan, rumah iman, rumah budaya, rumah sejarah, dan rumah masa depan generasi.
Iman Memberi Arah, Budaya Memberi Akar
Salah satu pesan penting dari Festival Etnik Religi adalah bahwa iman dan budaya bukan dua kekuatan yang saling meniadakan. Iman memberi arah hidup, sedangkan budaya memberi akar kehidupan. Iman menuntun manusia kepada Tuhan, kasih, bela rasa, pengampunan, perdamaian, dan kebenaran. Budaya menjaga ingatan kolektif, bahasa, adat, persaudaraan, penghormatan kepada leluhur serta relasi sosial di tengah masyarakat yang plural.
Dalam kehidupan masyarakat Tolikara, iman Kristen telah menjadi bagian penting dari sejarah dan perjalanan hidup masyarakat. Injil membawa terang, harapan, perubahan, dan pembaruan. Namun jauh sebelum masyarakat mengenal sistem pemerintahan modern dan berbagai istilah pembangunan yang menyertainya, leluhur telah memiliki nilai-nilai luhur dalam kehidupan adat: saling membantu, menghormati orang tua, menerima tamu, berbagi makanan, menjaga hubungan keluarga, dan menyelesaikan masalah melalui musyawarah.
Nilai-nilai baik itu tidak boleh dimusnahkan atau tanggal dalam relasi sosial keagamaan dan kemasyarakatan. Sebaliknya, nilai-nilai tersebut perlu diterangi, dimurnikan, dan diperkuat oleh iman. Injil tidak datang untuk menghapus seluruh nilai budaya yang baik, tetapi untuk menuntunnya agar semakin berpusat pada kasih, kebenaran, dan keselamatan.
Maka, Festival Etnik Religi menjadi ruang perjumpaan antara iman dan budaya. Di dalamnya, masyarakat mendaraskan doa dan pujian kepada Tuhan, sang Sabda, menampilkan tarian, mengingat sejarah penginjilan, menunjukkan busana dan simbol adat serta memperkuat persaudaraan. Semua itu menjadi kesaksian bahwa masyarakat Tolikara memiliki akar budaya yang kuat dan arah iman yang jelas.
Hukum Kasih sebagai Fondasi Kehidupan Sosial
Festival ini harus berdiri di atas hukum kasih merujuk kasih dari sumber-Nya. Dalam terang iman Kristiani, Yesus Kristus bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi. Hukum yang kedua adalah mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Dua hukum kasih inilah yang menjadi dasar kehidupan iman dan sosial.
Jika festival disebut sebagai festival religi, maka religiusitasnya harus tampak dalam sikap hidup dalam interaksi sosial. Religi tidak boleh berhenti pada doa, ibadah, nyanyian, dan simbol-simbol rohani. Religi harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama, menyambut tamu, menolong yang lemah, menjaga perdamaian, mengampuni, dan menolak kekerasan.
Demikian pula, jika festival disebut sebagai festival etnik, maka etnik tidak boleh dipahami sekadar sebagai pakaian adat yang dikenakan, hiasan kepala, tarian, ukiran, atau benda budaya. Etnik harus dimaknai sebagai nilai hidup yang menolong manusia menjaga hubungan dengan Tuhan, keluarga, komunitas, tanah, dan alam.
Dengan demikian, Festival Etnik Religi harus menjadi sekolah kasih bagi umat, masyarakat. Ia mengajarkan bahwa orang beriman harus ramah, orang berbudaya harus menghormati sesamanya serta alam ciptaan, dan orang yang memiliki identitas harus mampu hidup berdampingan dengan sesama.
Tolikara sebagai Tanah Injil yang Ramah
Tolikara adalah bagian dari Tanah Injil. Namun sebutan Tanah Injil harus tampak dalam perilaku nyata. Tanah Injil harus menjadi tanah yang ramah. Tanah yang ramah harus menjadi tanah yang damai. Tidak cukup kita menyebut diri sebagai daerah religius apabila masih ada permusuhan, kekerasan, dendam, perpecahan, dan sikap saling merendahkan.
