Valuasi Saham RI Murah, Wamenko Drajad Minta Investor Domestik Percaya Diri
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Drajad Wibowo menilai, valuasi sejumlah saham emiten di pasar modal Indonesia tidak masuk akal. Terutama ketika kinerja fundamental perusahaan masih menunjukkan perbaikan, tetapi harga sahamnya justru tertekan.
Ia pun meminta investor domestik lebih percaya pada hasil analisis dan perhitungan sendiri, ketimbang semata-mata mengikuti penilaian investor asing.
Drajad mencontohkan, terdapat emiten yang mencatatkan kenaikan laba, penjualan, serta return on assets (ROA), tetapi memiliki rasio price to book value (PBV) di bawah 1 kali. Menurutnya, kondisi ini patut dipertanyakan karena tidak mencerminkan kinerja fundamental perusahaan.
“Silakan dicek, pantas enggak kalau satu emiten labanya naik, penjualannya naik, ROA-nya naik, lalu PBV-nya di bawah satu, pantas enggak?” ujar Drajad saat menjadi pembicara kunci pada Wealth Wisdom yang diselenggarakan Bank Permata di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Ia turut menyoroti saham salah satu emiten dengan fundamental yang dinilai sangat baik, tetapi memiliki PBV yang anjlok hingga sekitar 0,6 kali.
Oleh karena itu, Drajad mengimbau investor domestik untuk lebih percaya diri dalam menilai kewajaran harga saham berdasarkan kinerja perusahaan. Dia meyakini, investor di dalam negeri memiliki kemampuan menghitung valuasi secara mandiri, sehingga tidak seharusnya hanya mengikuti sentimen yang berkembang di pasar global.
Baca Juga
Selain menyoroti valuasi saham individual, Drajad menilai valuasi pasar saham Indonesia secara keseluruhan masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara lain.
Ia menyebut rasio price to earnings (PE) pasar saham Indonesia berada di kisaran 9 kali, sementara Singapura mencapai sekitar 18 kali. “Sementara jumlah investor kita lebih banyak,” imbuhnya.
Drajad pun menyinggung penilaian terhadap pasar modal Indonesia di tengah wacana penurunan klasifikasi menjadi standalone market. Ia menyebut, dari 18 indikator yang menjadi dasar penilaian, Indonesia diklaim hanya tertinggal pada dua indikator, sementara 16 indikator lainnya dinilai sudah baik.
Dengan kondisi tersebut, Drajad mempertanyakan dasar apa yang membuat pasar modal Indonesia disandingkan dengan negara yang sedang berkonflik maupun memiliki tingkat inflasi sangat tinggi.
“Saya berharap, investor domestik tolong lebih percaya diri pada kepala kita, hitungan kita, maupun pada hati kita, insting kita. Karena at the end of the day, yang dipertaruhkan di pasar adalah kantong dari kita sendiri, kantong bapak ibu sendiri, jadi please use our head and our heart to protect our own source of income,” pungkasnya.
