IHSG Diramal Sideways Sepekan, 3 Saham Ini Dibidik untuk Cuan: BBCA, ASII, EMAS
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi bergerak sideways atau berkonsolidasi pekan ini setelah terkoreksi tajam 11,57% hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) akhir pekan lalu. Investor disarankan untuk mencermati level support dan resistance dengan tiga saham pilihan BBCA, ASII, dan EMAS.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Ardy Irianto Subekti mengatakan, arah pergerakan IHSG masih dipengaruhi perkembangan isu Morgan Stanley Capital International (MSCI), arus dana asing, dan stabilitas harga minyak. Koreksi tajam membuka peluang terjadinya pemulihan teknikal (technical rebound). Namun, area gap down pada rentang 5.404–5.863,78 berpotensi menjadi resistance apabila IHSG mulai menguat.
“Penurunan yang dalam membuka peluang technical rebound, namun arah selanjutnya bergantung pada arus dana asing dan respons otoritas terhadap isu MSCI serta stabilitas harga minyak,” kata Ardy, Minggu (18/10/2026).
Baca Juga
IHSG Masih Berisko Lanjutkan Penurunan Hari Ini, Bakal ke Bawah Level 5.000?
Dalam skenario moderat, IHSG diperkirakan bergerak konsolidatif untuk membentuk dasar harga (bottoming) pada rentang 5.180–5.450. Pasar dinilai membutuhkan waktu untuk mencerna perkembangan isu MSCI setelah koreksi tajam dan penghentian sementara perdagangan.
Di tengah tekanan tersebut, aliran dana asing mulai menunjukkan indikasi awal bottom fishing atau pembelian saham saat harga terkoreksi. Salah satunya tercermin dari aksi beli bersih investor asing pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp473,3 miliar sepanjang pekan lalu. Ardy menyarankan investor menunggu konfirmasi candle bullish dengan volume di atas 5.233 sebelum mengambil posisi.
Dalam skenario optimistis, IHSG berpeluang rebound menuju level 5.600. Peluang menutup gap menuju area 5.800-an juga terbuka apabila BEI memberikan klarifikasi yang meyakinkan kepada MSCI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melanjutkan reformasi, dan harga minyak stabil.
Baca Juga
BBCA, MSCI, dan Paradoks Saham Berkualitas yang Terjun Bebas
Sebaliknya, IHSG berisiko melanjutkan pelemahan, apabila menembus level 5.000. Ardy memperkirakan indeks dapat bergerak menuju area 4.950–5.000 jika arus keluar dana asing akibat isu MSCI terealisasi dan eskalasi di Selat Hormuz mendorong rupiah melemah hingga melampaui Rp18.100 per dolar AS. “Pada skenario ini, aset defensif seperti emas dan cash menjadi pilihan,” ujarnya.
Adapun level teknikal yang perlu dicermati investor adalah support di 5.180, 5.000, dan 4.850. Sementara itu, resistance berada pada rentang 5.350–5.404, kemudian 5.600 dan 5.864.
Pilihan BBCA, ASII, dan EMAS
Menghadapi dinamika pasar, IPOT menyarankan investor menerapkan strategi defensif dan selektif dengan menjaga alokasi kas sebesar 30%–40% untuk melakukan akumulasi saham secara bertahap. Untuk perdagangan pekan ini, IPOT merekomendasikan strategi buy on breakout dengan disiplin menerapkan batas kerugian (stop loss) pada tiga saham, yaitu BBCA, ASII, dan EMAS.
1. Saham BBCA: Target Harga Rp6.225
IPOT merekomendasikan buy saham BBCA dengan level masuk di atas Rp5.950, target harga Rp6.225, dan stop loss di bawah Rp5.850.
Ardy menilai saham perbankan berkapitalisasi besar secara historis cenderung lebih cepat mengalami rebound karena memiliki likuiditas yang dalam. Saham kelompok ini juga menjadi salah satu sasaran utama investor asing ketika kembali masuk ke pasar saham.
Dari sisi fundamental, BBCA didukung pertumbuhan kredit yang berada di atas industri. Aksi beli bersih investor asing sebesar Rp473,3 miliar dalam sepekan juga menjadi salah satu indikator yang dicermati di tengah tekanan pasar.
Baca Juga
2. Saham ASII: Target Harga Rp5.200
IPOT merekomendasikan buy saham PT Astra International Tbk (ASII) dengan level masuk di atas Rp4.490, target harga Rp5.200, dan stop loss di bawah Rp4.470.
Menurut Ardy, ASII memiliki sejumlah katalis, termasuk dividen interim Rp98 per saham dengan dividend yield 2,12%. Cum date dividen dijadwalkan pada 12 Oktober, sedangkan pembayaran dilakukan pada 30 Oktober.
Katalis berikutnya adalah rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp8 triliun dalam 12 bulan, target rasio pembayaran dividen (payout ratio) sebesar 45%–50%, serta agenda Investor Day pada November 2026.
Agenda tersebut diharapkan memberikan kejelasan mengenai strategi capital recycling perusahaan. Selain itu, saham ASII mencatatkan aksi beli bersih investor asing sebesar Rp134,4 miliar dalam sepekan.
3. Saham EMAS: Target Harga Rp8.500
IPOT merekomendasikan buy saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dengan level masuk di atas Rp7.620, target harga Rp8.500, dan stop loss di bawah Rp7.400.
Ardy menilai EMAS dapat menjadi pilihan lindung nilai di tengah pelemahan rupiah dan kenaikan harga emas global. Pendapatan perusahaan yang berkaitan dengan harga emas global dan dolar AS melalui Proyek Emas Pani dinilai berpotensi diuntungkan ketika rupiah tertekan.
