Harga Saham Astra (ASII) Melorot, Sekuritas Ini Ungkap Faktor Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan penurunan harga saham PT Astra International Tbk (ASII) dalam beberapa pekan terakhir dipengaruhi berlanjurnya kebijakan subsidi pemerintah bagi penjualan mobil listrik.
Penurunan harga saham ASII juga dipicu atas minimnya sentiment positif pendukung penguatan harga saham perseroan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham ASII telah melorot sebayan 10,17% dari akhir tahun lalu Rp 5.650 menjadi Rp 5.075 hingga penutupan perdagangan saham kemarin.
Baca Juga
Penurunan Saham Astra (ASII) Parah! Bagaimana Fundamentalnya?
“Penurunan harga saham ASII dalam beberapa pekan ini dipicu minimnya katalis positif saham ASII bersamaan kehadiran beragam mobil listrik baru di Indonesia. Sentimen lainnya datang dari berlanjutnya tambahan subsidi yang berpihak pada kendaraan listrik,” tulis tim riset BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, hari ini.
Meski banyan produk mobil listrik diluncurkan di Indonesia, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan, penjualan mobil bermesin internal combustion engine (ICE) atau mesin berbahan bakar minyak diprediksi tetap mendominasi di pasar Indonesia ke depan.
Sebab, tingkat efisiensi pengguna mobil hybrid hingga listrik masih menjadi pertanyaan, karena harga baterai yang sangat tinggi bersamaan dengan harga mobil hybrid dan listrik yang masih mahal.
“Berdasarkan hasil penelitian eksklusif kami bahwa manfaat ekonomi penggunaan mobil listrik hingga hybrid belum didapatkan, karena biaya baterai yang mahal dan perbandingan harga dengan mbil ICE terlalu jauh,” terangnya.
Oleh karena itu, BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa penjualan mobil Astra International (ASII) diprediksi tetap kokoh dengan pangsa pasar (market share) berkisar 54-55% dengan pertumbuhan tahunan volume penjualan mobil berkisar 4-5% sepanjang 2024.
Baca Juga
Sedangkan penopang penjualan otomotif tahun ini, terang BRI Danareksa Sekuritas, akan ditopang estimasi penurunan tingkat suku bunga. Sebaliknya penjualan sepeda motor diperkirakan cenderung mendatar dan diharapkan mulai bangkit tahun 2025.
Selain bisnis otomotif, dia mengatakan, Astra International (ASII) akan mendapatkan dukungan positif dari segmen bisnis keuangan sejalan denngan perkiraan pertumbuhan volume penjualan mobil dan motor tahun ini.
Sebaliknya penjualan alat berat melalui anak usahanya PT United Tractors Tbk (UNTR) diperkirakan cenderung turun tahun ini atau telah mencapai puncaknya pada 2023.
Baca Juga
Insentif Mobil Listrik Bertambah, Tantangan Astra International (ASII) Bertambah
Meski penjualan mobil Astra diperkirakan tetap kokoh, BRI Danareksa Sekuritas memilih untuk merekomendasikan hold saham ASII dengan target harga Rp 5.700. Sedangkan sentimen positif saham ASII yang patut dipantau adalah kemungkinan ada kebijakan subsidi untuk mobil listrik.
Target tersebut mempertimbangkan peluang penurunan laba bersih perseroan tahun ini menjadi Rp 33,16 triliun tahun ini, dibandingkan perkiraan tahun lalu Rp 36,95 triliun.

