Buyback BBRI Terbuka, Saham Dibidik Rp4.100 dengan Dividen Dua Digit
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Tekanan yang dialami oleh indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa hari terakhir membuka peluang bagi perusahaan untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) tanpa harus mengantongi persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Fasilitas tersebut masih tersedia hingga akhir 2026 menyusul perpanjangan kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait kondisi pasar modal yang berfluktuasi secara signifikan.
Melalui Surat No. S-112/D.04/2026 tertanggal 9 September 2026, OJK memperpanjang penetapan kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan hingga 31 Desember 2026. Kebijakan ini memberikan kesempatan bagi perusahaan terbuka untuk melakukan buyback saham tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan RUPS. Ketentuan tersebut mengacu pada Peraturan OJK (POJK) Nomor 13 Tahun 2023.
Selaras dengan hal tersebut, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus mencermati dinamika pasar saham yang saat ini masih dipengaruhi oleh berbagai sentimen dan kondisi global. Dalam konteks tersebut, perseroan memandang bahwa pergerakan harga saham BBRI saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental, kinerja, maupun prospek bisnis perusahaan secara utuh.
Baca Juga
Saham BRI (BBRI) Makin Murah, Dividend Yield 13,6% dan PBV Tinggal 1,2 Kali
Terkait rencana adanya buyback saham ini, Corporate Secretary BRI Dhanny menyampaikan perseroan siap untuk berpartisipasi. “Rencana tersebut sekaligus mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental dan prospek bisnis jangka panjang Perseroan, dengan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, penerapan tata kelola perusahaan yang baik serta dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Dhanny.
Rencana buyback saham tersebut menjadi bagian dari strategi Perseroan dalam menjaga nilai perusahaan dan mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham. Apalagi BBRI sebelumnya menuntaskan buy back pertama periode 12 Juni hingga 11 September 2026 dengan serapan baru mencapai Rp 90,37 miliar dari total rencana Rp 500 miliar.
Peluang buy back juga didukung masih besarnya potensi penguatan harga saham BBRI. Hal ini terungkap dari riset terakhirnya Mandiri Sekuritas yang mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp4.100. Sementara itu, MNC Sekuritas juga merekomendasikan beli saham BBRI dengan target harga Rp4.050.
Kedua target harga tersebut mencerminkan pandangan positif analis terhadap prospek saham bank pelat merah tersebut, meskipun harga sahamnya menghadapi tekanan di pasar. Selain potensi pemulihan harga, daya tarik saham BBRI juga berasal dari potensi imbal hasil dividen atau dividend yield yang tinggi.
Baca Juga
Saham BRI (BBRI) Rebound 6,3%, IHSG Terangkat 135 Poin! Target Harga Masih Rp 4.100
Pengamat pasar modal Wahyu Tri Laksono sebelumnya menilai, potensi dividend yield dua digit tergolong tinggi untuk bank berskala besar. Berdasarkan perhitungan trailing twelve months (TTM), dividend yield BBRI berada di kisaran 10,06%–13,62%, bergantung pada basis perhitungan yang digunakan.
Sebelumnya, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, di tengah pelemahan IHSG yang sempat berada di bawah level 5.000 dapat menjadi peluang investasi jangka panjang. Sejumlah saham perusahaan pelat merah memiliki valuasi yang menarik di tengah fundamental bisnis yang dinilai masih solid.
Danantara, kata dia, terus melakukan analisis secara komprehensif sebelum mengambil keputusan investasi. Penilaian tersebut mempertimbangkan valuasi perusahaan dan kekuatan fundamental BUMN dalam jangka panjang.
Baca Juga
BRI (BBRI) Jadi Saham Bank Paling Moncer dan Paling Banyak Diborong Asing, Bakal Tembus Rp 4.010?
“Kita melihat kembali valuasi perusahaan-perusahaan kita sangat baik, sangat solid, dan valuasinya juga boleh dibilang sekarang menjadi sangat murah. Tentunya kita sebagai investor, baik di pasar modal maupun BUMN yang kita miliki, justru melihat ini sebagai opportunity untuk investasi jangka panjang,” ujar Rosan di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (19/10/2026).
Senada dengan Rosan, Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria mengatakan, rencana penambahan kepemilikan saham akan difokuskan pada perusahaan yang memiliki fundamental bagus. “Nanti akan menambah kepemilikan (saham), akan kami cek utamanya yang saham-saham bagus fundamentalnya,” katanya.
