Ayo, Mari Kampanye Anti Phubbing!
Poin Penting
|
“Di era ketika semua orang terhubung, ironi terbesar adalah: kita semakin sering mengabaikan yang paling dekat.”
JAKARTA, investortrust.id — Di tengah ledakan penggunaan smartphone, muncul satu istilah yang merekam perubahan perilaku manusia modern: phubbing. Secara etimologis, kata ini merupakan gabungan dari phone dan snubbing (mengabaikan), yang diperkenalkan pada 2012 melalui kampanye linguistik di Australia. Namun dalam makna yang lebih dalam, phubbing bukan sekadar kebiasaan mengecek ponsel, melainkan bentuk disrupsi relasi sosial, ketika seseorang secara fisik hadir, tetapi secara psikologis absen dari interaksi.
Dalam kajian ilmiah, fenomena ini telah diteliti luas. Studi oleh James A. Roberts dan Meredith E. David yang dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior (2016) menemukan bahwa phubbing dalam hubungan interpersonal berkorelasi signifikan dengan penurunan kepuasan hubungan, meningkatnya konflik, serta risiko depresi. Penelitian lanjutan oleh Brandon T. McDaniel dan Jenny S. Radesky memperkenalkan istilah technoference, yakni gangguan interaksi sosial akibat kehadiran teknologi, yang terbukti mengganggu kualitas relasi orang tua-anak dan pasangan.
Dari perspektif psikologis, phubbing berakar pada mekanisme dopamine-driven feedback loop. Setiap notifikasi —pesan masuk, like, atau update media sosial— memicu pelepasan dopamin di otak, neurotransmitter yang terkait dengan rasa senang dan penghargaan. Pola ini menciptakan kebiasaan kompulsif untuk terus memeriksa ponsel. Selain itu, fenomena fear of missing out (FOMO), yang dikaji dalam berbagai studi psikologi sosial, membuat individu merasa cemas jika tidak terus terhubung dengan arus informasi digital. Akibatnya, perhatian terpecah, dan interaksi tatap muka kehilangan prioritas.
Sementara itu, secara sosiologis, phubbing mencerminkan pergeseran norma dalam masyarakat digital. Teori interaksionisme simbolik menjelaskan bahwa makna sosial dibentuk melalui interaksi langsung. Ketika interaksi ini terganggu oleh perangkat digital, makna kehadiran pun berubah. Penelitian dalam Journal of Applied Social Psychology menunjukkan bahwa individu yang di-phub merasa kurang dihargai, mengalami penurunan sense of belonging, dan cenderung menarik diri dari interaksi sosial. Dalam konteks yang lebih luas, ini berkontribusi pada meningkatnya gejala kesepian sosial meskipun konektivitas digital meningkat.
Baca Juga
Menkomdigi Meutya Hafid: Kurangi Gadget, Pererat Bonding Keluarga Saat Mudik
Dari sisi manfaat, teknologi yang memicu phubbing memang tidak dapat disangkal memberikan efisiensi komunikasi dan akses informasi. Namun, ketika penggunaannya tidak terkontrol, dampak negatifnya menjadi dominan: menurunnya kualitas percakapan, melemahnya empati, hingga erosi etika sosial. Dalam budaya yang menjunjung tinggi kesopanan —termasuk Indonesia— phubbing dipandang sebagai bentuk ketidakadaban modern, karena mengabaikan norma dasar penghormatan terhadap lawan bicara.
Karena itu, berbagai kampanye anti-phubbing mulai digaungkan secara global, tidak hanya sebagai isu etika, tetapi juga sebagai isu kesehatan mental dan kualitas relasi sosial. Para peneliti menekankan pentingnya digital self-regulation, kemampuan individu untuk mengendalikan penggunaan teknologi dalam konteks sosial. Dalam praktik sederhana, ini berarti mengembalikan prioritas pada kehadiran utuh saat berinteraksi: menyingkirkan ponsel saat rapat, makan bersama keluarga, atau berbicara dengan kolega.
Pada akhirnya, phubbing adalah cermin zaman: teknologi yang diciptakan untuk mendekatkan manusia, justru berpotensi menjauhkan jika tidak dikelola dengan bijak. Dan di tengah dunia yang semakin bising oleh notifikasi, mungkin bentuk penghormatan paling sederhana —dan paling langka— adalah memberi perhatian penuh kepada orang yang ada di hadapan kita.
Kampanye anti-phubbing kian relevan dengan realitas yang kita alami. Kampanye anti-phubbing bukan untuk menolak teknologi, melainkan untuk mengembalikan keseimbangan dalam penggunaannya. Menaruh ponsel saat berbicara, memberi perhatian penuh dalam rapat, atau sekadar tidak tergoda membuka notifikasi saat bersama keluarga adalah langkah kecil dengan dampak besar.
“Kualitas seseorang tidak hanya diukur dari seberapa cepat ia merespons layar, tetapi dari seberapa tulus ia menghargai manusia di hadapannya.”

