Surat Utang Korporasi Indonesia 2025 Cetak Rekor, Tembus Rp284,3 T
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pasar modal Indonesia menorehkan sejarah baru sepanjang tahun 2025 dengan mencatatkan pertumbuhan yang sangat progresif di sektor instrumen surat utang korporasi.
Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Pefindo baru-baru ini, (11/2/2026) total penerbitan surat utang korporasi secara keseluruhan mengalami lonjakan luar biasa mencapai Rp284,3 triliun. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 89,87% jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2024 yang hanya berada di level Rp149,7 triliun.
Disampaikan Chief Economist Pefindo, Suhindarto, medium term notes (MTN) juga ikut mengalami peningkatan signifikan, dengan didorong penerbitan surat utang oleh Danantara. Setelah hanya mencatatkan angka penerbitan sebesar Rp1,5 triliun pada tahun 2024, nilai penerbitan MTN di tahun 2025 melesat tajam hingga mencapai Rp62,7 triliun. Secara persentase, pertumbuhan ini mencapai angka fantastis yakni 4008,46% secara tahunan.
"Obligasi korporasi terjadi peningkatan dan sukuk juga demikian, keduanya ini mencapai Rp219,1 triliun atau naik sekitar 48,39% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang hanya sekitar Rp147,7 triliun. Kemudian untuk MTN juga mengalami peningkatan lumayan signifikan dari yang sebelumnya hanya sekitar 1,5 triliun di tahun lalu ini bisa mencapai 62,7 triliun yang mana ini didorong oleh penerbitan dari Danantara," kata Suhindarto.
Baca Juga
Pefindo: Penerbitan Surat Utang Korporasi di 2025 Catatkan 'All Time High', Sektor Swasta Memimpin
Dominasi instrumen obligasi dan sukuk dengan realisasi penerbitannya tercatat sebesar Rp219,1 triliun menjadi motor utama penggerak pasar.
Seiring dengan derasnya penerbitan baru tersebut, nilai outstanding atau sisa utang obligasi korporasi yang masih beredar di pasar turut terkerek naik ke posisi Rp555,7 triliun pada akhir Desember 2025.
Sementara nilai outstanding MTN kini menyentuh angka Rp87,4 triliun, meningkat signifikan dari posisi tahun lalu yang hanya sebesar Rp28,9 triliun. Sebuah indikasi umum bahwa korporasi mulai beralih memanfaatkan fleksibilitas MTN sebagai alternatif pendanaan jangka menengah yang efektif.
Instrumen efek utang lainnya seperti sekuritisasi dan Surat Berharga Komersial, meski secara nominal lebih kecil dibanding obligasi, penerbitan instrumen ini juga pertumbuhan signifikan dengan realisasi sebesar Rp2,5 triliun atau tumbuh sebesar 359,65% dibandingkan tahun sebelumnya.

