Bitcoin Belum Keluar dari Tren Bearish, Trader Tunggu Breakout US$ 84.200
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin berada di kisaran US$81.000 pada perdagangan akhir pekan, Sabtu (17/10/2026) pagi waktu Asia setelah pulih dari level terendah mingguan di US$79.800. Pergerakan aset kripto terbesar tersebut masih menghadapi tekanan teknikal, dengan pelaku pasar memantau sejumlah level penting untuk menentukan arah harga selanjutnya.
Bitcoin saat itu menguji moving average 50 hari di level US$81.279 yang menjadi salah satu area penopang harga. Jika ditutup di bawah level tersebut, Bitcoin berpotensi kembali menguji area US$79.800.
Mengutip Cointurk, trader kripto Ardi menilai level US$84.200 menjadi area resistensi utama yang perlu ditembus Bitcoin untuk keluar dari struktur tren menurun jangka pendek. Sebelum mencapai level tersebut, harga perlu melewati level tertinggi harian terbaru di US$82.941.
Sejak sempat naik ke US$87.000 pada September, upaya pemulihan Bitcoin berulang kali membentuk titik tertinggi yang lebih rendah (lower highs). Pola tersebut menunjukkan tekanan jual masih membayangi pergerakan harga. Ia menyatakan baru akan mencari peluang beli apabila Bitcoin mampu menembus US$84.200 secara meyakinkan.
Analis Jesse Olson juga melihat momentum Bitcoin pada grafik harian masih cenderung bearish. Ia memperingatkan potensi terbentuknya penutupan harga terendah baru selama fase koreksi berlangsung.
Baca Juga
Bitcoin Sempat Jatuh di Bawah US$ 80.000, Kini Mulai Membaik
Indikator Aroon harian menunjukkan nilai 0% untuk sisi kenaikan dan 92,86% untuk sisi penurunan. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa titik terendah harga lebih baru terbentuk dibandingkan titik tertingginya dalam periode pengamatan.
Selain moving average 50 hari di US$81.279, Bitcoin memiliki penopang jangka panjang berupa moving average 200 hari di US$72.397. Rata-rata pergerakan 50 hari yang berada di atas rata-rata 200 hari masih memberikan sinyal positif dalam perspektif tren yang lebih luas.
Sementara itu, indikator mingguan menunjukkan kondisi yang relatif lebih kuat. Relative Strength Index (RSI) mingguan berada di 56,39, di atas rata-ratanya sebesar 51,80. Adapun indikator Supertrend mingguan masih menunjukkan sinyal positif di level US$66.812.
Baca Juga
Inflasi AS Melambung ke 3,7%, Bitcoin Jatuh ke Bawah US$ 82.000
Inflasi AS Jadi Risiko Pasar
Data likuidasi dan konsentrasi pesanan yang dipantau melalui CoinGlass menunjukkan area resistensi berikutnya berada di kisaran US$83.300–US$83.700 dan US$84.300–US$84.700. Di sisi bawah, konsentrasi dukungan terlihat di sekitar US$80.000 serta US$79.000–US$79.500.
Selain faktor teknikal, perkembangan inflasi Amerika Serikat (AS) turut menjadi perhatian pelaku pasar. Data yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan inflasi AS mencapai 3,7% pada September, meningkat dari 3,4% pada bulan sebelumnya.
Kenaikan inflasi berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter dan sentimen terhadap aset berisiko, termasuk kripto. Karena itu, pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek akan bergantung pada kemampuannya bertahan di area dukungan sekaligus menembus resistensi terdekat.