Keramahan masyarakat pegunungan Papua sesungguhnya memiliki akar yang panjang. Dalam tradisi masyarakat Lani dan komunitas Lapago pada umumnya, tamu tidak dibiarkan sendiri. Orang disapa, ditanya kabarnya, dikenali hubungan keluarganya, diberi tempat, diberi makanan, dan diterima sebagai bagian dari sesama makhluk ciptaan-Nya sekaligus dalam relasi sosial. Tangis perjumpaan dalam tradisi masyarakat bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kasih, kerinduan, dan kedalaman relasi.
Nilai keramahan seperti ini harus menjadi wajah Tolikara dan tanah Papua. Setiap tamu yang datang ke Karubaga, misalnya, harus mengalami bahwa Tolikara adalah rumah yang terbuka bagi siapa saja yang datang dengan niat tulus. Keramahan harus terasa di jalan, di tempat kegiatan, di penginapan, di pasar, di tempat makan, di rumah ibadah, dan di ruang pelayanan publik.
Festival ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa masyarakat pegunungan bukan hanya kuat menghadapi alam yang keras, tetapi juga memiliki hati yang hangat dalam menyambut sesama.
Melawan Stigma terhadap Masyarakat Pegunungan
Selama ini masyarakat pegunungan Papua sering dilihat dari sudut pandang yang sempit. Berita tentang konflik, keterisolasian, kemiskinan, perang suku atau kekerasan sering lebih dominan dibandingkan cerita tentang kasih, solidaritas, budaya, iman, kerja keras, dan kemampuan masyarakat bertahan hidup.
Pandangan seperti itu tidak utuh dan tidak adil. Masyarakat pegunungan memiliki peradaban yang hidup dalam bahasa daerah, sistem kekerabatan, pengetahuan alam, seni tutur, syair, tarian, musyawarah, hukum adat, penghormatan kepada leluhur, dan hubungan rohani dengan Sang Pencipta.
Festival Etnik Religi Tolikara menjadi ruang untuk melawan stigma itu dengan cara yang bermartabat. Bukan dengan kemarahan tetapi dengan karya nyata. Bukan dengan perdebatan kosong tetapi dengan kesaksian tentang kebaikan dan bela rasa. Dari Lembah Toli, masyarakat dapat menunjukkan kepada dunia bahwa orang gunung memiliki iman, budaya, identitas, kreativitas, dan masa depan.
Tolikara tidak perlu menunggu menjadi kota besar untuk menyampaikan pesan besar. Dari kampung, dari gereja, dari sekolah, dari honai, dari kebun, dari panggung budaya, dan dari suara anak-anak, pesan tentang martabat dapat diperdengarkan.
Salah satu bagian penting dalam Festival Etnik Religi adalah keterlibatan anak-anak sekolah dalam pertunjukan kolosal Ukulele pelajar. Anak-anak SD, SMP, dan SMA yang tampil bukan hanya memainkan alat musik. Mereka sedang menelusuri memori Sejarah tempo doeloe, menyanyikan iman, dan memperlihatkan bahwa tongkat estafet budaya tidak boleh jatuh.
Generasi muda Tolikara harus menjadi pewaris iman dan budaya. Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah juga harus menjadi tempat membentuk karakter, disiplin, kreativitas, cinta budaya, kecakapan sosial, dan keberanian tampil di ruang publik.
Karena itu, kegiatan seni rohani dan budaya perlu dibina secara berkelanjutan. Kelompok ukulele, paduan suara, tari, teater sejarah Injil, dokumentasi budaya, dan kelas bahasa daerah perlu hidup di sekolah, gereja, dan komunitas. Seni dan budaya dapat menjadi jalan untuk menjauhkan anak-anak muda dari minuman keras, narkoba, perjudian, kekerasan, dan penggunaan media sosial yang merusak.
Masa depan Tolikara sangat bergantung pada bagaimana generasi muda hari ini dibimbing, diarahkan ke arah yang lebih baik. Jika mereka diberi ruang, teladan, fasilitas, dan kepercayaan, mereka akan tumbuh sebagai generasi yang beriman, berbudaya, cerdas, dan percaya diri.
