Tiga Koin Kripto Berikut Bisa Jadi Rekomendasi Menarik di Akhir Pekan Ini
JAKARTA, investortrust.id - Pasar aset kripto terus mengalami stagnasi. Bitcoin telah turun di bawah US$ 65.000 untuk pertama kalinya sejak pertengahan Mei.
Mengutip Watcher Guru, Sabtu (22/6/2024) penurunan saat ini kemungkinan disebabkan oleh para penambang BTC yang menyerah, karena biaya menambang satu BTC melebihi US$ 86.000 minggu ini. Penambang telah menjual sebagian dari kepemilikan mereka untuk mencatat keuntungan. Lebih lanjut, pasar juga menderita karena kurangnya uang baru.
Dengan meredanya inflasi, sentimen pedagang mungkin membaik dengan harapan pemotongan suku bunga. Hal ini dapat mendorong lebih banyak investasi dalam aset berisiko, seperti kripto. Oleh karenanya, berikut adalah tiga koin kripto yang dapat diperhatikan di akhir minggu ini.
Baca Juga
Kehadiran Aplikasi SPRINT dari OJK Jadi Langkah Positif Bagi Ekosistem Kripto di Indonesia
1.Bitcoin
Harga Bitcoin (BTC) telah mengalami penurunan stabil sejak awal bulan ini. BTC diperdagangkan di atas US$ 71.000 pada 6 Juni 2024 dan sejak itu turun di bawah US$ 65.000. Seperti disebutkan sebelumnya, penjualan BTC oleh penambang dan kurangnya modal segar mungkin menjadi penyebab tren turun BTC saat ini.Sebagai pemimpin pasar, setiap pergerakan BTC kemungkinan akan berdampak pada aset kripto lainnya.
2.Ethereum
Ethereum (ETH) mengalami rally singkat minggu ini setelah Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (AS) atau US Security and Exchange Commission (SEC) menghentikan penyelidikannya terhadap proyek tersebut.
Harga aset ini kembali turun, dengan penurunan sebesar 7,8% dalam grafik 14 hari dan 6,4% dalam sebulan terakhir.
SEC juga menyetujui ETF (Exchange Traded Funds) ETH, yang mungkin diluncurkan pada awal Juli. Persetujuan ETF dan penghentian penyelidikan oleh SEC dapat memicu reli besar untuk ETH. Kemungkinan reli telah ditunda dan akan dimulai begitu partisipan pasar lebih percaya diri.
Baca Juga
Berikut Keuntungan Aplikasi SPRINT OJK untuk Perkembangan Industri Aset Kripto
3.Pepe
Sejak peluncurannya pada April 2023, Pepe telah tampil luar biasa. Ini adalah salah satu aset kripto berkinerja terbaik tahun lalu. Pepe telah mencapai beberapa titik tertinggi sepanjang masa yang terbaru terjadi pada 27 Mei 2024. Aset kripto bertema katak ini mungkin akan mengalami rebound segera. Penurunan harga mungkin menjadi titik masuk yang baik bagi investor baru.
Prospek Rebound
Secara terpisah, Crypto Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin mengatakan lesunya harga Bitcoin disebabkan beberapa faktor, diantaranya perubahan outlook suku bunga AS yang semakin memperkuat nilai USD di tengah mulai diturunkannya suku bunga oleh beberapa bank sentral di kawasan lain seperti Eropa misalnya.
“Sikap The Fed yang tetap konsisten agar perekonomian dapat mencapai target inflasi di 2% membuat situasi suku bunga tinggi saat ini berpotensi terjadi hingga beberapa bulan ke depan. Kondisi tersebut membuat USD menjadi instrumen yang relatif menarik untuk menyimpan nilai aset para investor. Sehingga investor cenderung memilih instrumen yang relatif lebih aman dan menghasilkan return yang cukup tinggi, dibandingkan aset kripto,” jelas Fahmi dalam riset dikutip Sabtu (22/6/2024).
Dampak perubahan outlook suku bunga The Fed pasca pertemuan FOMC pada 12 Juni tersebut juga tergambar pada ETF Bitcoin Spot yang kemudian membukukan arus keluar atau netflow negatif selama 4 hari berturut-turut mulai 13 Juni hingga 18 Juni, setelah sebelumnya sempat membukukan rekor netflow positif beruntun selama 19 hari. ETF Bitcoin spot mengalami arus keluar relatif signifikan dengan total arus keluar mencapai US$ 878,9 juta dalam tujuh hari perdagangan terakhir, mengacu data Coinglass.
Kendati demikian, Fahmi melanjutkan, meningkatnya jumlah likuiditas di AS mengindikasikan potensi aliran dana yang signifikan ke pasar kripto apabila situasi dovish atau tren penurunan suku bunga mulai terjadi. Situasi tersebut dapat dilihat dari data M2 yang memaparkan kondisi jumlah uang yang beredar dalam perekonomian yang mencakup aset yang relatif mudah dikonversi menjadi uang tunai (likuid). Ketersediaan likuiditas yang meningkat berpotensi akan turut berdampak pada pasar kripto ketika situasi suku bunga mulai berbalik.
“Apabila tren kenaikan likuiditas M2 yang telah terjadi sejak Februari kemudian berlanjut di saat pasar terkonsolidasi atau
bahkan bearish imbas situasi suku bunga tinggi, maka gelombang dana masuk yang akan terjadi di pasar kripto berpotensi sangat besar ketika kebijakan dovish mulai diambil,” ujar Fahmi.
Baca Juga
Di tengah melemahnya Bitcoin, sejumlah aset kripto lainnya atau disebut altcoin justru mengalami kenaikan. Menurut indikator CryptoQuant yang mengkalkulasi 180 days moving average terhadap perbedaan rasio MVRV atau rasio untuk mengetahui kapan harga aset berada di atas
maupun di bawah nilai wajar, di antara Ethereum dan Bitcoin saat ini dapat dikatakan sebagai fase awal altseason di mana altcoin biasanya akan cenderung menorehkan performa harga yang lebih baik dari Bitcoin.
“Situasi ini menarik untuk dimanfaatkan oleh para investor yang berminat dengan altcoin untuk berinvestasi di aset kripto potensial selain Bitcoin. Namun sebelum memilih altcoin, investor perlu melihat dari kekuatan inovasi dan teknologinya, apakah altcoin tersebut membawa nilai baru yang unik yang mungkin akan diapresiasi oleh para investor aset kripto. Selain itu, perlu juga diperhatikan nilai merek atau popularitas, serta seberapa besar komunitas dari aset kripto tersebut. Hal ini penting karena akan mempengaruhi kekuatan pasar baik dari token maupun produk yang dikembangkan,” jelas Fahmi.

