Ini Kata Bos BRI Soal Harga Saham BBRI Saat Ini
JAKARTA, investortrust.id - Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) ditutup ambles 320 poin (6,21%) ke level Rp 4.830 per lembar pada perdagangan Jumat (26/4/2024). Bahkan dalam sebulan terakhir saham bank pelat merah dengan laba terbesar itu ambles hingga 23,33%.
Meski demikian, Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan bahwa BRI tidak akan memberikan proyeksi pertumbuhan laba yang agresif pada tahun ini, sebagai upaya perseroan menaikkan harga saham.
“Apakah kalau begitu kita ubah proyeksinya menjadi lebih agresif?. Saya kira jawabannya tidak, karena tidak terjamin apakah proyeksi yang agresif akan menaikkan harga saham,” jelas Sunarso pada kesempatan Halal Bihalal bersama Pemimpin Redaksi, Jumat (26/4/2024).
Menurut Sunarso, lebih penting untuk membuat proyeksi dan guidance yang realistis. Sehingga, walaupun tahap untuk mengejar proyeksi tersebut terbilang susah, namun pihaknya realistis target tersebut masih dapat dicapai. Di sisi lain, membuat proyeksi dan guidance yang agresif dianggapnya memiliki risiko yang tinggi.
Baca Juga
Bos BRI Harap Era Suku Bunga Tinggi Berakhir di Semester II 2024
“Saya tidak terpancing untuk membuat proyeksi pertumbuhan yang double digit. Terutama profit ya karena apabila kita paksakan untuk tumbuh double digit, tapi market-nya tidak memungkinkan, itu berbahaya,” ujar Sunarso.
Sebagai catatan, secara kinerja fundamental, BRI mencetak laba konsolidasi sebesar Rp15,98 triliun pada kuartal I-2024 atau naik 2,5% dibanding periode yang sama tahun lalu. Meskipun demikian, capaian laba bersih tersebut berada di bawah ekspektasi konsensus.
Sementara itu, sepanjang 2023 BRI meraih laba bersih konsolidasi adalah sebesar Rp60,43 triliun. Capaian laba ini meningkat 17,55% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp51,41 triliun.
Sunarno melanjutkan, bahwa apabila laba bersih tahun ini mencapai angka yang sama dengan tahun lalu, merupakan hal yang sudah baik. Sebab, dengan laba yang sama, BRI masih bisa membagikan dividen Rp 48 triliun.
“Itu saya pikir sudah hal yang luar biasa, sudah termasuk sustainable growth,” tuturnya.
Ia melanjutkan, menurut riset indeks bisnis UMKM yang dilakukan BRI, saat ini bisnis UMKM mengalami penurunan daya beli. Hal ini yang dianggap salah satu tantangan dalam meningkatkan pertumbuhan.
“Nah kemudian, dalam situasi tersebut kita harus bekerja sama untuk meningkatkan daya beli, kemampuan konsumsi rumah tangga,” ujarnya.
Baca Juga
Oleh sebab itu, menurut Sunarso, ketersediaan lapangan pekerjaan memiliki peranan sentral dalam menjaga stabilitas daya beli. Sebab dari situ, masyarakat masih memiliki sumber penghasilan yang memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan esensial khususnya melalui UMKM.
“Menurut saya program di luar bisnis yang bisa diberikan adalah menjaga ketersediaan lapangan kerja. Sehingga, masyarakat tetap memiliki penghasilan sebab masih bekerja,” katanya.
Sebagai catatan, pada tahun 2024, BRI menargetkan pertumbuhan kredit UMKM di 11%-12%. Sepanjang tahun 2023 BRI telah mendorong penyaluran kredit tumbuh 11,2% secara tahunan menjadi Rp1.266,4 triliun atau lebih tinggi dibandingkan dengan penyaluran kredit industri perbankan nasional yang sebesar 10,4%.
Sedangkan pada kuartal I-2024, BRI juga telah mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp1.308,65 triliun atau tumbuh 10,89% secara tahunan. Pertumbuhan kredit bank ditopang oleh pertumbuhan bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sementara holding Ultra Micro atau UMi yang terdiri dari tiga market leader dalam industrinya, BRI, Pegadaian, dan PNM yang telah berjalan dari 2021, telah berhasil melayani 37 juta debitur untuk mendapatkan akses keuangan formal.

