IHSG Berpotensi Bangkit Pekan Ini Menuju 6.660-6.880, Tiga Sentimen Ini Jadi Penopang
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi rebound dengan target level 6.660-6.880 sepanjang pekan ini. Pergerakan akan dipengaruhi tiga sentimen, yaitu indeks NBS PMI Manufacturing (China), Indeks PMI Manufacturing Amerika Serikat, dan data Non-Farm Payrolls Amerika Serikat periode Februari.
Sedangkan hingga pukul 10.30 WIB, IHSG melesat sebanyak 175 poin (2,78%) menjadi 6.42. Penguatan tersebut didukung kenaikan seluruh sektor saham dengan kenaikan tertinggi dicatatkan saham sektor material dasar lebih dari 3,65%, sektor consumer non primer 2,03%, dan sektor keuangan 2,10%.
Retail Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Indri Liftiany Travelin Yunus mengimbau, pelaku pasar saham diminta untuk mencermati data dari pasar global dan domestik agar tetap bisa mendulang cuan dalam transaksi saham pekan ini.
Baca Juga
Dari pasar global, IPOT mencatat setidaknya ada tiga sentimen yang akan memengaruhi pergerakan pasar pada 3-7 Maret 2025, yakni Indeks NBS PMI Manufacturing (China), Indeks PMI Manufacturing Amerika Serikat, dan data Non-Farm Payrolls Amerika Serikat periode Februari.
Indeks NBS PMI Manufacturing (China) dilaporkan kembali ekspansi ke level 50,2 dari bulan sebelumnya di level 49,1, lebih tinggi dari konsensus di level 49,9. “Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian China kembali menemukan titik terang dan mulai berjalan normal,” jelas Indri, Senin (3/3/2025)
Sedangkan Indeks PMI Manufacturing Amerika Serikat periode Februari 2025 diperkirakan akan sedikit menguat ke level 51,6 dibanding bulan sebelumnya. Namun di sisi lain, Indeks PMI Composite (gabungan antara manufaktur dan servis) Amerika Serikat pada Februari 2025 diperkirakan turun ke level 50,4 dari bulan sebelumnya di level 52,7.
Baca Juga
“Karena diprediksi stagnasi di sektor swasta dan terkontraksinya output jasa dibanding manufaktur yang cenderung stabil,” sambung Indri.
Ketiga, terdapat Data Non-Farm Payrolls Amerika Serikat periode Februari 2025 akan dirilis pada akhir pekan ini. Diperkirakan dana Non Farm Payrolls akan turun ke level 133.000 dibanding bulan sebelumnya yang berada di level 143.000. Data ini menjadi salah satu data yang cukup penting bagi The Fed untuk membantu menilai kondisi ekonomi Amerika Serikat.
"Jika dinilai masih cukup kuat maka hal tersebut berpotensi membuat The Fed untuk tetap mengambil langkah defensif dengan tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuannya di level yang sama seperti bulan sebelumnya," ujar Indri.
Sementara itu data-data dari domestik yang wajib dipantau, menurut dia adalah Indeks PMI Manufaktur Indonesia dan tingkat inflasi Indonesia periode Februari 2025.
Baca Juga
Indeks PMI Manufaktur Indonesia sepanjang Februari 2025 diperkirakan akan tetap pada kondisi ekspansi dan bertumbuh ke level 52,3 dari bulan sebelumnya 51,9. Indeks manufaktur Indonesia yang bertumbuh menunjukkan roda perekonomian Indonesia masih dalam kondisi aman. Hal ini berpotensi menarik investor asing untuk kembali menanamkan modalnya di Indonesia.
Selanjutnya, tingkat inflasi Indonesia periode Februari 2025 diperkirakan kembali mengalami disinflasi ke level 0,41% yang merupakan efek lanjutan. Hal ini berasal dari adanya kebijakan pemerintah dengan memberikan diskon tarif listrik sebesar 50% untuk pelanggan PLN.
“Berdasarkan sentimen yang ada saat ini, para pelaku pasar masih dihantui ketidakpastian pasar baik dari global maupun domestik. Kami prediksi bahwa aksi sell off besar-besaran masih berpotensi berlanjut pada pekan ini,” ungkapnya.
IPOT pun memprediksi IHSG akan bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah sepanjang pekan ini dalam rentang support 6.660 dan resistance 6.880.

