Bila PDB Sesuai Ekspektasi, Saham TLKM, ASTRA, dan BBRI Dapat Kembali Melambung
JAKARTA, investortrust.id - Menjelang pengumuman data produk domestik bruto (PDB) kuartal I-2024 hari ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (6/5/2024), dibuka menguat. Kenaikan mencapai 10 poin (0,14%) menjadi 7.141 hingga pukul 09.05 WIB.
Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama Teguh Hidayat memprediksi bahwa PDB Indonesia akan berada di rentang 5.0-5,2% pada kuartal I-2024. “Di kuartal I kemarin kita tahu, momen pemilu itu mencapai puncaknya. Kampanye menyebabkan pertukaran uang itu meningkat signifikan pada bulan Januari dan Februari. Jadi, PDB kita pada yang nanti akan diumumkan seharusnya lebih baik dibanding kuartal kemarin. Sekitar 5% sampai 5,2%,” ujar Teguh saat dihubungi Investortrust, Senin (6/5/2024).
Baca Juga
PDB RI Diperkirakan Turun, Kurs Rupiah Masih Menguat ke Rp 16.027/USD
Bursa Segera Bangkit
Ia mengatakan bila rilis data PDB sesuai dengan ekspektasinya yaitu di angka 5-5,2%, maka pasar saham akan segera bangkit, setelah anjlok beberapa pekan lalu. “Karena kemarin kan IHSG kita turun, ya saham-saham kita juga banyak yang turun. Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) turun, Astra International Tbk (ASII) turun, Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun. Kalau memang nanti hasilnya sesuai ekspektasi, mungkin pasar saham kita bisa naik lagi,” ujarnya.
Selain itu, ia juga memaparkan terdapat beberapa sentimen lain yang akan memengaruhi pergerakan IHSG kedepannya, yaitu kenaikan BI rate dan penguatan rupiah. Sebab, kenaikan BI rate dinilai sebagai penyebab beberapa saham perbankan melemah.
Baca Juga
Pasar Domestik Dilanda The Perfect Storm, Bahana TCW Ungkap Langkah BI Sudah Tepat
Sebagai catatan, rupiah hari ini (6/5/2024) menguat 98 poin atau 0,61% menjadi Rp15.985 per dolar Amerika Serikat (AS). Sedangkan, BI rate kini menyentuh level 6,25%, naik 25 basis poin (bps) setelah sebelumnya tertahan di level 6% sejak Oktober 2023.
“Jadi soal PDB ini pengaruhnya pengaruh tambahan saja gitu. Yang lebih dilihat orang itu adalah rupiah sama BI rate itu tadi,” tuturnya.
Ia menilai terdapat sentimen lain yang dapat membuat harga pasar saham kembali merosot. Ini adalah tensi geopolitik.
“Soal Israel sama Palestina ya, serta Iran. Kemarin kan udah agak reda. Tapi, kita tidak tahu apakah akan ramai terjadi perang lagi atau apa. Tapi di luar itu, nggak ada masalah sebab kinerja emiten bagus, sehingga tidak ada sentimen lain yang perlu diperhatikan,” ucapnya.

