Analis Ungkap Prospek IHSG Usai BEI Terapkan Kebijakan Saham HSC
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih menghadapi tekanan dan volatilitas tinggi di tengah rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan seluruh saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC) dari perhitungan indeks.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji menilai rencana BEI tersebut merupakan langkah positif untuk meningkatkan transparansi, kredibilitas, dan kualitas pembentukan indeks pasar modal Indonesia.
"Menurut saya, rencana pengeluaran saham-saham dengan HSC dari perhitungan IHSG merupakan langkah yang positif dari sisi peningkatan transparansi, kredibilitas, dan kualitas pembentukan indeks pasar modal Indonesia," kata Nafan saat dihubungi investortrust.id, Senin (19/10/2026).
Menurutnya, kebijakan tersebut diharapkan membuat IHSG lebih representatif dalam menggambarkan kondisi pasar saham secara keseluruhan. Pasalnya, saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi berpotensi memiliki jumlah saham beredar di publik atau free float yang terbatas, sehingga pergerakan harganya belum tentu mencerminkan kondisi pasar secara luas.
Meski demikian, Nafan memperkirakan penyesuaian metodologi tersebut berpotensi memicu volatilitas dalam jangka pendek. Perubahan persepsi investor dapat terjadi, terutama jika kebijakan ini dipandang sebagai bagian dari upaya pembenahan tata kelola pasar modal setelah evaluasi MSCI.
Baca Juga
Bukan Delisting! BEI Keluarkan 80 Saham HSC dari Perhitungan IHSG
"Namun, dalam jangka pendek, penyesuaian metodologi tersebut berpotensi menimbulkan volatilitas dan perubahan persepsi investor, terutama apabila pasar menilai kebijakan ini sebagai bagian dari upaya pembenahan tata kelola pasar modal setelah munculnya evaluasi MSCI," terang Nafan.
Tekanan pada IHSG berpotensi berlanjut
Untuk pergerakan IHSG ke depan, Nafan memandang tekanan masih berpotensi berlanjut selama ketidakpastian mengenai status klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI, arus dana asing, dan kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih.
Ia menambahkan, pengeluaran saham HSC dari perhitungan IHSG tidak serta-merta menghilangkan tekanan jual di pasar. Dampak kebijakan tersebut akan bergantung pada mekanisme implementasi, cakupan saham yang dikeluarkan, serta respons pelaku pasar.
Dalam jangka menengah hingga panjang, kebijakan tersebut berpotensi memberikan dampak positif apabila diikuti peningkatan transparansi kepemilikan saham, perbaikan likuiditas, peningkatan free float, dan penegakan regulasi secara konsisten.
"Oleh karena itu, investor sebaiknya tetap mencermati perkembangan kebijakan BEI dan MSCI, pergerakan nilai tukar rupiah, serta arus dana asing, sembari menerapkan manajemen risiko yang disiplin dan mengutamakan saham-saham dengan fundamental kuat, likuiditas memadai, serta valuasi yang menarik," tandasnya.
Sebelumnya diberitakan investortrust.id, BEI menyatakan akan mengeluarkan seluruh saham yang masuk kategori HSC dari perhitungan IHSG. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, kebijakan yang mengacu pada praktik bursa Hong Kong tersebut ditujukan untuk meningkatkan kredibilitas dan integritas indeks saham Indonesia.
Jeffrey menegaskan, kebijakan itu bukan merupakan penghapusan pencatatan saham (delisting). Saham-saham yang masuk kategori HSC tetap tercatat dan dapat diperdagangkan seperti biasa, tetapi pergerakan harganya tidak lagi diperhitungkan dalam IHSG.
"Untuk memberikan indeks harga yang lebih kredibel dan berintegritas, kami akan mengeluarkan seluruh saham high shareholding concentration dari indeks harga saham gabungan," kata Jeffrey kepada awak media di Gedung BEI, Jakarta, Senin (19/10/2026).
