Tidak Gentar Saja Tidak Cukup
"MSCI tidak akan takut pada keberanian kita. MSCI hanya akan percaya pada reformasi kita."
Oleh: Ana Mustamin - Pengamat Komunikasi Publik, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo)
INVESTORTRUST - Pada Jumat siang, 16 Oktober 2026, layar-layar perdagangan di seluruh sekuritas mendadak memerah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada Januari lalu sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di 9.174, hari itu ditutup terperosok hingga 5.185. Dalam satu hari, 11,57 persen nilainya lenyap, sekitar 85 miliar dolar kapitalisasi pasar menguap. Para trader senior menyebutnya sebagai hari terburuk sejak krisis moneter 1998, karena penurunan intraday-nya yang paling curam dalam sejarah.
Pemicunya hanya satu paragraf pengumuman dari New York. MSCI, lembaga yang indeksnya menjadi rujukan bagi dana global senilai lebih dari 14 triliun dolar, mengumumkan akan membuka konsultasi untuk menurunkan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, sebuah kasta yang hari ini dihuni oleh Argentina dan Lebanon. Alasannya lugas dan menyakitkan: struktur kepemilikan saham yang tidak transparan, konsentrasi kepemilikan yang terlalu tinggi, dan dugaan praktik perdagangan yang terkoordinasi.
Pasar belum sempat bernapas. Pada Senin, 19 Oktober, IHSG kembali terpukul 3,64 persen ke level 4.996. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, sejak awal pandemi Covid-19, indeks kita itu meninggalkan level psikologis 5.000. Dalam dua hari perdagangan saja, lebih dari 15 persen kepercayaan investor telah menghilang.
Di tengah kepanikan itulah, pada Rabu, 21 Oktober, di hadapan Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto akhirnya angkat bicara. Kalimat yang keluar adalah kalimat yang heroik: "MSCI macam-macam, dia mau takut-takuti kita. Saya hanya katakan kepada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut siapa pun dan tidak akan gentar."
Pada hari pernyataan itu disampaikan, kebetulan IHSG memang memantul tipis 0,94 persen ke 5.328, terbantu oleh keputusan Bank Indonesia yang menahan suku bunga di 5,75 persen. Tepuk tangan di ruang sidang kabinet terdengar keras. Namun di luar Istana, pantulan itu tidak mengubah apa pun. Pasar masih 700 poin lebih rendah dari sebelum pengumuman MSCI, dan dana asing masih tercatat keluar lebih dari 17 triliun rupiah dalam sehari.
Apakah respons presiden Prabowo Subianto akan sanggup memulihkan kepercayaan pasar?
Sayangnya, MSCI bukan kekuatan asing yang ingin mengintimidasi kedaulatan. Meskipun ada kecurigaan dan tuduhan yang sulit dibuktikan bahwa MSCI ditunggangi, pada kenyataannya lembaga itu menjadi rujukan pasar modal di seluruh dunia. Mereka adalah cermin. Dan cermin tidak bisa digertak dengan keberanian. Cermin hanya bisa dijawab dengan perbaikan diri. Ketika Presiden berkata "tidak takut", MSCI menjawab dengan kalimat dinginnya sendiri melalui email kepada Reuters: "Keputusan kami mengikuti metodologi yang transparan dan berbasis aturan."
Pasar mendengar dua bahasa yang berbeda. Di satu sisi bahasa nasionalisme, di sisi lain bahasa tata kelola.
Bagi investor ritel — para guru, pensiunan, dan pemilik UMKM yang reksadananya tergerus belasan persen dalam tiga hari — yang mereka butuhkan bukan pembuktian bahwa negara mereka berani, melainkan pembuktian bahwa negara mereka mendengarkan.
Presiden sebenarnya memiliki momentum emas pada 21 Oktober itu. MSCI memberi kita waktu yang sangat lapang: konsultasi hingga 30 April 2027 dan keputusan final baru pada 30 Juni 2027. Delapan bulan adalah waktu yang cukup untuk berbenah, jika ada kemauan politik.
Yang seharusnya dikatakan Presiden bukanlah "kita tidak takut dan tidak gentar", melainkan "kita mendengar". Sebuah pernyataan yang mengakui bahwa persoalan beneficial ownership dan saham-saham dengan kepemilikan terkonsentrasi memang harus dibenahi. Sebuah instruksi terbuka kepada OJK dan BEI untuk menaikkan batas free float menjadi 15 persen, membuka transparansi kepemilikan di atas 1 persen, dan mempublikasikan daftar saham yang bermasalah — yang belakangan justru harus dijelaskan sendiri oleh OJK untuk meredam kekisruhan.
Bangsa yang besar tidak diukur dari kerasnya ia berteriak kepada dunia. Bangsa yang besar diukur dari beraninya ia menatap cermin, mengakui retaknya, dan memperbaikinya. Karena pada akhirnya, MSCI tidak akan takut pada keberanian kita. MSCI hanya akan percaya pada reformasi kita.***
