Saham BRI (BBRI) Makin Murah, Dividend Yield 13,6% dan PBV Tinggal 1,2 Kali
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Koreksi harga saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) ke kisaran Rp 2.540 membuka peluang imbal hasil dividen (dividend yield) mencapai 13,6%, dengan asumsi dividen per saham (dividend per share/DPS) sebesar Rp 346 atau sama dengan nilai dividen untuk kinerja 2025.
Pengamat pasar modal Wahyu Tri Laksono menilai, potensi dividend yield dua digit tersebut tergolong tinggi untuk bank berskala besar. Berdasarkan perhitungan trailing twelve months (TTM), dividend yield BBRI berada di kisaran 10,06%–13,62%, bergantung pada basis perhitungan yang digunakan.
“Dividend yield tunda atau berbasis trailing twelve months (TTM) melonjak ke kisaran 10,06% hingga 13,62%, tergantung basis perhitungan EPS atau annualized saat ini. Angka yield dua digit ini tergolong sangat tinggi untuk ukuran bank berskala besar,” ujar Wahyu kepada Investortrust.id, Senin (19/10/2026).
Baca Juga
Dengan asumsi DPS Rp 346, pembelian saham BBRI pada harga Rp 2.540 menghasilkan dividend yield sekitar 13,62%. Sementara itu, jika dibeli pada harga Rp 2.550, potensi yield mencapai 13,57%. Selain potensi dividen, koreksi harga saham BBRI membuat valuasinya relatif murah dibandingkan rata-rata historis. Rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV) berada di kisaran 1,20–1,21 kali, jauh di bawah rata-rata historis sebesar 2,5–3 kali.
Adapun kapitalisasi pasar BBRI berada di kisaran Rp 384,96 triliun yang tetap menempatkan bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tersebut sebagai salah satu emiten berkapitalisasi besar (blue chip) dengan bobot signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Lampaui Deposito dan SBN
Wahyu menilai, potensi dividend yield BBRI pada harga saham saat ini lebih tinggi dibandingkan imbal hasil sejumlah instrumen keuangan konvensional di pasar domestik.
Sebagai perbandingan, bunga deposito rupiah bank umum berada di kisaran 3%–4,5% per tahun, sebelum memperhitungkan pajak penghasilan final. “Yield BBRI yang potensial menyentuh double-digit tentu jauh melampaui tingkat bunga deposito,” ujarnya.
Sementara itu, kupon Surat Berharga Negara (SBN), seperti Obligasi Negara Ritel (ORI) atau sukuk ritel pada penerbitan periode-periode terakhir, berada di kisaran 6–6,5% per tahun. “Meskipun SBN memiliki jaminan penuh dari negara dan bebas risiko gagal bayar, potensi yield BBRI secara persentase masih lebih tinggi, meski memiliki risiko fluktuasi harga modal (capital loss),” kata Wahyu.
Baca Juga
Likuiditas Perbankan Lebih Ketat, BBRI & BBCA Masuk Daftar Saham Pilihan Mirae Asset
Meski demikian, investor perlu mempertimbangkan keseimbangan antara potensi pendapatan dividen dan risiko kerugian akibat penurunan harga saham. Risiko tersebut patut diwaspadai apabila koreksi harga disebabkan oleh pelemahan fundamental jangka panjang, seperti penurunan laba secara drastis atau lonjakan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang tidak terkendali.
Dalam kondisi saat ini, Wahyu menilai sentimen fundamental global dan isu MSCI menjadi faktor signifikan yang menekan pergerakan saham BBRI. Menurut dia, tekanan harga lebih banyak dipengaruhi sentimen makroekonomi dan arus keluar dana asing (capital outflow), bukan pelemahan bisnis inti perseroan. “Dengan asumsi DPS minimal bertahan atau mirip tahun sebelumnya, jika saham BBRI dibeli pada harga di bawah Rp 2.600, investor mengunci cash yield murni di atas 13%,” ujar Wahyu.
Menurut dia, secara matematis, dividen tersebut berpotensi mempercepat periode balik modal (payback period) menjadi sekitar 7–8 tahun, dengan asumsi arus kas dividen tetap terjaga dan tanpa memperhitungkan perubahan harga saham maupun faktor lainnya. “Ini membuat skenario income investing sangat masuk akal bagi investor jangka panjang,” tandasnya.
BBRI Layak Diakumulasi?
Koreksi harga saham BBRI dinilai membawa valuasi perseroan ke level yang menarik untuk dicermati investor berorientasi jangka panjang, terutama yang menerapkan strategi value investing.
Wahyu menilai, rentang harga Rp 2.400-2.600 layak dipertimbangkan sebagai area akumulasi bertahap bagi investor jangka panjang. Strategi tersebut dapat dilakukan melalui dollar cost averaging (DCA), yakni membeli saham secara berkala untuk mengelola risiko fluktuasi harga.
Baca Juga
IHSG Ditutup Anjlok 3,64% ke 4.996, Seluruh Sektor Saham Berguguran
Menurut Wahyu, salah satu pertimbangannya adalah rasio PBV sekitar 1,2 kali yang dinilai telah mencerminkan sebagian besar ketakutan atau pesimisme pasar. Kendati demikian, investor tetap perlu mengelola ukuran posisi investasi (position sizing) secara bijak. Volatilitas pasar global dan domestik masih berpotensi memicu fluktuasi harga dalam jangka pendek sebelum saham membentuk tren pemulihan atau reversal.
Wahyu menilai, penurunan tajam harga saham BBRI akibat sentimen ekstrem terkait MSCI merupakan fenomena yang dapat disebut sebagai “irasional yang rasional”. Banyak reksa dana global dan exchange-traded fund (ETF) institusional yang mereplikasi pergerakan indeks MSCI. Ketika muncul kekhawatiran terkait aksesibilitas pasar, perubahan status klasifikasi, atau penyesuaian indeks, manajer investasi global cenderung melakukan penyesuaian portofolio secara serentak.
Sentimen negatif terkait MSCI tersebut dapat memicu arus keluar dana asing yang menekan saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk BBRI, terlepas dari kinerja fundamental internal perusahaan pada kuartal berjalan. “Karena kapitalisasi pasarnya yang besar dan likuiditasnya yang tinggi, BBRI menjadi salah satu saham yang paling diperhitungkan oleh manajer investasi global,” ungkapnya.
Baca Juga
BRI (BBRI) Raih 2 Penghargaan BIFA 2026, Hery Gunardi Dinobatkan sebagai Best CEO Transformasi UMKM
Wahyu mengategorikan gejolak harga saham berkapitalisasi besar di IHSG saat ini sebagai tekanan psikologis jangka pendek yang tercermin melalui aksi jual panik (panic selling). Sebaliknya, investor yang berfokus pada fundamental atau value investor dapat memandang tekanan akibat sentimen makroekonomi dan indeks global seperti MSCI sebagai anomali pasar.
“Ketika harga saham tertekan hingga membuat valuasi rasio harga terhadap nilai buku (PBV) jauh di bawah rata-rata historisnya sementara dividend yield melonjak ke area double-digit, isu MSCI menjadi latar belakang eksternal yang memisahkan antara kepanikan jangka pendek dengan valuasi intrinsik jangka panjang dari bisnis inti BBRI itu sendiri,” pungkasnya.
