Saham RATU dan BRRC Kembali Disuspensi, Alasan Berbeda
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menghentikan sementara perdagangan saha PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) dipicu atas lompatan harga. Sebaliknya saham PT Raja Roto Cemerlang TBk (BRRC) dihentikan sementara setelah terjadi penurunan tajam.
Berdasarkan data BEI, saham RATU telah melesat sebanyak 369,56% dari Rp 1.150 menjadi Rp 5.400 hanya dalam tujuh hari transaksi. Penguatan harga saham hingga auto reject atas (ARA) emiten yang dikendalikan suami Ketua DPR Puan Maharani, Happy Hapsoro, ini berlangsung sejak listing perdana pada 8 Januari 2025.
Baca Juga
Terbang 276,52% dalam Enam Hari, Saham Emiten Happy Hapsoro (RATU) Akrhirnya Disuspensi
Sebaliknya, saham BRRC dan BRRC-W dihentikan sementara akibat penurunan harga dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data, harga saham BRRC yang listing di BEI pada 9 Januari 2025 ini telah turun dari level Rp 210 menjadi Rp 75 atau anjlok 64,28%.
Terkait RATU, Saham Raharja Energi (RATU) sebelumnya resmi listing perdana di BEI pada 8 Januari 2025, saham RATU dicatatkan dengan harga perdana Rp 1.150. Saham ini dibuka melesat hingga ARA setiap hari dalam enam hari ditransaksikan di BEI hingga mencapai level Rp 4.330 pada penutupan perdagangan kemarin.
RATU merupakan anak usaha PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) yang dikendalikan Happy Hapsoro, suami Ketuda DPR Puan Maharani. RATU merupakan perusahaan holding minyak dan gas (migas) yang dimiliki oleh Happy Hapsoro. Perseroan memiliki hak partisipasi sebesar 2,2423% di Blok Cepu melalui entitas asosiasi dengan kepemilikan 49%, yaitu PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC). RATU juga memiliki hak partisipasi sebesar 8% di Blok Jabung melalui anak usaha dengan kepemilikan 99%, yaitu PT Raharja Energi Tanjung Jabung (RETJ).
Baca Juga
Listing Perdana Saham Raja Roti (BRRC) Sempat Sentuh ARA Rp 262, Manajemen Ungkap Prospek Ini
Hingga Semester I-2024, RATU membukukan lompatan pendapatan dari US$ 11,51 juta menjadi US$ 27,95 juta. Kenaikan tersebut berimbas terhadap peningkatan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dari US$ 6,14 juta menjadi US$ 7,39 juta. Penyumbang pendapatan berasal dari Blok Cepu (PJUC) sebanyak 42% dan Blok Jabung (RETJ) mencapai 58%.
RATU disebut tengah menjajaki akuisisi blok migas. Direktur Utama RAJA Djauhar Maulidi pada 16 Oktober 2024 mengumumkan bahwa perseroan telah memasuki tahap akhir pembicaraan untuk mengakuisisi sebagian hak partisipasi di blok migas baru.