Festival sebagai Jalan Perdamaian
Festival Etnik Religi juga harus menjadi festival perdamaian. Perbedaan denominasi gereja, kampung, distrik, suku, bahasa, organisasi, pilihan politik, dan latar belakang sosial tidak boleh memecah-belah masyarakat. Tolikara adalah rumah bersama dan semua pihak mempunyai tanggung jawab menjaga rumah ini.
Solidaritas komunal yang kuat harus diarahkan untuk melindungi, menolong, mendamaikan, dan membangun. Jika terjadi persoalan, masyarakat tidak boleh memperbesar luka. Gereja, adat, pemerintah, perempuan, pemuda, dan aparat harus hadir untuk menghentikan kekerasan dan membuka ruang dialog.
Tolikara harus mengirimkan pesan baru kepada dunia: bukan pesan ketakutan tetapi kasih; bukan kebencian tetapi pengampunan; bukan perpecahan tetapi persatuan; bukan ketertinggalan tetapi keberanian bangkit dengan identitas sendiri.
Festival ini juga mengingatkan pentingnya menjaga alam ciptaan-Nya. Hutan, sungai, mata air, tanah, dan pegunungan bukan sekadar sumber ekonomi manusia. Bagi masyarakat adat, alam adalah ruang hidup, sumber identitas, tempat sejarah keluarga, dan warisan bagi anak cucu.
Tidak mungkin kita berbicara tentang iman dan budaya sambil membiarkan hutan rusak, mata air mati, sungai kotor, dan sampah berserakan. Menjaga alam adalah bentuk ketaatan kepada Tuhan, penghormatan kepada leluhur, dan kasih kepada generasi yang belum lahir.
Karena itu, Festival Etnik Religi harus menjadi festival yang bersih dan ramah lingkungan. Panitia, peserta, pelaku usaha, pemuda, dan masyarakat harus memastikan kebersihan lokasi kegiatan, mengurangi plastik sekali pakai, menyediakan tempat sampah, menjaga sanitasi, serta memulihkan lingkungan setelah kegiatan selesai.
Ekonomi Rakyat dan Pariwisata Bermartabat
Festival juga harus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Mama-mama, pemuda, petani, peternak, pengrajin, seniman, pelaku kuliner, pengelola penginapan, pengemudi, fotografer, pemandu, dan pelaku ekonomi kreatif harus menjadi pelaku utama.
Pangan lokal, noken, ukiran, busana adat, cendera mata, hasil kebun, dan produk olahan perlu diberi ruang promosi. Namun ekonomi festival harus dibangun di atas etika. Harga harus wajar, makanan harus bersih, pelayanan harus ramah, dan informasi harus jelas. Festival bukan kesempatan mengambil keuntungan sesaat, melainkan kesempatan membangun kepercayaan agar orang mau datang kembali.
Pariwisata Tolikara harus berbasis masyarakat, iman, budaya, dan alam. Dengan begitu, masyarakat tidak menjadi penonton di tanahnya sendiri, tetapi menjadi pemilik, pelaku, dan penerima manfaat.
Festival Etnik Religi Tolikara adalah panggilan untuk merawat iman, budaya, dan identitas. Ia bukan hanya panggung pertunjukan tetapi altar syukur, laboratorium sekaligus sekolah perdamaian, ruang pendidikan, jendela pariwisata, penggerak ekonomi rakyat, dan kesaksian martabat masyarakat pegunungan Papua.
Dari Lembah Toli, Tolikara dapat menyampaikan pesan besar kepada Tanah Papua, Indonesia, dan dunia bahwa kemajuan tidak harus membuat kita kehilangan akar. Pembangunan harus berjalan bersama iman. Modernisasi harus berjalan bersama budaya. Ekonomi harus berjalan bersama etika. Pariwisata harus berjalan bersama martabat. Dan identitas harus menjadi kekuatan untuk membangun masa depan.
Budaya kita adalah jati diri kita. Iman kita adalah kekuatan kita. Keramahan kita adalah wajah kita. Anak-anak kita adalah masa depan kita. Alam kita adalah rumah kehidupan kita. Persatuan adalah jalan kemajuan kita. Tolikara adalah rumah kita bersama.

